BPBD Baubau Gandeng Basarnas Latih LPM Tangani Kecelakaan Laut
Baubau
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Baubau bersama Basarnas Baubau membekali utusan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dari Kecamatan Batupoaro dan Betoambari dengan keterampilan dasar penanganan bencana, khususnya kecelakaan di laut.
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari, 9–10 September 2026, itu memadukan pembelajaran teori dengan praktik langsung. Kegiatan dipusatkan di Kantor Basarnas Baubau dan Pantai Lakeba (Daeng Lala), Kota Baubau.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Baubau, Mohamad Tasdik, mengatakan, penguatan kemampuan masyarakat menjadi bagian penting dalam sistem penanggulangan bencana.
Menurutnya, warga yang berada paling dekat dengan lokasi kejadian biasanya menjadi pihak pertama yang mengetahui atau memberikan pertolongan sebelum petugas tiba.
“Yang lebih dulu tiba di lokasi kejadian bukan petugas, melainkan warga di sekitarnya. Karena itu kemampuan dasar menolong harus ada di tangan masyarakat, bukan hanya di tangan aparat,” ujar Tasdik, saat membuka pelatihan.

Karena itu, pelatihan tidak hanya diarahkan agar peserta mengetahui jenis-jenis peralatan kebencanaan. Mereka juga dibekali pemahaman mengenai keselamatan diri dan batas kemampuan saat memberikan pertolongan.
Pada hari pertama, peserta mengikuti materi teori di Kantor Basarnas Baubau. Materinya antara lain pengenalan peralatan, prosedur keselamatan, serta tata cara pertolongan awal dalam situasi kedaruratan.
Hari berikutnya, peserta dibawa ke pesisir Lakeba untuk mempraktikkan langsung penggunaan peralatan keselamatan. Praktik tersebut difokuskan pada situasi kecelakaan di laut.
Personel Basarnas Baubau bertindak sebagai instruktur sekaligus menyiapkan peralatan yang digunakan peserta.
Peserta tidak hanya diajarkan cara menggunakan alat, tetapi juga mengenali fungsi masing-masing peralatan, dan memahami kondisi ketika seorang penolong harus berhenti atau meminta bantuan tambahan.
Aspek keselamatan penolong menjadi perhatian penting. Sebab, upaya penyelamatan yang dilakukan tanpa memperhitungkan kemampuan dan kondisi lapangan justru dapat menambah korban.

Pemilihan Kecamatan Batupoaro dan Betoambari sebagai lokasi sasaran tahap awal bukan tanpa alasan.
Kedua wilayah tersebut memiliki kawasan pesisir dengan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi, mulai dari kegiatan melaut, penyeberangan, hingga aktivitas bongkar muat.
Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah pesisir perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai respons awal ketika terjadi kecelakaan di perairan.
Pelatihan ini juga menjadi tindak lanjut dari rapat koordinasi BPBD Kota Baubau dan Basarnas pada Agustus 2026. Dalam koordinasi tersebut, aspek kerawanan bencana laut menjadi salah satu perhatian, terutama di tengah dinamika kondisi cuaca.
“Kesepakatan di atas meja harus turun menjadi keterampilan di lapangan. Pelatihan ini bentuk konkretnya,” kata Tasdik.
BPBD Kota Baubau berencana memperluas pola pelatihan serupa ke kecamatan lain secara bertahap.
Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk membangun simpul-simpul relawan kebencanaan di tingkat kelurahan. Dengan begitu, penanganan awal tidak sepenuhnya bergantung pada kehadiran petugas ketika terjadi keadaan darurat.
“Kami ingin setiap kelurahan punya orang yang tahu harus berbuat apa pada menit-menit pertama. Itu target kami,” ujar Tasdik.
Bagi BPBD, keterampilan dasar masyarakat menjadi bagian dari kesiapsiagaan sebelum bantuan profesional tiba di lokasi. Pelatihan bagi LPM di Batupoaro dan Betoambari menjadi tahap awal untuk membangun kapasitas tersebut secara lebih luas di Kota Baubau.









Komentar