“Koruptor Pujaan Hati”

Catatan LM. Irfan Mihzan

(Pendiri – Pemred Kasamea.com)

“Telah menceritakan kepada kami Al Aswad bin ‘Amir telah bercerita kepada kami Abu Bakar bin ‘Ayyasy dari Laits dari Abu Al Khoththob dari Abu Zur’ah dari Tsauban berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melaknat orang yang menyuap, yang disuap dan perantaranya (broker, makelar).” (Musnad Ibn Hanbal, jilid. 5, halaman 279).

“Kaki di kepala, kepala di kaki,” penggalan lirik lagu yang dinyanyikan Ariel bersama group Band-nya yang papan atas. Saya menggambarkan lirik ini ekspresi atas suatu kondisi dimana logika sudah terbolak-balik.

Tersebutlah kisah oknum yang terjerat kasus tindak pidana korupsi. Publik figur/pemimpin/tokoh yang seharusnya menjadi panutan masyarakat atas tindak tanduk tingkah laku pikiran perbuatannya. Khususnya bagi para generasi muda penerus bangsa.

Kita kerap dipertontonkan dramatisasi seorang narapidana tipikor yang mempertanggungjawabkan perbuatannya sehingga harus menjalani hukuman hidup dibalik kerangkeng besi selama bertahun-tahun. Tanpa terasa, isu serta berbagai lika liku informasi tentangnya pun tenggelam bak ditelan bumi. Kharisma, aura kepemimpinan sirna, kian memudar.

Sesuatu yang mengejutkan terjadi, seketika menghentak, menarik perhatian publik, kabar akan keluarnya dari hotel prodeo pun dikemas apik. Mengesankan betapa masyarakat merindu nian nelangsa akan wujud kehadirannya.

Penyambutan Bernuansa Kearifan Lokal

Euforia penyambutan mulai menggema seantero negeri. Bahkan seolah kehadirannya kembali menghirup udara segar telah lama dinanti-nantikan. Biar elegan sekalian saja penyambutan koruptor disertai dengan prosesi pengalungan bunga atau tari tradisional bernuansa kearifan lokal.

Pertanyaannya, apakah masyarakat yang menyambut koruptor bebas ini memendam serta menjiwai rasa/emosional yang utuh, jernih, tulus?. Setulus mereka menyambut Apriyani Rahayu ketika pulang membawa medali emas yang diraihnya karena prestasi menjuarai kejuaraan dunia?. Tak hanya mengharumkan nama Sultra, Apriyani mengharumkan Indonesia di mata dunia. Betapa dia dan rekannya Greysia Polii telah mengangkat wibawa negara ini, menempatkan harkat dan martabat kita pada posisi yang seharusnya, sebagai satu bangsa besar, bangsa yang kuat. Luar biasa bangganya kita.

Masih membekas pula ketika seorang Fildan Rahayu sang satria bergitar mengangkat wibawa Sultra dalam ajang lomba bergengsi yang disiarkan stasiun televisi nasional. Betapa heroiknya pemuda berbakat seni ini memukau jutaan penduduk Indonesia, bahkan mancanegara. Prestasinya seketika menyadarkan kita, membuka mata dunia, bahwa buni Anoa memiliki talent yang tak kalah hebat dengan daerah lainnya. Raja dangdut pun disematkan kepada Fildan Rahayu. Sultra punya artis, selebritis ternama.

Fildan dan Apriyani hanyalah dua diantara ribuan putera puteri terbaik Sultra lainnya, yang mampu mengukir prestasi karena atas upaya belajar/latihan keras, serta doa yang tak henti mereka panjatkan. Mereka ini bukan publik figur karbitan, bukan pula anak pejabat, pengusaha sukses yang bergelimangan harta. Bahkan mereka ditempa dalam hidup yang sederhana. Kerjakeras dan doa lah yang mengantar mereka menggapai prestasi, serta prestise.

Koruptor

Kembali ke koruptor. Koruptor adalah pelaku tindak pidana korupsi yang sudah terbukti bersalah dan menjalani hukuman yang dijatuhkan atas perbuatannya. Koruptor adalah orang yang melakukan korupsi..

Korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan, organisasi, dan sebagainya). Memberantas korupsi, negara membuat UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tipikor. Yang sebelumnya telah diatur dalam UU No 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidan, UU No 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.

Diungkapkan Firli Bahuri Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK RI) dalam lemhannas.go.id, bahwa korupsi mengganggu suatu negara dalam mewujudkan tujuannya, Korupsi adalah kejahatan luar biasa, yang bukan hanya kejahatan merugikan uang negara, tetapi dapat berdampak pada seluruh program pembangunan, kualitas pendidikan menjadi rendah, kualitas bangunan menjadi rendah, mutu pendidikan jatuh, serta kemiskinan tidak tertangani.

Menurut Firli Bahuri, jika uang negara dikorupsi, maka program-program untuk mewujudkan tujuan negara tidak bisa berjalan dan mengakibatkan negara gagal. Korupsi adalah kejahatan merampas hak rakyat, dan korupsi juga merampas hak asasi manusia. Korupsi juga melawan kemanusiaan.

Pemimpin Koruptor

“Teladan adalah kepemimpinan,”. (Albert Schweitzer).

Pemimpin adalah orang yang memimpin. Yang banyak terjadi, perilaku korupsi justru datang dari orang-orang yang memimpin atau menduduki posisi strategis dalam suatu organisasi pemerintahan, perusahaan, partai politik, dan lainnya.

Mereka dengan leluasa melakoni kekuasaan sehingga mendapatkan atau sanggup menciptakan celah untuk korupsi. Bagi pemimpin koruptor, bawahan tak ubahnya alat untuk memperoleh yang mereka inginkan. Bawahan yang baik manut pada perintah atasan/pemimpin, terlebih bila bawahan juga bisa meraup untung. Maka berjamaalah mereka dalam suatu kesatuan rasuah.

Donald Walters menuliskan bahwa Kepemimpinan adalah sebuah kesempatan untuk melayani. Sejatinya seorang pemimpin tentu saja yang melayani dengan sepenuh hati, dan menganggap jabatan sebagai amanah, titipan, untuk membawa perubahan, ke arah yang lebih baik.

Kepemimpinan adalah seni memengaruhi orang lain agar mereka melakukan dengan suka rela apa yang Anda ingin mereka lakukan. (Dwight D. Eisenhower). Pemimpin koruptor akan mengalami kendala untuk tetap bisa mempengaruhi orang lain, sebab dimata publik, perilaku korupsi mencederai norma serta nilai sosial. Apalagi dikaitkan dengan kriteria kepemimpinan dalam nilai agama. Ini tentang susila, perilaku yang baik, terpercaya, jujur, dan bersih.

Pemimpin koruptor dinilai sudah cacat. Dan sangat sulit untuk mengembalikan kepercayaan publik yang sudah merasa tersakiti. Sehingga tanpa pengikut masih bisakah seseorang disebut pemimpin?.

Bila seorang pemimpin koruptor masih memiliki pengikut yang loyal dan militan, besar kemungkinan pengikut tersebut memiliki kedekatan esmosional, karena hubungan keluarga, kerabat, atau pernah mendapatkan keuntungan, bantuan yang mengesankan. Ibarat kata pengikut yang seperti ini hanya pengikut yang membalas budi. Atau bisa jadi juga karena pengikut tersebut masih melihat peluang untuk mendapatkan keuntungan baik jabatan tertentu atau secara materi.

Rakyat merindukan seorang pemimpin koruptor?. Moral clarity (kejernihan moral) masyarakat diuji. Begitupun sang koruptor, masihkah ia merasa agung dengan label koruptor yang melekati personal brandingnya?.

Tantangan terbesar seorang pemimpin koruptor adalah bagaimana ia bisa tetap memiliki pengaruh (bisa mempengaruhi), dan bagaimana ia mempertahankan, serta mendapatkan pengikut. Memimpin juga identik dengan seni mempengaruhi, dan seorang pemimpin memiliki kemampuan seni mempengaruhi. Tetapi bukankah esensi seni adalah ungkapan nilai kejujuran, keaslian, suci dan tidak bisa ternodai dengan fake (kepalsuan).

Akan tetapi, kemungkinan lainnya, individu dalam kelompok masyarakat pemuja koruptor tengah ada dalam pementasan drama “stockholm syndrome”. Sehingga ia tetap kagum, simpatik, memuja sang koruptor.

Catatan kecil: “Kepemimpinan yang fake akan mendapati pengikut yang juga dipenuhi fake”. (*)

Komentar