Malam-malam yang Terlalu Sunyi


“Ketika Rumah Terasa Sangat Sunyi”

Sunyi, ada waktu-waktu tertentu ketika kesepian terasa lebih keras di malam hari.

Siang masih bisa disibukkan oleh pekerjaan, aktivitas kampus, pasien, rapat, atau percakapan dengan banyak orang.

Tetapi malam selalu berbeda. Malam memberi ruang bagi pikiran untuk berbicara lebih jujur.

Dan di rumah kami, ada malam-malam yang terasa terlalu sunyi.

Setelah menjalani promil, konsultasi, pemeriksaan, dan berbagai usaha lainnya, hidup kami perlahan berubah menjadi lebih sensitif.

Kami masih tertawa seperti biasa. Masih bekerja. Masih menjalani rutinitas harian. Tetapi jauh di dalam hati, kami sama-sama lelah.

Hanya saja, kami tidak selalu tahu bagaimana cara mengungkapkannya.

Ada malam ketika kami duduk di ruang tamu tanpa banyak bicara. Televisi menyala, tetapi tidak benar-benar kami tonton.

Kadang salah satu dari kami sibuk memainkan ponsel hanya untuk menghindari percakapan yang sebenarnya sama-sama ingin dibicarakan.

Tentang harapan yang kembali gagal. Tentang rasa takut. Tentang pertanyaan:
“Apakah kita akan terus seperti ini?”

Rumah kami sebenarnya nyaman. Hangat. Tenang. Tetapi di fase-fase tertentu, rumah itu terasa begitu sepi.

Bukan karena tidak ada suara. Melainkan karena ada seseorang yang belum hadir di dalamnya.

Saya mulai menyadari bahwa kesunyian memiliki bentuk yang berbeda bagi pasangan pejuang garis dua.

Kesunyian itu hadir ketika melihat kamar kosong yang dulu pernah kami bicarakan akan menjadi kamar anak.

Kesunyian itu hadir ketika mendengar suara anak kecil bermain di rumah tetangga.

Kesunyian itu hadir ketika malam terlalu panjang dan kami tidak tahu lagi harus menghibur hati dengan cara apa.

Ada satu malam yang sangat saya ingat. Hujan turun cukup deras di luar rumah. Lampu ruang tamu sengaja kami matikan, hanya menyisakan cahaya kecil dari dapur.

Istri saya duduk diam sambil memeluk lututnya di sofa. Saya duduk di sampingnya.

Tidak ada percakapan panjang malam itu. Sampai akhirnya ia berkata pelan, “Rumah kita sepi ya”.

Kalimat sederhana. Tetapi entah mengapa, rasanya seperti sesuatu yang menekan dada saya begitu dalam.

Saya tahu yang ia maksud bukan tentang rumah. Ia sedang bicara tentang hati kami.

Tentang ruang kosong yang selama ini sama-sama kami rasakan tetapi jarang benar-benar kami ucapkan.

Saya menggenggam tangannya perlahan. Dan malam itu kami hanya duduk bersama dalam diam.

Kadang cinta tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata. Kadang cinta hanya tentang tetap tinggal di samping seseorang ketika hidup sedang terasa berat.

Di malam-malam seperti itu, saya sering memikirkan banyak hal.

Tentang bagaimana hidup bisa berubah begitu cepat.

Dulu kami membayangkan rumah ini akan ramai oleh suara tangisan bayi.

Kami pernah membicarakan warna dinding kamar anak.

Pernah bercanda tentang siapa yang akan lebih panik kalau bayi menangis tengah malam.

Tetapi sekarang, yang kami dengar justru suara jam dinding dan hujan yang jatuh perlahan di luar rumah.

Dan jujur, ada saat-saat ketika kesunyian itu terasa menyakitkan.

Saya pernah terbangun tengah malam dan melihat istri saya belum tidur. Ia sedang menatap langit-langit kamar dengan mata kosong.

“Kok belum tidur?” tanya saya pelan.

“Nggak bisa,” jawabnya singkat.

Saya tahu pikirannya sedang penuh.

Kadang ia terlihat sangat lelah oleh sesuatu yang bahkan tidak bisa disentuh secara nyata.

Dan mungkin itulah beratnya penantian: luka itu tidak terlihat, tetapi perlahan menguras hati seseorang sedikit demi sedikit.

Ada malam ketika kami berdoa bersama setelah sholat. Dalam cahaya redup kamar, kami duduk berdampingan sambil mengangkat kedua tangan dengan harapan yang sama.

Doa kami sederhana. Sangat sederhana.

Tentang seorang anak.

Tentang sebuah keluarga yang terasa lebih lengkap.

Tentang hati yang ingin diberi kekuatan untuk terus bertahan.

Lalu setelah berdoa, biasanya rumah kembali sunyi. Tetapi anehnya, di tengah kesunyian itu kami tetap memilih saling menggenggam.

Karena kami sadar, perjalanan ini mungkin masih panjang.

Dan satu-satunya cara agar kami tidak hancur adalah dengan memastikan bahwa kami tidak berjalan sendirian.

Di luar sana, mungkin banyak orang berpikir penantian hanya tentang belum hadirnya anak. Padahal lebih dari itu, penantian juga tentang bagaimana menjaga diri agar tidak tenggelam dalam kesedihan terlalu dalam.

Tentang bagaimana tetap tertawa meski hati sedang lelah.

Tentang bagaimana tetap percaya meski doa terasa belum menemukan jalannya.

Dan di malam-malam yang terlalu sunyi itu, kami belajar satu hal penting: kadang yang paling dibutuhkan manusia bukan jawaban. Melainkan seseorang yang tetap tinggal.

Seseorang yang tidak pergi meski keadaan belum berubah.

Seseorang yang tetap berkata, “Tidak apa-apa, kita jalani bersama”.

Mungkin itulah alasan kami masih mampu bertahan sampai hari ini.

Bukan karena kami selalu kuat.
Tetapi karena setiap kali salah satu dari kami mulai runtuh, yang lain memilih tetap menggenggam lebih erat.

 

Penulis LM Azhar Sa’ban

Bersambung ➡️

Bagian III Belajar Ikhlas Tanpa Menyerah

Kami Mulai Bertanya Kepada Tuhan …..

 

Baca juga bagian sebelumnya:

 

Komentar

News Feed