Kami Memulai dengan Cinta

Penulis: LM. Azhar Sa’ban

 

22 Februari 2020 “Hari Ketika Kami Memulai Semuanya”.

22 Februari 2020, sampai hari ini, tanggal itu masih hidup dengan sangat jelas di kepala saya.

Bukan hanya karena itu adalah hari pernikahan kami, tetapi karena pada hari itulah dua orang yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri, akhirnya memutuskan untuk melangkah bersama dalam satu perjalanan hidup.

Pagi itu langit Bitung terasa begitu cerah. Rumah keluarga dipenuhi suara orang-orang yang sibuk sejak subuh.

Ada tawa, langkah kaki yang hilir mudik, suara ibu-ibu yang saling memanggil dari dapur, dan aroma makanan yang bercampur dengan wangi bunga dekorasi pelaminan.

Di tengah semua keramaian itu, saya duduk diam beberapa saat di kamar. Saya menghela napas panjang.

Hari itu akhirnya datang. Hari ketika status saya berubah. Dari seorang laki-laki yang selama ini hanya bertanggung jawab atas dirinya sendiri, menjadi seorang suami yang harus belajar menjaga orang lain seumur hidupnya.

Jujur, saya gugup. Bukan karena tidak siap menikah. Tetapi karena saya sadar, pernikahan bukan hanya tentang hari yang indah dengan pakaian terbaik dan senyum di depan tamu undangan. Pernikahan adalah tentang perjalanan panjang setelah semua dekorasi dibongkar dan semua tamu pulang.

Dan hari itu, perjalanan itu dimulai. Ketika akad berlangsung, tangan saya terasa dingin. Kalimat ijab kabul yang selama ini sering saya dengar di banyak pernikahan, mendadak terasa sangat berbeda ketika saya sendiri yang mengucapkannya.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Saya melihat perempuan di hadapan saya, perempuan yang kini resmi menjadi istri saya. Seorang dokter yang selama ini saya kenal sebagai sosok kuat, cerdas, dan penuh perhatian.

Perempuan yang diam-diam mengajarkan saya bahwa cinta tidak selalu harus diucapkan dengan kata-kata besar. Kadang cinta hadir lewat hal-hal sederhana: mengingatkan makan, menanyakan kabar setelah bekerja, atau tetap tinggal saat hidup sedang tidak mudah.

Hari itu ia terlihat begitu cantik.
Tetapi lebih dari itu, ia terlihat seperti rumah yang akhirnya saya temukan.

Di tengah suasana haru dan doa-doa yang mengalir, saya menyadari satu hal: kami tidak menikah karena hidup pasti akan mudah. Kami menikah karena ingin menghadapi hidup bersama-sama.

Setelah prosesi selesai, keluarga datang memberi pelukan dan ucapan selamat. Wajah-wajah bahagia memenuhi ruangan.

Orang-orang mendoakan kami agar menjadi keluarga sakinah, diberikan rezeki yang baik, dan segera dikaruniai anak-anak yang saleh dan salehah.

Saat itu kami tersenyum penuh keyakinan. Kami percaya semua doa itu akan datang pada waktunya.

Seperti pasangan lain yang baru menikah, kami juga punya banyak mimpi sederhana.

Kami membayangkan rumah kecil yang hangat.

Membayangkan pulang kerja lalu disambut suara anak-anak berlarian di ruang tamu.

Membayangkan akhir pekan keluarga kecil kami pergi membeli es krim atau berjalan sore bersama.

Membayangkan dipanggil “Ayah” dan “Ibu” untuk pertama kalinya.

Kadang kami berbicara tentang nama anak, meski semuanya masih terasa jauh dan lucu untuk dibicarakan.

“Kamu maunya anak perempuan atau laki-laki?,” tanyanya suatu malam.

“Sama saja,” jawab saya sambil tertawa. “Yang penting mirip ibunya.”

Ia tersenyum malu-malu sambil melempar bantal kecil ke arah saya.

Percakapan-percakapan sederhana seperti itu terdengar sangat biasa. Tetapi kini saya menyadari, justru hal-hal kecil itulah yang membuat sebuah rumah terasa hidup.

Awal pernikahan kami dipenuhi banyak rasa syukur. Kami mulai belajar menyesuaikan diri satu sama lain. Belajar memahami kebiasaan kecil pasangan. Belajar menyatukan dua kepala dengan cara berpikir yang kadang berbeda.

Tidak selalu sempurna, tentu saja. Ada hari-hari ketika kami salah paham karena hal sepele. Ada momen ketika lelah pekerjaan membuat kami lebih sensitif dari biasanya.

Saya sibuk dengan aktivitas sebagai dosen. Ia sibuk dengan jadwal sebagai dokter yang kadang membuat waktu istirahatnya berkurang.

Tetapi di tengah semua kesibukan itu, kami selalu berusaha menyediakan waktu untuk pulang satu sama lain.
Karena sejak awal kami percaya: rumah bukan tentang bangunannya, tetapi tentang siapa yang menunggu di dalamnya.

Malam-malam awal pernikahan terasa begitu hangat. Kadang kami makan bersama sambil bercerita tentang hari yang melelahkan. Kadang hanya duduk diam menonton televisi tanpa benar-benar memperhatikan acaranya.

Kadang saling menertawakan hal-hal kecil yang bahkan sekarang sudah sulit diingat lagi. Kami menikmati semuanya.

Dan seperti banyak pasangan baru lainnya, kami berpikir hidup akan berjalan sebagaimana mestinya.

Menikah. Bahagia. Lalu memiliki anak. Sesederhana itu.

Kami tidak pernah tahu bahwa di kemudian hari, ada perjalanan panjang yang harus kami lewati untuk sebuah panggilan kecil bernama “Ayah” dan “Ibu”.

Tetapi pada hari itu, 22 Februari 2020, kami belum memikirkan sejauh itu. Hari itu hanya tentang cinta.

Tentang dua orang yang memilih saling menggenggam.
Tentang keyakinan bahwa apa pun yang akan datang nanti, kami akan menghadapinya bersama.

Dan mungkin, itulah bagian terpenting dari sebuah pernikahan: bukan tentang seberapa mudah perjalanan yang akan dilewati, tetapi tentang siapa yang tetap tinggal ketika perjalanan itu menjadi sulit.

Hari itu kami tidak tahu hidup akan membawa kami ke mana.

Kami hanya tahu satu hal: kami telah memulai semuanya bersama.

Dan sejak saat itu, tidak ada lagi kata “aku” dan “kamu”.
Yang ada hanyalah: “kita”.

Bersambung…..

BAB II

MENUNGGU DUA GARIS MERAH

 

Baca bagian sebelumnya:

 

Komentar

News Feed