Genangan Air, Banjir dan Pencitraan Politisi

Oleh: LM. Irfan Mihzan 
(Pemimpin Redaksi Kasamea.com)

“Bunga bunga dimana-mana”, betapa indahnya bila rimbunan, bermekaran bunga menghiasi berbagai sudut kotaku. Akan warna-warni, segar, menyejukkan, asri, dan sudah pasti memberi kesan menyenangkan, indah dipandang mata. Tak hanya bagi warga kotaku yang tinggal menetap mencari makan, tetapi juga bagi orang-orang yang sudi sekedar mampir datang berkunjung.

Aah sudahlah, untuk saat ini jangan terlalu berharap banyak akan indahnya bunga bunga itu dapat menjadi sebuah kenyataan, sebab mimpipun enggan menghampiri. Kotaku masih membiasakan diri dengan pemandangan “genangan air dimana-mana”.

Sains menunjukkan bahwa bunga memiliki manfaat bagi kehidupan manusia, dapat mengurangi stress, sebagai sarana terapi, meningkatkan perasaan nyaman, juga mempercepat pemulihan dari sakit. Tak hanya sampai disitu, bunga juga bermanfaat untuk peningkatan produktivitas dan kreativitas, serta yang tak kalah manfaat adalah bunga dapat memperbaiki kualitas udara.

Lanjut kita. Genangan air di berbagai sudut, yah beginilah wajah kotaku disetiap tahunnya, khususnya dimusim penghujan. Langganan dan terus berulang ada kolam dimana-mana. 

Dalam jalan ceriteranya, untuk fenomena genangan air ini juga terdapat alasan klasik yang mengiringinya. Ada yang bilang disebabkan karena curah hujan yang cukup tinggi selama berhari-hari, ada juga yang bilang karena geliat pembangunan rumah dan gedung yang demikian pesatnya, sembari menyalahkan resapan tanah lah. Apalah, dan apa lagi, sangat banyak permainan kata yang mereka pergunakan sebagai dalih. 

Woi masyarakat alergi dalih, menagih hasil dan dampak solusi.

Melihat, mendengar serta merasakan fenomena genangan air, terbesit tanya, apakah mungkin, melalui deras hingga rinai hujan, sehingga menimbulkan genangan air yang terus berulang setiap kalender berganti  ini, Sang Maha Agung hendak menunjukkan solusi untuk pemenuhan pelayanan air bersih bagi seluruh warga kotaku?. Bahwa negeri ini selalu disirami air hujan, meresap kedalam tanah, dan tidak kekeringan. Seharusnya air bukan mahluk langka di negeri “Sara Pataanguna”. Aah entahlah.

Belum lagi persoalan banjir yang setiap tahunnya juga akrab menyapa warga kotaku. Menyusahkan warga yang bermatapencarian sebagai petani. Banjir merusak tanaman, dan juga menggenangi rumah-rumah mereka. Belum lagi, dapat dipastikan hadirnya dapat menjadi kendala dalam menjalankan aktivitas lainnya. 

Masalah Kota Berkembang

Genangan air diberbagai sudut kota, dan banjir terkadang juga dikaitkan dengan permasalahan kota berkembang. Ini salah satu dalih lainnya. 

Baubau merupakan kota yang dinamis, didiami masyarakat yang hidup berdamping-dampingan dalam bingkai budaya. Pembangunannya pun menggeliat. Tetapi sesungguhnya Baubau ini kota apa?.  Sehingga permasalahan/persoalan genangan air diberbagai sudut kota, dan banjir, seolah tak kunjung tuntas. Yang terjadi tersebut, bisa diibaratkan orang sakit, disuruh minum obat, tetapi menyembuhkan sakintya untuk sementara waktu saja. Bukan sembuh total, atau bukan dilakukan pencegahan agar supaya tidak sakit. 

Bila pun Baubau adalah kota berkembang, tentu sudah sepantasnya, kenyamanan, ketenangan, kebahagiaan hidup masyarakatnya juga ikut berkembang. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan. Dibalik itu semua, ikut muncul permasalahan seperti pemukiman kumuh, kemiskinan, tindak kriminal/kejahatan, premanisme, dan sisi negatif lainnya. Menyangkut tata ruang yang buruk, lemahnya hukum, 

Sudah seyogianya perkembangan kota dibarengi dengan perkembangan “otak” dalam mengatasi seabrek permasalahan yang membayanginya. Profesionalitas, integritas, kesungguhan untuk mau melayani dengan sepenuh hati dari para abdi negara. Bukankah kata pepatah “dimana ada kemauan maka disitu ada jalan”. Jangan hanya mau menjabat, menikmati fasilitas negara, tapi tidak mampu memberikan jalan terbaik bagi kemaslahatan umat. 

Woi jangan bersenang-senang diatas penderitaan masyarakat, jabatan yang Anda emban itu bukan hanya untuk menumpuk pundi rupiah. Kalau tidak mampu menghadirkan solusi konkrit permasalahan kota ini, ya legowo, mundur lah. Serahkan ke ahlinya.

Estetika Wajah Kota

Kamus besar bahasa Indonesia menyebutkan estetika adalah kepekaan terhadap seni dan keindahan. Goethe dalam Nasution 2009 berpandangan bahwa estetika merupakan suatu bentuk yang indah, menghubungkan antara berbagai imajinasi antara seni dan keindahan. Estetika berkaitan dengan moral, etika, filsafat, dan religi yang pada masa sekarang dapat digoyangkan menjadi suatu keselarasan ideology. Estetika hanya akan dapat dirasakan dan dinikmati jika ia memiliki bentuk. Salah satu kebutuhan atau kelengkapan suatu kota memenuhi seluruh kebutuhan penghuni didalamnya adalah keselamatan sosial (security social safety), bahwa setiap orang menghendaki adanya kenyamanan dan keamanan didalam tempat yang mereka singgahi dan tinggali. Kota yang berestetik dapat menyediakan fungsi social safety dalam elemen mental map penyusunannya. 

Kebutuhan atau kelengkapan lainnya adalah keselamatan fungsional (functional safety), bahawa setiap orang menginginkan keselamatan kenyamanan. Kota yang dibentuk sedemikan rupa diharapkan dapat menjadi salah satu pendukung keselamatan individu dan seluru elemen didalamnya. Keselamatan seluruh fungsi baik fungsi ekonomi, sosial dan ekologi dapat terjaga dan tidak malah terdegradasi oleh adanya pembangunan kota. Selanjutnya orientasi, kota dengan estetika yang cukup baik dengan memainkan berbagai peran dan fungsi dapat menjadi orientasi bagi penghuninya. Promotion, yakni kota yang didesain sedemikian rupa hendaknya dapat dijadikan sebagai promosi potensi-potensi yang dimiliki oleh kota tersebut. Selain itu, kota sebagai pusat ekonomi menyediakan elemen-elemen yang dapat dijadikan sebagai ajang promosi dan periklanan bagi berbagai perusahaan dan instantsi/Lembaga. Kondisi seperti ini didalam kota hendaknya dapat diatur sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu kenyamanan dan keindahan didalam kota. Identity, bahwa kota yang ber-estetika dapat menjadi identitas bagi kota induk didalam suatu wilayah tertentu. Kota-kota seperti ini dapat mencirikan kekhasan dan keistimewaan yang dimilikinya. Identitas ini ditunjukkan oleh kelengkapan elemen mental map yang khas dan mampu menavigasi setiap pandangan dan pikiran orang yang berada didalamnya. Berikut ambience, surroundings (lingkungan, suasana), yaitu, suasana didalam kota mencerminkan bagaimana perilaku dan sikap didalam kota itu. Estetika kota berperan dalam pembentukan suasana agar tetap menarik, mampu memainkan dan menarik seluruh panca indera untuk menikmati keberadaan kota tersebut. Paling ujung adalah entertainment, ialah ketersediaan sarana hiburan dapat menjadi pelengkap elemen kota. Penerapan estetika kota berperan sebagai salah satu penunjang rekreasi dan wisata bagi para penghuninya. (Novriyanti : novriyanti.staff.unja.ac.id). 

Estetika tak hanya menyangkut aspek fisik, konstruksi, perencanaan, penataan kota, melainkan juga mengakomodir keterpenuhan cipta, rasa, dan karsa masyarakat, melalui pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan, pembangunan. Menjadi tidak masuk akal bila hendak menciptakan kota ber-estetika, namun dengan genangan air diberbagai sudut kota, juga banjir yang masih terus saja terjadi. Lantas bagaimana mau membentuk satu identitas daerah yang kuat, zona sentral perekonomian, dan hiburan berpusat. Boro-boro menjadikan kota sebagai magnet investasi pelaku visitasi, para perantau sukses pun enggan untuk pulang membangun masa depan. 

The Right Man on The Right Place


Kita sama mengharapkan pemerintah daerah hadir untuk memenuhi tugas dan kewajibannya sebagai alat pemerintahan negara. Mewujudkan tercapainya tugas dan kewajiban pemerintah daerah tentu tak lepas dari terciptanya organisasi perangkat daerah yang disisi insan insan aparatur terpilih, berdayaguna, yang berfokus pada konsep the right man on the right place, yakni organsasi memanfaatkan, mengelola sumber daya manusia sesuai dengan tempat, jabatan, pekerjaannya.

Konsep the right man on the right place dapat terimplementasi karena dipengaruhi oleh faktor individu, dinas, dan lingkungan. Bosku, sumber daya manusia penggerak untuk mencapai target, tujuan, sasaran pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah. Manusia memiliki peran penting dan utama. Menyusul faktor sekunder lainnya dalam merealisasikan pelayanan prima pemerintah daerah, yang meliputi: melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan, dan kerukunan nasional, serta keutuhan negara kesatuan republic Indonesia, meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, mengembangkan kehidupan demokrasi, mewujudkan keadilan dan pemerataan, meningkatkan pelayanan dasar pendidikan, menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan, menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak, mengembangkan sistem jaminan sosial, menyusun perencanaan dan tata ruang daerah, mengembangkan sumber daya produktif di daerah,melestarikan lingkungan hidup, mengelola administrasi kependudukan, melestarikan nilai sosial budaya, membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya, dan kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. (Pasal 22 UU 32/2004).

Blusukan
Latah

Masuk ke suatu tempat dengan tujuan untuk mengetahui sesuatu atau blusukan populer fi Indonesia dari aktivitas seorang politisi hebat, Joko Widodo. Nama pengusaha sukses yang kini menjadi Presiden RI dua periode ini, melambung tinggi diatas angina saat mendominasi jagad pemberitaan media, baik media pers, maupun media sosial. Tercatat sejak mengikuti kontestasi politik Pemilihan Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, sampai 01 RI, citra positif Joko Widodo tak terbendung. Personal branded kuat menancap dibenak juga hati konstituen akan sosok, karaktek kepribadiannya, sehingga dipilih mayoritas rakyat Indonesia. Opini publik ter-framing “Dialah sosok terbaik, sosok sederhana, pelayan rakyat yang selama ini diidam-idamkan”.

Sejak itu blusukan semakin identik dengan aktivitas politik para politisi. Tak hanya di pusat, blusukan pun kerap digunakan politisi untuk meraih simpatik, mengangkat citra positif dihadapan publik, termasuk pula dilakukan oleh para politisi di daerah. Sehingga saat ini cukup sulit untuk membedakan antara blusukan sebagai implementasi kinerja dalam merealisasikan berbagai komitmen / janji politik kepada masyarakat, dengan blusukan sekedar bagian dari pencitraan politik semata, memenuhi tanggung jawab saja. 

Menjawabnya, bisa dengan mencermati, mengawasi secara periodik, secara terukur hasil serta dampak dari blusukan yang dilakukan para politisi. Sebab publik sudah paham menilai retorika dan gestur yang itu-itu saja.

Satu contoh, setiap terjadinya genangan air diberbagai sudut kota, dan banjir, publik di kota Baubau khususnya akan langsung bereaksi, menuntut langkah konkrit pemerintah daerah untuk mengatasinya. Tanpa menunggu lama, para pemangku kebijakan segera bertindak, merespon reaksi publik dengan turun langsung memantau di titik terjadinya genangan air, atau banjir. Ramai kamera ikut mengabadikan, sorot media sosial maupun media pers ikut bersumbangsih. Tayanglah berbagai argumentasi bijak menyemangati nalar publik.

Blusukan merupakan instrumen komunikasi politik, yang didalamnya terselip pesan secara verbal, dan dapat pula tersaji dengan non verbal (bila diangkat media non pers maupun media pers) yang terkandung maksud agar dapat tersampaikan ke publik, dan mendapat kesan citra positif. Pendapat Plano, bahwa komunikasi politik merupakan proses penyebaran arti, makna atau pesan yang bersangkutan dengan fungsi suatu sistem politik. Komunikasi politik dengan blusukan dianggap potensial untuk mempengaruhi, menjaring simpati publik atas kefiguran seorang politisi. Namun dalam konteks permasalahan genangan air diberbagai sudut kota, dan banjir di negeri “Sara Pataanguna”, dapat pula menjadi boomerang bagi sang politisi, bila ternyata blusukannya tidak mendatangkan manfaat, tidak efek dalam menyudahi problem yang ada. Kesan negatif berkembang menjadi isu publik, seterusnya membentuk opini, mengikis kepercayaan, terakhir lahir embrio framing negatif “sudah-sudahmi pencitraan bosku, rakyat yang penting bukti, bukan akting politisi”. (*)










Komentar