“Coffee Shop Kian Menjamur, Kopi Lokal Nian Tertidur”

Baubau

Di tengah menjamurnya kedai kopi modern atau kerennya sering disebut coffee shop di berbagai daerah, peluang ekonomi dari komoditas kopi kian terbuka lebar. Kota Baubau, daerah sekitarnya, skop Sultra, dengan geliat budaya ngopi-nya, sesungguhnya menyimpan potensi besar untuk mengangkat kopi lokal ke level industri.

Namun, dibalik peluang itu, masih ada jurang antara produksi petani dan standar pasar yang harus dijembatani secara serius.

Owner Basecamp Coffee and Chill Baubau, Muhammad Syardilan Kube, mengungkapkan, persoalan utama kopi lokal bukan hanya ketersediaan, melainkan juga kualitas. “Kalau dari segi penyerapan kopi lokal, kami lebih melihat kualitas. Mungkin karena kurangnya edukasi ke petani dan lahan yang belum siap menghasilkan kopi yang baik,” ujarnya dalam sebuah sesi wawancara, Selasa 5 Mei 2026.

Pernyataan ini menegaskan bahwa problem kopi lokal bukan sekadar produksi, tetapi menyangkut tata kelola dari hulu.

Menurut Dilan, sapaan akrabnya, kopi lokal yang beredar saat ini belum memenuhi standar mutu yang layak untuk disajikan di kedai kopi modern. Ia menyebutkan, dari sisi grades, biji kopi lokal belum masuk kategori yang ideal untuk konsumsi pasar kafe.

Hal ini menjadi indikator yang menunjukkan rantai produksi kopi di tingkat petani, masih membutuhkan pembenahan yang serius dan sistematis.

Lanjut entrepreneur muda ini, upaya mandiri sebenarnya sudah dilakukan. Beberapa petani mencoba mengolah kopi sendiri dengan metode tradisional, seperti menyangrai menggunakan tungku dan wajan tanah liat. Namun, hasilnya belum mampu bersaing ketika diuji menggunakan mesin espresso.

“Setelah dieksekusi di mesin, belum layak untuk kami sajikan ke customer,” kata Dilan. Ini menunjukkan adanya kesenjangan teknologi dan pengetahuan pascapanen.

Padahal, dari sisi pasar, permintaan kopi untuk kedai kopi modern cukup menjanjikan. Basecamp saja membutuhkan sekitar 50 hingga 60 kilogram kopi per bulan, atau sekitar 2–3 kilogram per hari. Kebutuhan ini mencakup kopi arabika dan robusta, dengan dominasi robusta sebagai karakter kopi yang umum diminati.

Belum lagi kebutuhan kopi pada Coffee Shop lainnya yang tersebar di Baubau, daerah sekitar, skop Sultra, bahkan seluruh Nusantara.

Basecamp sendiri, untuk menjaga keseimbangan rasa, menggunakan campuran 50 persen arabika dan 50 persen robusta. Strategi ini bertujuan menciptakan cita rasa yang tidak terlalu kuat, sehingga dapat dinikmati oleh semua kalangan, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Ini menjadi bukti bahwa pasar kopi bersifat inklusif dan luas.

Ironisnya, kebutuhan tersebut belum mampu dipenuhi oleh petani lokal. Selama ini, Basecamp masih mengandalkan kopi dari Toraja yang kemudian diproses di Kendari, sebelum sampai ke Baubau. Rantai distribusi ini menunjukkan bahwa daerah lain sudah lebih siap dari sisi kualitas dan pengolahan.

Meski demikian, komitmen untuk menyerap kopi lokal tetap ada. Dilan menegaskan bahwa jika kualitas kopi lokal sudah memenuhi standar, pihaknya sangat ingin menjadikannya sebagai signature product. Ini adalah peluang besar yang seharusnya menjadi perhatian serius.

Sejumlah penelitian ilmiah mendukung bahwa industri kopi memiliki prospek cerah bagi kesejahteraan petani. Studi dari International Coffee Organization (ICO) dan penelitian dalam jurnal Agricultural Economics menunjukkan bahwa peningkatan kualitas melalui pelatihan budidaya dan pascapanen dapat meningkatkan nilai jual kopi hingga dua kali lipat. Selain itu, riset di jurnal Food Policy menegaskan bahwa akses pasar dan sertifikasi mutu menjadi kunci utama peningkatan pendapatan petani kopi.

Lebih lanjut, penelitian oleh World Bank dan FAO menyebutkan, intervensi pemerintah dalam bentuk pelatihan, penyediaan alat roasting, serta akses pembiayaan, mampu mempercepat transformasi petani dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pelaku rantai nilai.

Karena itu, peran pemerintah menjadi sangat strategis. Tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga fasilitator yang mampu menghadirkan pelatihan, teknologi, dan konektivitas pasar. Bahkan, hadirkan trainer dari daerah lain yang lebih maju dalam industri kopi, guna meningkatkan kapasitas petani lokal, agar mampu memenuhi standar grade yang dibutuhkan pasar.

Dengan meningkatnya tren konsumsi kopi, khususnya di kalangan generasi muda, menjadi momentum untuk membangun ekosistem kopi lokal yang berkelanjutan.

Basecamp Coffee and Chill yang sejak 2022 menjadi salah satu tempat ngopi favorit lintas kalangan, menjadi bukti bahwa pasar sudah terbentuk. Begitu juga kedai kopi modern yang terus menjamur disetiap sudut dan jalan poros kota.

Kini, tantangannya adalah bagaimana memastikan petani lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain utama dalam rantai industri kopi yang terus berkembang.

(Redaksi)

Komentar