Belajar Ikhlas Tanpa Menyerah, Kami Mulai Bertanya Kepada Tuhan
“Mengapa Belum Kami?”
Ada fase dalam hidup ketika doa tidak lagi hanya menjadi kebiasaan. Ia berubah menjadi tempat terakhir untuk bertahan. Dan kami pernah berada di titik itu.
Setelah bertahun-tahun menunggu, menjalani promil, menghadapi harapan yang datang lalu pergi, kami mulai sampai pada pertanyaan- pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah berani kami ucapkan.
“Mengapa belum kami?”.
Pertanyaan itu tidak muncul karena kami berhenti percaya kepada Tuhan. Justru, karena kami terlalu sering mengetuk pintu yang sama dengan harapan yang belum juga terbuka.
Awalnya kami berdoa dengan penuh keyakinan dan semangat. Kami percaya semuanya hanya soal waktu.
Tetapi, semakin lama menunggu, doa-doa kami mulai terdengar lebih lirih. Bukan karena harapan hilang.
Melainkan karena hati kami mulai lelah.
Ada malam ketika setelah sholat, saya duduk lebih lama sendirian. Rumah begitu tenang. Saya memandangi tangan yang masih terangkat sambil mencoba mencari jawaban dalam diam.
Saya bertanya kepada Tuhan tentang banyak hal.
Tentang mengapa ada pasangan yang begitu mudah mendapatkan anak, sementara kami harus menunggu selama ini.
Tentang mengapa doa yang terasa sederhana justru menjadi hal yang paling sulit kami raih.
Tentang apakah kami sedang diuji, dipersiapkan, atau hanya diminta belajar lebih sabar.
Tetapi semakin dewasa saya memahami hidup, saya sadar:
tidak semua pertanyaan langsung diberi jawaban.
Ada yang harus dijalani lebih dulu sebelum dimengerti. Dan jujur, menerima kenyataan itu tidak mudah.
Ada masa ketika saya merasa iri melihat keluarga kecil lain yang tampak begitu lengkap.
Saya melihat seorang ayah menggandeng anaknya di pusat perbelanjaan, atau seorang ibu yang sibuk menenangkan bayinya, lalu tanpa sadar hati saya bertanya, “Kenapa kami belum diberi kesempatan itu?”.
Kadang saya merasa bersalah karena pertanyaan itu muncul.
Bukankah kami seharusnya bersyukur atas banyak hal lain yang sudah Tuhan beri?.
Kami masih diberi kesehatan. Pekerjaan yang baik.
Pasangan yang saling mencintai.
Rumah yang hangat.
Tetapi, ternyata manusia tetap bisa merasa kosong meski hidupnya terlihat baik-baik saja. Dan mungkin itulah yang sedang kami alami.
Ada ruang dalam hati kami yang belum terisi. Ruang yang setiap malam kami sebut dalam doa.
Saya pernah melihat istri saya berdoa sambil menangis sangat pelan. Ia mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar.
Tetapi malam itu saya tahu, ia sedang benar-benar lelah.
Ia berkata dengan suara bergetar, “Aku cuma ingin dipanggil ibu”.
Kalimat itu menghancurkan saya dalam sekejap.
Karena di balik semua usaha yang kami lakukan, ternyata yang paling kami inginkan hanyalah hal sederhana yang bagi sebagian orang datang begitu mudah.
Sejak saat itu, kami mulai lebih banyak berbicara dengan Tuhan.
Bukan hanya meminta. Tetapi juga mengeluh. Bercerita. Menangis.
Bahkan kadang diam terlalu lama di atas sajadah karena tidak tahu lagi harus berkata apa.
Dan saya rasa, mungkin memang seperti itulah hubungan manusia dengan Tuhan, seharusnya: jujur.
Termasuk saat sedang kecewa. Termasuk saat sedang bingung. Termasuk saat iman terasa naik turun.
Kami mulai belajar bahwa menjadi orang beriman bukan berarti tidak pernah merasa sedih terhadap takdir.
Bukan berarti tidak pernah bertanya “mengapa”.
Karena bahkan hati yang paling sabar pun bisa lelah jika menunggu terlalu lama.
Namun di tengah semua pergulatan itu, ada satu hal yang perlahan kami pahami:
mungkin Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkan kami.
Mungkin selama ini Tuhan sedang menjaga kami dengan cara yang belum kami mengerti.
Ada banyak malam ketika setelah menangis, hati kami justru terasa lebih tenang.
Bukan karena masalah selesai.
Tetapi karena kami sadar, kami masih punya tempat untuk pulang: doa.
Dan perlahan, kami mulai belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan manusia.
Ada doa yang dijawab cepat. Ada doa yang dijawab perlahan. Ada juga doa yang jawabannya ternyata bukan seperti yang kita bayangkan.
Tetapi apa pun bentuk jawabannya nanti, kami tidak ingin kehilangan keyakinan bahwa Tuhan tetap baik.
Sebab jika perjalanan ini hanya tentang kesedihan, mungkin kami sudah menyerah sejak lama.
Namun, di sela-sela penantian itu, Tuhan masih memberi banyak hal untuk kami syukuri:
cinta yang tetap tinggal, pasangan yang saling menguatkan, dan hati yang meski lelah, masih mau berdoa.
Saya pernah membaca, bahwa Tuhan tidak selalu mengubah keadaan seseorang secepat yang ia minta.
Kadang Tuhan justru sedang membentuk hatinya selama proses menunggu itu berlangsung. Dan mungkin, itulah yang sedang terjadi pada kami.
Kami sedang belajar menjadi lebih sabar. Lebih lembut terhadap diri sendiri. Lebih memahami arti ikhlas. Lebih menghargai hal-hal kecil yang dulu sering dianggap biasa.
Perjalanan ini belum selesai.
Sampai halaman ini ditulis, kami masih menunggu. Masih berharap. Masih mengetuk pintu langit dengan doa-doa yang sama.
Tetapi, kini kami mulai memahami satu hal penting: bertanya kepada Tuhan bukan berarti kehilangan iman.
Kadang itu hanya tanda, bahwa seseorang sedang sangat berharap. Dan sejauh ini, harapan itu masih hidup di rumah kecil kami.
Penulis LM Azhar Sa’ban
Bersambung ➡️ Pernikahan yang Diuji Penantian …..
Baca bagian sebelumnya:









Komentar