oleh

Wacana Tutup Sementara Pelabuhan dan Bandara, Dokter Ricki: Masyarakat Lebih Aman

BAU-BAU

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kendari wilayah Bau-Bau, dr Ricki menilai masyarakat Kota Bau-Bau dan sekitarnya akan lebih aman dari penyebaran penularan virus corona (covid-19), bila dilakukan penutupan sementara Pelabuhan, juga penghentian sementara operasional Kapal Pelni, dan penutupan sementara Bandar Udara Betoambari. Ini diungkapkannya, saat dimintai tanggapan, terkait wacana penutupan sementara Pelabuhan, dan penghentian sementara operasional Kapal Pelni, juga wacana pentutupan sementara Bandar Udara Betoambari.

Kata Ricki, khususnya di Pelabuhan Murhum Bau-Bau, rentan penyebaran penularan covid-19, karena merupakan salah satu Pelabuhan Nusantara yang rutin disinggahi banyak Kapal Pelni, dari Barat juga Timur Indonesia. Termasuk, Kapal antar Pulau.

“Rawan pak, karena (Pelabuhan Murhum, red) persinggahan atau tibanya penumpang dari wilayah Timur dan dari wilayah Barat Indonesia yang telah ada suspect ataupun positif covid-19. Jakarta, Surabaya, Makassar, Maluku, dan Papua, semua dilalui,” jelasnya kepada Kasamea.com, Kamis (26/3/20).

Ditambahkan Ricki, penumpang yang akan turun dari Kapal, baiknya mengindahkan imbauan Pemerintah, untuk menjaga jarak aman minimal berjarak 1,5 meter antar sesama, dalam upaya mencegah penyebaran / penularan virus covid-19. Ini yang sulit, kata dia, tak jarang penumpang tidak mengikuti imbauan tersebut, apalagi dengan kondisi ramainya penumpang.

Ricki memastikan, telah ada alat thermal scanner dan alat penyemprotan disinfektan yang disiapkan untuk penumpang yang tiba, dan berangkat dari Pelabuhan Murhum Bau-Bau. Ini dilakukan guna mendeteksi penumpang yang terpapar virus corona, sehingga dapat ditangani sesuai standar. Namun begitu, Ia pun mengakui, alat tersebut tidak efektif, belum bisa memastikan keamanan dari virus corona tersebut, karena menyangkut masa inkubasi virus antara 2 sampai 14 hari.

“Alat thermal scanner hanya sebatas untuk menjaring orang yang sudah menunjukkan gejala terjangkit seperti demam sehingga bisa diatasi lebih cepat. Sementara bagi warga yang terpapar namun belum menunjukkan gejala, tidak dapat dideteksi melalui alat tersebut,” terangnya.

Ditambah lagi, menurutnya, pihaknya sangat kekurangan tenaga, dengan jumlah hanya 10 orang, terdiri 3 security, 2 orang bertugas di Bandara Betoambari, dan 5 orang di Pelabuhan. Meskipun dibantu petugas dari Dinas Kesehatan, namun pihaknya tetap harus bekerja ekstra, karena kapal yang sandar tidak mengenal waktu baik siang, malam, maupun diwaktu shubuh.

“Sudah dua minggu terakhir ini kadang-kadang kami seharian tidak tidur. Jujur kami juga ketakutan dengan kondisi fisik kami sendiri,” pungkas Ricki.

[RED]

Komentar

News Feed