RSUD Busel Tingkatkan Kualitas Pelayanan

Buton Selatan

Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buton Selatan (RSUD Busel) type C telah mulai beroperasi sejak Juni 2022. Sekitar dua bulan memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya warga Negeri Beradat peserta BPJS Kesehatan, maupun secara umum.

Mengoptimalkan pelayanan, RSUD yang dipimpin Direktur dr Frederik Tangke Allo SpB ini telah didukung dokter spesial, juga unit pendukung seperti laboratorium, dan gas medis yang dihasilkan sendiri.

Pelayanan rawat inap, rawat jalan, termasuk persalinan. Saat ini RSUD Busel juga tengah menyiapkan dokumen pengolahan limbah.

Frederik mengatakan, pelayanan sudah berjalan seperti yang diharapkan, dengan fasilitas yang sudah tersedia. Sembari peningkatan kapasitas agar pelayanan lebih berkualitas.

Dalam waktu dekat RSUD Busel akan mengirimkan karyawan untuk mengikuti pelatihan di rumah sakit yang sudah lebih berpengalaman dengan type dan manajemen yang melebihi-nya. Karyawan juga akan diikutsertakan melalui pelatihan peningkatan kompetensi lainnya.

Frederik tak memungkiri, peralatan kesehatan masih perlu penambahan. Dokter spesialis yang sebelumnya part time juga akan masuk menjadi full timer. Ada pula rencana penambahan dokter spesialis yang akan disesuaikan dengan anggaran.

Saat ini dokter spesial yang ada yakni bedah, anastesi, anak, penyakit dalam, radiologi, kebidanan dan penyakit kandungan.

“Dari hari ke hari sudah semakin baik. Seiring berjalannya waktu pelayanan berjalan, peralatan juga akan kita lengkapi, dan ujungnya peningkatan kualitas pelayanan,” ujarnya.

Selanjutnya tentang rujukan dari Puskesmas. Pihaknya kata Frederik, sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan sebagai leading sector. Pada prinsipnya jika dengan peningkatan kualitas pelayanan, maka Puskesmas akan merujuk pasien ke RSUD Busel.

Namun begitu, lanjut Frederik, tidak semua pasien yang dirujuk harus ditangani di RSUD Busel. Sebab ada sistem rujukan berlaku untuk semua RS. Bahwa bisa dirujuk ke RS lain, sesuai dengan type RS.

“Misalnya dari sini dirujuk ke Baubau, dan bila tidak ada peralatan yang dibutuhkan untuk intervensi tindakan, maka dirujuk lagi, apakah pilihannya Kendari atau Makassar. Jadi sistem rujukannya berjenjang,” pungkasnya. [Red]








Komentar