oleh

Potret Keikhlasan Guru Honorer di Desa Terpencil Waloindi Wakatobi

WAKATOBI

Juel Gadril, nama ini tak se-Populer nama seorang selebritis, juga tak se-borjuis anak seorang pejabat, Ia hanyalah seorang Guru Honorer yang mengabdikan diri disebuah Desa terpencil, Desa Waloindi Kecamatan Togo Binongko Kabupaten Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara. Berbekal ilmu yang didapatkannya hingga menyandang Sarjana Pendidikan, Juel Gadril mengawali abdinya sebagai Pendidik di Yayasan Pendidikan Islam MTs Waloindi.

Meski hanya dengan gaji pas pasan, sejak pertama kali bertugas, Senin 29 September 2014, Ia rela tinggal disebuah ruangan berukuran 4×6 meter bekas ruang Laboratorium Komputer, tanpa lampu listrik sekalipun, tak menyurutkan niat tulus ikhlasnya. Tekadnya mencerdaskan, dan membawa perubahan yang berarti bagi anak Bangsa.

Zul, begitu akrab Ia disapa. Dimalam hari, Pemuda kelahiran Wakoko Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton 29 Tahun silam ini hanya mengandalkan lampu senter battery, sedangkan untuk kebutuhan air bersih, Ia mengandalkan air hujan. Beginilah kondisi Desa Waloindi, yang memang seluruh warganya menggantungkan kebutuhan air untuk hidup sehari-hari hanya dari air hujan, sebab air dari sumber air lain di Desa ini terasa asin.

“Kalau saat hujan tempat saya ini banyak bocornya, dibagian dapur yang paling parah, dindingnya sudah rusak juga, jadi kadang-kadang biawak masuk ke dalam. Pernah satu kali ular besar masuk,” cerita Zul kepada Kasamea.com saat ditemui dikediamannya.

Sekitar 5 Tahun sudah Zul menjalani hari-harinya di Desa ini dengan rutinitasnya sebagai pendidik. Ia mengisahkan, dalam ketabahan, Ia bersyukur pada hari Senin 3 Juli 2017, oleh Ketua Yayasan Pendidikan Islam Muh Tahir bersama warga Desa Waloindi, Zul diberi kepercayaan diangkat Kepala Sekolah MTs Waloindi.

Selain itu, rutinitas Zul sebagai Pendidik juga dilakoni di SD Negeri Mole, juga di Madrasah Aliyah (MA).

Ternyata dedikasi seorang Zul terdengar sampai ke kantor Kementerian Agama RI wilayah Sultra, yang pada 2016 lalu memberikan Penghargaan berupa Sertifikat Guru Luar Biasa kepada Zul.

Zul tak hanya mengabdikan diri sebagai seorang Pendidik, Ia juga mendirikan Tempat Pengajian Alquran (TPA) Nurul Iman, sekaligus sebagai Guru Mengaji. Ia juga menjalani hari-harinya aktif dalam kegiatan Kepemudaan, dan bentuk pengabdian lainnya ditengah warga Desa Waloindi.

Tak berlebihan bila Iapun diberi amanah sebagai Ketua Karang Taruna Bina Bakti di Desa Waloindi, atas kesepakatan Kepala Desa Abdul Majid SPd bersama warga.

“Kalau TPA ini, saya dirikan sejak 2014, karena saya terdorong semangat untuk mendidik anak-anak. Setelah berjalan dengan baik dan dibuka secara umum, alhamdulillah 2017 saya usulkan di Desa, sampai saat ini sudah memiliki tiga orang ibu rumah tangga yang menjadi guru ngaji. Gajinya guru ngaji ini hanya 300ribu perbulan yang dikucurkan oleh Desa,” tutur Pemuda sederhana ini.

Tanpa rasa bosan, menepis setiap lelah, Zul terus mendampingi siswa-siswi, Pemuda-Pemudi, terus membumi di Desa Waloindi.

“Dari semua yang saya lakukan ini hanya semata-mata untuk mendampingi para siswa dan teman-teman Pemuda, supaya mereka lebih matang pengetahuannya, baik dari segi pendidikan, sosial, agama, budaya, maupun moral. Saya harapkan mereka mampu memberikan efek yang positif di lingkungan, baik daerahnya maupun diluar daerah,” harapnya.

Zul menaruh harapan besar kepada Pemerintah agar memberi perhatian lebih kepada Desa-Desa terpencil, menghadirkan fasilitas penunjang agar anak-anak, Pemuda, Desa dapat lebih berkembang.

“Apalagi anak yang tidak lanjut sekolah. Dengan adanya TPA dan Karang Taruna, saya harapkan anak-anak akan terus belajar dan aktif untuk terus mengembangkan dirinya dari berbagai aspek pendidikan, tuturnya.

Ia berharap, MTs Waloindi yang saat ini memiliki 72 siswa-siswi mendapat sentuhan Pemerintah dalam peningkatan fasilitas pendidikan.

Salah seorang anak didik Zul, Gawarudin (19) kini tengah melanjutkan pendidikan di sekolah Penerbangan Kampus Amayo Yogyakarta. Gawarudin sangat berterimakasih atas bimbingan, dorongan motivasi yang kerap ditanamkan Zul kepadanya.

“Saya anak yatim, alhamdulillah sekarang sekolah jurusan penerbangan atau transportasi udara. Saya selalu disemangati dan dibimbing sampai saat ini oleh beliau untuk membuktikan bahwa saya mampu melalui semua tantangan hingga cita-cita saya tercapai,” ucap lulusan MTs dan MA Waloindi ini, saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Anggota Karang Taruna Bina Bakti, Asrita (20) mengungkapkan, Zul adalah sosok seorang guru yang selalu memberi perhatian penuh kepada Pemuda (i), selalu membina dan mendampingi untuk terus belajar dan aktif dalam berkegiatan positif. Kata Asrita, Zul tengah merencanakan untuk mendirikan sebuah Sanggar Seni.

“Mudah-mudahan bisa segera terwujud, kami pegiat tari sangat senang kalau sanggar itu ada di Desa Waloindi ini. Semoga banyak yang membantu untuk merespon itu,” harapnya, ditemui di Desa Waloindi.

Berkat peran aktif Zul dan pihak Sekolah, juga dukungan warga, beberapa siswa-siswi telah ikut serta dalam berbagai Lomba tingkat Kabupaten juga tingkat Provinsi, seperti Lomba Cerdas Cermat Qur’ani (CCQ) yang diikuti Masnia dan Fatriani Dewi, siswi MA Waloindi, Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat Provinsi Jurusan Fisika yang diikuti Suratman (17) berhasil mendapat prestasi juara 2, dan Filki Suparman (16) mendapat Juara 3, mewakili Kabupaten Wakatobi yang didampingi langsung Kepala Waloindi Arianto Latif (40).

[MG8 – Editor LAMIM]

Komentar

News Feed