Maret Baubau Deflasi, Pemkot Jajaki Kerja Sama dengan Daerah Produsen

Baubau

 

Deflasi tercatat terjadi di Kota Baubau pada Maret 2026 dengan angka inflasi month to month sebesar minus 0,75. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Baubau, Suarmawati, menyebut kondisi tersebut menunjukkan stabilitas harga relatif terjaga setelah sempat terjadi fluktuasi pada sejumlah komoditas pangan.

Suarmawati menjelaskan, secara tahunan (year to year), inflasi Baubau berada pada posisi 3,12 atau mengalami sedikit peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Kendati demikian, pemerintah kota memastikan pemantauan harga komoditas tetap dilakukan secara intensif, guna menjaga daya beli masyarakat dan kestabilan pasar.

“Salah satu komoditas yang sempat mengalami tekanan harga adalah telur ayam ras akibat keterbatasan stok ditengah meningkatnya permintaan. Namun, kelangkaan tersebut hanya berlangsung selama empat hari dan berhasil diatasi pada hari kelima, melalui langkah koordinatif Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID), sehingga harga kembali stabil,” jelasnya.

Suarmawati memastikan harga telur kini telah kembali normal dan dapat dipantau langsung di pasar tradisional, seperti Pasar Karya Nugraha dan Pasar Wameo. Pemerintah kota juga menyampaikan apresiasi kepada pihak kepolisian yang turut mendukung pengawasan harga serta memastikan ketersediaan stok ditingkat distributor.

Deflasi yang terjadi, kata Suarmawati, tidak dipengaruhi kenaikan signifikan pada komoditas lain. Jika pun terjadi kenaikan harga, situasinya tidak berlangsung lama karena ketersediaan stok dinilai cukup memadai. Hal tersebut merupakan hasil langkah antisipatif TPID yang terus melakukan pemantauan distribusi barang kebutuhan pokok.

“Selain pengawasan distribusi, TPID juga rutin melaksanakan inspeksi mendadak (sidak) ke pasar, untuk memastikan tidak terjadi lonjakan harga yang tidak wajar. Program pasar murah yang digelar pemerintah kota juga turut memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga sekaligus mendorong aktivitas ekonomi masyarakat,’ katanya.

Intervensi pemerintah kota bersama TPID dinilai cukup efektif menekan potensi permainan harga oleh oknum pedagang. Suarmawati mencontohkan harga telur ditingkat pengecer sempat mencapai Rp74 ribu per rak, padahal harga distributor berada pada kisaran Rp63 ribu hingga Rp65 ribu.

Melalui koordinasi bersama kepolisian, pemerintah kota menegaskan pedagang tidak diperkenankan menjual telur premium di atas Rp70 ribu per rak. Pendekatan persuasif dilakukan dengan memberikan teguran langsung kepada pedagang yang menetapkan harga terlalu tinggi dari rentang harga distributor. Kebijakan tersebut mendapat respons positif dari pedagang karena menciptakan keseragaman harga di pasar.

“Untuk mengantisipasi potensi inflasi month to month pada April 2026, kami mulai menjajaki kerja sama dengan daerah produsen komoditas pangan. Diantaranya dengan Sidrap sebagai sentra telur dan Bone sebagai daerah penghasil beras, guna memastikan jalur pasokan lebih transparan dan efisien,” tambahnya.

Selain itu, pemerintah kota juga membuka peluang kerja sama dengan daerah lain, seperti Nusa Tenggara Barat untuk komoditas bawang merah. Koordinasi dengan Perum Bulog terus diperkuat guna memastikan ketersediaan beras SPHP dan minyak goreng Minyakita tetap aman dipasaran, sehingga masyarakat kota Baubau terhindar dari kelangkaan maupun lonjakan harga yang tidak terkendali.

(Redaksi)

 

Komentar