Om BuZ jaket hitam diapit para Tokoh dalam Silaturahmi 1 Rasa untuk Busel
Buton Selatan
Burhan Zahim yang belakangan akrab dengan panggilan Om BuZ (Om Burhan Zahim) menyambangi para Tokoh Masyarakat, Tokoh Pemuda, guna menyatukan rasa, menyatukan persepsi, membangun negeri. Sabtu (3/11), dengan penuh keakraban, dalam suasana kekeluargaan, Om BuZ memadu pemikiran dalam diskusi santai namun konstruktif, di Kelurahan Laompo, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan (Busel).
https://www.kasamea.com/burhan-zahim-putera-busel-yang-sukses-di-bumn/
Silaturahmi 1 Rasa untuk Busel yang berlangsung petang hingga malam hari ini, Om BuZ didampingi Ketua-Sekretaris Maluku Satu Rasa Salam Sarane Bersatu (M1R SSB) Baubau, Ahmad Khoril Ohorella-O.N Souisa, bersama Sekretaris M1R SBB Busel, La Ode Ruslan Gamba (minus Ketua, La hijirah), Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Busel, La Roni, Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) Busel, La Dedi Jore, bersama beberapa Tokoh Pemuda Busel lainnya.
Burhan Zahim hendak mengajak para Tokoh, masyarakat, agar senantiasa mengedepankan rasa dalam hubungan interaksi sosial. Saling menghargai, saling menyayangi, saling berbagi dan mendengarkan pendapat satu sama lain dalam membangun Busel, mewujudkan kesejahteraan seluruh warganya.
“Esensinya adalah Ketuhanan. Semua bisa terjadi, dapat terwujud atas izin-Nya (Allah SWT Pencipta Alam). Hablulminannas hubungan antar sesama manusia perekatnya, yang juga wajib kita kedepankan. Yang harus kita yakini, bahwa Busel bisa maju dan sejahtera, kalau kita pikirkan dan berbuat bersama,” ungkap Burhan Zahim, disela-sela diskusi.
Burhan Zahim mengungkapkan, saat ini Ia terpanggil dan dipanggil mendedikasikan diri untuk Busel. Oleh karena itu, Ia terus membangun silaturahmi dengan semua pihak, terlebih para Tokoh, elemen masyarakat Busel. Namun Iapun membuka diri, bila ada figur lain yang lebih mumpuni untuk Busel yang lebih baik.
Lama merantau di negeri Ambon Manise, dan sempat bertugas dibeberapa wilayah di Indonesia, Burhan Zahim menerapkan prinsip rasa dalam lingkungan kerja, keluarga, maupun dalam berinteraksi sosial.
Dalam diskusi penuh keakraban dan sesekali diselingi canda tawa ini juga sempat terulas sejarah Buton, juga nilai-nilai kearifan lokal yang hingga kini masih terawat rapi, dan terimplementasi ditengah kehidupan masyarakat Busel. Tak luput riwayat leluhur, La Maindo juga leluhur Buton lainnya. Bagaimana Buton dimasa lalu, masa kini, dan masa depan.
Pertama kali bertatap muka dan berbincang langsung dengan Burhan Zahim, La Dedi Jore mengaku kagum. Karakter kepribadian putera Busel yang sukses berkarir di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut, dinilainya penuh kesederhanaan. Santun, tenang, lembut dalam bertutur kata, serta berpengalaman memimpin dalam karirnya, sosok Burhan Zahim menurut Dedi, adalah figur pemimpin yang dibutuhkan Busel saat ini.
Kriteria kepemimpinan, Dedi menilai Burhan Zahim seorang figur pemimpin yang memiliki karakter yang sangat kuat. Pemimpin religius, yang mengedepankan rasa. Mengingat kisah masa lalu, wilayah Busel adalah tempat pertamakalinya Syeikh Abdul Wahid menginjakkan kakinya dalam syiar Islam di tanah Buton, menurut Dedi, Burhan Zahim adalah pemimpin yang akan sangat diterima oleh masyarakat Busel.
Dedi mengaku, beberapa kali pernah duduk berdiskusi dengan figur lainnya, para calon Bupati. Namun banyak diantara mereka cenderung hanya menyampaikan keinginan sesaat, untuk kepentingan pribadi, mengarah pada kekuasaan. Berbeda jauh dengan Burhan Zahim, yang bisa menempatkan diri menjadi pendengar yang baik, berkomunikasi terbuka, dari hati ke hati, serta mengakomodir pendapat orang lain.
Burhan Zahim, kata Dedi, tidak menunjukkan identitas sebagai apa, jabatan apa, apalagi menonjolkan status sosial. Rendah hati, Burhan Zahim memperkenalkan diri dengan pendekatan rasa.
Menurut Dedi, tak banyak figur yang memiliki karakter kepemimpinan seperti Burhan Zahim.
“Beliau mengedepankan rasa, jadi kalau memimpin, beliau bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Begitupun sebaliknya. Melalui pendekatan rasa beliau menitip pesan mendalam, bahwa kita dan alam seisinya ini milik Allah, dan kita hanya menjalankan pesan dan aturan Allah,” pungkas Dedi.
Bersambung …..
Penulis: LM. Irfan Mihzan









Komentar