Buah Hati yang Masih Menjadi Mimpi

“Tentang cinta, penantian, keteguhan, dan harapan pasangan pejuang dua garis”

Penulis: L.M. Azhar Sa’ban

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Ada perjalanan hidup yang mudah diceritakan, tetapi ada juga perjalanan yang terlalu lama disimpan dalam diam. Tulisan ini lahir dari diam yang panjang itu, diam yang penuh doa, harapan, air mata, dan pertanyaan yang terus berulang dari waktu ke waktu.

“Buah Hati yang Masih Menjadi Mimpi” bukan sekadar kisah tentang penantian hadirnya seorang anak. Tulisan ini adalah cerita tentang dua orang yang
belajar bertahan dalam keadaan yang tidak selalu mudah dijelaskan kepada dunia. Tentang bagaimana cinta diuji oleh waktu, oleh harapan yang datang lalu pergi, dan oleh pertanyaan-pertanyaan yang sering kali terdengar sederhana bagi orang lain, tetapi terasa begitu berat bagi hati yang menjalaninya.

Saya menikah pada 22 Februari 2020 dengan perempuan luar biasa yang kini menjadi teman hidup saya, seorang dokter yang setiap hari membantu banyak orang untuk sembuh, sementara di rumah kami sendiri sedang belajar menyembuhkan luka yang tidak terlihat. Lima tahun pernikahan kami berjalan dengan penuh rasa syukur, tetapi juga dengan satu penantian yang belum selesai: hadirnya buah hati.

Sebagai seorang dosen, saya terbiasa berbicara di depan banyak orang. Namun ada satu hal yang selalu sulit saya jelaskan tentang rasa sepi yang hadir setiap kali melihat teman-teman mulai dipanggil ayah dan ibu, tentang senyum yang harus tetap terlihat baik-baik saja, dan tentang doa-doa yang terus kami langitkan dalam diam.

Perihal ini saya ungkapkan melalui tulisan bukan untuk mengundang belas kasihan. Saya menulisnya karena saya tahu, di luar sana ada begitu banyak pasangan pejuang “dua garis” yang sedang merasakan hal yang sama.

Ada suami yang diam-diam hancur tetapi memilih tetap kuat. Ada istri yang tersenyum sambil menyembunyikan tangisnya. Ada rumah tangga yang tetap bertahan meski berkali-kali dihantam kecewa. Melalui tulisan ini, saya ingin mengatakan kepada mereka: kalian tidak sendiri.

Jika hari ini harapan terasa melelahkan, jika doa terasa belum menemukan jalannya, jika pertanyaan orang-orang mulai terasa menyakitkan, semoga tulisan ini bisa menjadi teman yang mengerti tanpa menghakimi.

Terima kasih kepada istri saya tercinta yang telah berjalan bersama melewati banyak fase sulit dengan sabar dan penuh cinta. Terima kasih kepada keluarga, sahabat, dan semua orang yang tetap memberikan doa terbaik untuk kami. Dan kepada para pejuang “dua garis” di mana pun berada, tulisan ini saya persembahkan untuk kalian, untuk hati-hati yang masih belajar ikhlas tanpa kehilangan harapan.

Surat Penulis Tentang Mimpi yang Belum Menjadi Nyata

Ada pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi mampu membuat seseorang pulang dengan hati yang lebih berat dari biasanya. “Sudah isi belum?”. Awalnya kami menjawabnya sambil tersenyum. Kadang sambil bercanda. Kadang dengan keyakinan bahwa semuanya hanya soal waktu.

Kami percaya, cepat atau lambat, Tuhan akan menitipkan seorang anak di rumah kecil yang sedang kami bangun bersama.

Kami menikah pada 22 Februari 2020. Hari itu adalah hari yang penuh bahagia. Di hadapan keluarga, sahabat, dan doa-doa yang mengiringi, kami memulai kehidupan baru sebagai suami dan istri. Saya, seorang dosen di salah satu universitas swasta di Kota Baubau, dan istri saya, seorang dokter yang begitu mencintai pekerjaannya.

Kami memulai semuanya dengan mimpi yang sederhana: hidup bersama, tumbuh bersama, lalu menjadi ayah dan ibu. Seperti pasangan lain, kami pernah membayangkan suara tangisan bayi di rumah. Membayangkan membeli pakaian kecil, memilih nama terbaik, dan mempersiapkan masa depan untuk seseorang yang bahkan belum pernah kami lihat wajahnya.

Namun, hidup ternyata tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana manusia. Satu tahun berlalu. Lalu dua tahun. Kemudian tiga tahun. Kami mulai mengenal perasaan yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kami pahami: menunggu dengan cemas, berharap dengan takut, dan kecewa secara diamdiam.

Setiap bulan kami menanti dengan doa yang sama. Setiap bulan pula kami belajar menelan kenyataan yang sama.
Ada banyak malam ketika rumah kami terasa sunyi meski televisi menyala. Ada banyak percakapan yang berhenti di tengah jalan karena kami sama-sama sedang menahan air mata.

Ada banyak momen ketika kami terlihat baik-baik saja di depan orang lain, padahal di dalam hati kami sedang bertanya: “Mengapa belum juga?”.
Sebagai seorang suami, saya sering kali tidak tahu bagaimana cara menghibur istri saya selain mengatakan, “Kita coba lagi ya”. Kalimat sederhana yang sebenarnya juga sedang saya ucapkan kepada diri sendiri.

Saya melihat bagaimana istri saya berusaha tetap kuat. Tetap tersenyum saat melihat teman-temannya menggendong bayi. Tetap tenang ketika pertanyaan tentang anak datang bertubi-tubi dalam acara keluarga. Tetap terlihat tegar, bahkan ketika saya tahu hatinya sedang lelah. Dan mungkin, tanpa ia sadari, saya pun melakukan hal yang sama.

Lelaki sering diajarkan untuk kuat. Tidak menangis. Tidak mengeluh. Tidak terlihat rapuh. Padahal ada luka yang juga tumbuh diam-diam dalam hati seorang suami, ketika mendengar orang lain dipanggil “Ayah”, sementara dirinya masih menunggu kesempatan itu datang.

Tulisan ini lahir dari perjalanan panjang itu. Perjalanan tentang dua orang yang terus belajar bertahan di tengah penantian. Tentang cinta yang diuji oleh waktu. Tentang doa-doa yang belum menemukan jawabannya. Tentang hati yang berkali-kali patah, tetapi tetap memilih saling menggenggam.

Saya tidak menulis kisah ini sebagai seseorang yang telah selesai dengan perjuangannya. Sampai halaman ini ditulis, kami masih menjadi pasangan pejuang “dua garis”. Kami masih menunggu. Kami masih berharap. Kami masih berdoa.

Namun, saya percaya, tidak semua cerita harus selesai lebih dulu untuk bisa dibagikan. Sebab mungkin, di luar sana ada pasangan yang sedang merasa sendirian. Ada istri yang menangis diam-diam setelah melihat hasil test pack. Ada suami yang berpura-pura kuat agar rumah tangganya tetap baik-baik saja. Ada dua orang yang mulai lelah
menghadapi pertanyaan orang lain, tetapi tetap berusaha tersenyum.

Jika kamu adalah salah satunya, tulisan ini juga untukmu. Tulisan ini bukan tentang kesedihan semata. Ini tentang cinta yang tetap tinggal meski harapan berkali-kali jatuh. Tentang bagaimana kami belajar menerima luka tanpa
berhenti berharap. Tentang keyakinan bahwa setiap rumah memiliki ujiannya sendiri, dan setiap pasangan sedang berjuang dengan caranya masing-masing.

Mungkin hari ini buah hati kami masih menjadi mimpi. Tetapi cinta, kesabaran, dan doa yang kami perjuangkan di sepanjang perjalanan ini adalah nyata.
Dan selama kami masih saling menggenggam, kami percaya harapan itu belum benar-benar hilang.

Bersambung …..

BAGIAN I

KAMI MEMULAI DENGAN CINTA

Komentar