La Ode Sabaruddin “Pahit Getir Perjalanan Hidup Sang Direktur Utama”

La Ode Sabaruddin SPd “Loyalitas, integritas, pengabdian tanpa batas untuk negeri”

La Ode Sabaruddin SPd, nama ini populer dikalangan organisatoris dan aktivis LSM dimasanya, termasuk para politisi, juga birokrasi serta masyarakat di Kepulauan Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sutra). Salah seorang tokoh yang perjalanan karirnya cukup menginspirasi, terlebih setelah pencapaiannya, sampai pada titik menduduki posisi Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Buton (PDAM Buton).

Proses panjang yang dilakoninya, penuh kegigihan, kerja keras, ketekunan, keuletan, kesabaran, tak luput doa yang tak henti dipanjatkan, menghantarkannya diberi kepercayaan oleh Samsu Umar Abdul Samiun (saat masih menjabat Bupati Buton) dan La Bakry (Bupati Buton saat ini), untuk menahkodai PDAM Buton.

Namun siapa sangka, lika-liku pahit getir perjalanan hidup pernah dilaluinya. Masa-masa sulit, sebelum ia menempati posisi puncak seperti saat sekarang ini.

Perbincangan sekitar 30 menit bersama Sabaruddin, tampak kesederhanaan, tenang serta bijaknya seorang pemimpin. Intonasi dalam setiap tutur katanya, menunjukkan ketegasan.

Ia asli putera Buton, Wakatobi. Lahir di Kulati Pulau Tomia Kabupaten Wakatobi, 9 September 1975, Sabaruddin menamatkan pendidikan dasar di sebuah sekolah dasar negeri di Kulati. Kemudian melanjutkan bersekolah ke jenjang menengah pertama di SMP PGRI Timu hingga tamat.

Sekolah menengah atas, Sabaruddin sempat mengenyam pendidikan di SMAN Tomia sampai dengan kelas 2 semester 2. Selanjutnya ia pindah sekolah di SMA Suasiu di Maluku Utara Halmahera Tengah (saat ini Kota Tidore). Kondisi perekonomian keluarga yang serba kekurangan menjadi penyebab ia harus pindah sekolah, mengikuti kakaknya yang baru lulus sebagai pegawai negeri sipil. Kakaknya yang membantu biaya sekolah Sabaruddin hingga menamatkan SMA tahun 1996.

Tamat SMA, anak kampung inipun mencoba peruntungan tes UMPTN di Kota Makassar. Namun keberuntungan belum berpihak kepadanya, yang dinyatakan tidak lulus masuk perguruan tinggi negeri. Baru kemudian saat ia mengulang mengikuti tes UMPTN tahun 1997, ia lulus masuk Universitas Haluoleo (Unhalu) jurusan bahasa dan sastra Indonesia, di Kendari Ibu Kota Sultra.

Sebagai seorang pejabat daerah, yang kini sudah mencapai karir cemerlang, La Ode Sabaruddin mengurai singkat penggalan kisah perjalanan hidupnya.

Buruh Pikul dan Pengumpul Batu

Kisah pilu, sebab untuk tetap bersekolah Sabaruddin kecil harus sambil bekerja sebagai buruh pikul dan pengumpul batu. Saat itu ia masih duduk dibangku sekolah dasar. Mengingat masa-masa itu, Sabaruddin sempat termenung sesaat, mensyukuri betapa kuasa Illahi yang telah memberinya kekuatan, menuntunnya dari masa sulit hingga menuai kebahagiaan seperti saat sekarang ini.

Ditengah panas terik mentari, rinai hingga derasnya hujan, Sabaruddin kecil terus mengayuh langkah kaki, memikul pasir yang diisi dalam wadah keranjang, atau karung. Tubuh kecilnya harus mengangkat beban seberat itu, mengantarnya dari tepi pantai ke darat, menanjaki bukit dengan ketinggian sekitar 100 meter.

Sabaruddin kecil juga menekuni bekerja mengumpulkan batu untuk pembuatan batu bata, memanjat pohon kelapa dan memetik buahnya, hingga menjual ikan hasil tangkapan ayah tercinta.

Bila ditanya apakah ia tidak lelah?. Tentu ia pasti juga merasakan lelah, dan itu manusiawi, seorang bocah mengerjakan pekerjaan seberat itu. Namun ia tetap menikmatinya, seolah menjadi bagian dari rutinitasnya mengisi waktu, sembari bermain sepulang sekolah. Ia tidak merasa terpaksa, apalagi dipaksa. Bagi Sabaruddin kecil, ia hanya harus bersabar melewati ini semua, untuk tetap terus bersekolah, hingga menggapai mimpi membahagiakan kedua orangtuanya.

“Saya lahir dan tumbuh dalam keluarga tidak mampu, kedua orang tua saya petani, jadi dari sisi kehidupan kami memang sangat terbatas. Tapi tekad saya membantu orang tua, dan tetap sekolah,” kata Sabaruddin. Bersekolah sambil bekerja paruh waktu ini dijalani La Ode Sabaruddin sejak kelas 4 SD, sampai kelas 2 SMA.

Tak hanya memikul pasir, ia juga memikul karung terigu, kayu, dan barang lainnya. Menjual ikan hasil tangkapan ayahnya, ia berkeliling kampung. Bahkan tak jarang harus menjual ikan ke kampung sebelah, semata untuk mendapatkan uang yang kemudian diberikan kepada orang tuanya.

Kedua orang tua Sabaruddin bertani ubi kayu, yang hasil panennya hanya untuk makan sehari-hari. Dari ikan hasil tangkapan sang ayah, yang kemudian dijual itulah, keluarganya mencukupi kebutuhan hidup lainnya.

Sabaruddin anak ketiga dari lima bersaudara. Seorang kakaknya bisa disekolahkan ayah ibunya hingga lulus sarjana, dan seorang kakaknya lagi harus rela putus sekolah ditingkat SMA. Sebab keterbatasan perekonomian keluarga.

Ia saat itu masih bisa bersekolah karena masih duduk dibangku sekolah dasar, dengan dua adiknya yang masih kecil. Karenanya ia harus bersekolah sambil bekerja paruh waktu membantu kedua orang tuanya.

Ayahnya terkadang juga pergi berlayar menjadi anak buah kapal, namun semua tergantung keberuntungan, dan tetap saja tidak bisa menjadi solusi atas kondisi perekonomian keluarganya.

Sabaruddin sangat memaknai ketabahan ayah ibunya dalam menjalani kehidupan, dengan penuh keikhlasan menerima segala yang dikehendaki Allah SWT.

Dari situlah terbesit dan terpatri dalam dirinya, untuk tetap bersekolah dan optimis dapat merubah nasib, lebih dari orang tuanya. Semangat itulah yang menguatkannya tetap berdiri tegak, terus melangkah menapaki kerasnya kehidupan.

“Saya yakin dalam diri, bahwa suatu saat nanti saya tidak harus jadi seperti orang tua saya. Saya harus lebih dari orang tua saya. Paling tidak, saya bisa berkontribusi membiayai kehidupan mereka,” ucapnya.

Malas Lapar, Rajin Kenyang

“Kalau kau malas kau lapar, kalau kau rajin kau kenyang (Bahasa Tomia: Fale menturu fale bila, fale mangare fale monguru)” pesan Ayahanda tercinta La Ode Sabaruddin.

Sabaruddin hingga saat ini masih terus mengingat nasehat ayahnya tersebut, yang semasa hidupnya terus menunjukkan kepada anak-anaknya agar tak henti bekerja keras, tidak berputus asa, dan terus berdoa, menghamba kepada Sang Khalik.

Ibundanya tercinta juga menitip pesan kepada Sabaruddin. Pesan ini menurutnya bermakna hidup berhemat, dan demi menjaga kesehatan diri. Sehingga sampai saat ini ia masih terus memegang teguh pesan sang Ibu.

“Lihat kehidupan orang tuamu, jangan merokok, fokus sekolah (kuliah) saja. Karena kalau kamu merokok sama dengan kamu menghisap tulang orang tuamu sendiri,” demikian pesan sang Ibu.

Konsistensi ini terus dijaga Sabaruddin, sejak dulu masa SMA, sampai berkuliah, dan memimpin PDAM Buton. Meskipun saat ini ia sudah berkecukupan, dan bisa membeli rokok, namun karena pesan Ibunda tercinta, ia memilih untuk tetap tidak merokok.

Baktinya kepada ayah bunda terus ia lakukan sampai kini, meskipun kedua orang tercintanya tersebut telah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta.

Sabaruddin selalu terkenang, betapa pengorbanan kedua orangtuanya agar kakaknya tetap kuliah. Sampai harus rela menggadaikan barang berharga yang masih tersisa. Termasuk, meskipun harus menanggung utang berbunga.

Sabaruddin juga mengingat, saat itu ia masih SMP, sehingga ia masih bisa tetap sekolah. Sedangkan kakak perempuannya harus berhenti bersekolah, karena orang tua tidak mampu, sudah tidak punya uang.

“Ketika kakak saya selesai kuliah dan menjadi PNS di Tidore, saat itu saya pindah sekolah disana, karena kakak saya yang biayai sekolah saya. Di kampung orang tua sudah tidak mampu membiayai sekolah kami. Bahkan kakak perempuan saya harus berhenti sekolah, karena orang tua sudah tua dan tidak mampu lagi membiayai,” ceritanya.

Sabaruddin bersekolah SMA di Tidore dengan dibiayai kakaknya. Sementara kedua orang tuanya tinggal membiayai dua adiknya. Keduanya tidak bisa melanjutkan kuliah, karena persoalan biaya.

Sabaruddin sempat pula mengikuti pamannya bekerja mengantar kopra dengan menggunakan mobil truk dari Probolinggo ke Surabaya. Memikul berkarung-karung kopra ini dijalaninya setelah tidak lulus tes UMPTN 1996.

Janji Bahagiakan Orang Tua

La Ode Sabaruddin telah berjanji untuk membahagiakan kedua orangtuanya. Tak cukup hanya dengan menjadi buruh pikul, pengumpul batu, pemetik buah kelapa, serta penjual ikan keliling kampung, ia bertekad lebih dari sekedar itu semua.

Kebiasaannya membawa pulang uang hasil kerjanya ke rumah, sejak SMP ia sudah berjanji dalam diri untuk membahagiakan kedua orang tuanya.

“Uang hasil kumpul batu itu saya bawa pulang untuk orang tua saya. Pada saat itu juga kakak saya bikin dan jualan kue, saya belikan terigu dan mentega dari Onemay saya bawa pulang ke Kulati,” katanya.

Dibangku kuliah semester III, biaya kuliah Sabaruddin sudah tidak dibantu oleh kakaknya. Karena prestasinya, ia mendapatkan beasiswa jalur prestasi akademik.

Meskipun biaya kuliahnya sudah ditanggung oleh negara, namun ia tidak berpangkutangan. Semangat kerjanya, kebiasaannya mengumpulkan uang terus dilakoni. Ia tetap melakukan kegiatan atau pekerjaan apa saja yang penting halal, untuk mendapatkan uang.

Ia pun mengikuti penelitian perbandingan pendidikan antar negara. Memimpin sebagai ketua tim di Unaaha, ia bersama rekan mahasiswanya masuk ke beberapa sekolah untuk meneliti.

Selain itu, Sabaruddin juga membantu membuatkan proposal, penelitian hingga skripsi. Khususnya untuk mahasiswa para guru kualifikasi. Mereka yang mengalami kesulitan, Sabarudin hadir untuk membantu.

“Jadi apapun yang saya lakukan yang penting menghasilkan uang halal. Selain untuk kebutuhan kuliah, saya bawa pulang juga ke orang tua di Tomia, dan membelikan sepatu untuk adik saya,” kenangnya. Bersambung …..

[La MIM]

.

Komentar