Foto: Seorang petugas yang ramah sedang mendemonstrasikan pengoperasian aplikasi SIMRS – RME RSUD Busel yang masih berfungsi dengan baik, namun terkendala jaringan internet yang tidak stabil.
Buton Selatan
Diadakan tahun 2023, sejak difungsikan, sampai saat ini, aplikasi SIMRS – RME (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit dan Rekam Medis Elektronik) di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Buton Selatan (RSUD Busel), masih terus difungsikan dengan baik dan berdampak pada optimalisasi pelayanan bagi pasien.
Software aplikasi yang disediakan fendor PT Serova, dengan sistem cloud yang digunakan RSUD Busel ini, sedikit terkendala karena jaringan internet yang tidak stabil, dan belum adanya tenaga spesialis IT.
Namun begitu, sampai saat ini fendor terus membantu mengatasi jika terjadi kendala-kendala teknis, termasuk penyempurnaan peng-input-an, maintenance, dan memberikan pelatihan yang relevan dengan pengoperasian aplikasi tersebut, pada staf RSUD Busel.
Mantan Direktur RSUD Busel, dr Frederik Tangke Allo mengatakan, SIMRS – RME RSUD Busel sudah terkoneksi dengan BPJS Kesehatan dan ter-bridging dengan platform Satu Sehat milik Kementerian Kesehatan. Dengan modul yang meliputi pendaftaran, rawat inap, rawat jalan, farmasi, laboratorium, rekam medis, dan sebagainya.
Alhasil kata dokter spesialis bedah ini, SIMRS – RME tersebut turut berkontribusi pada peningkatan akreditasi RSUD Busel menjadi Bintang Lima, yang sebelumnya Bintang Dua.
Pengadaan aplikasi SIMRS – RME RSUD Busel mengacu pada peraturan perundang-undangan, dan tak dapat dipungkiri sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kwalitas pelayanan dengan sistem digitalisasi. Termasuk dalam hal perencanaan, pengelolaan keuangan, Şeyma dapat dianalisa dan dikontrol dengan baik, begitu pula dengan kebutuhan manajemen-pelayanan lainnya.
Aplikasinya memiliki fleksibilitas untuk dikembangkan, serta lebih menjamin keamanan data.
“Sudah digunakan tetapi untuk sampai pada kesempurnaan tentu tahap demi tahap, satu kekurangan kita adalah masalah jaringan internet, kemudian spesialis IT. Kenapa teknologi ini yang dipilih, karena punya fleksibilitas untuk dikembangkan, itu salah satu keunggulannya,” urai Frederik.
Menyangkut beberapa item yang belum bisa terbaca, hal tersebut dikarenakan masih membutuhkan pengembangan dan input data.
Kepala Tata Usaha RSUD Busel, Marwan menambahkan, bahwa RSUD Busel dapat melayani pasien peserta BPJS Kesehatan karena SIMRS – RME yang sudah terkoneksi dengan BPJS Kesehatan. Begitu pula, RSUD Busel terakreditasi karena telah berfungsinya aplikasi SIMRS – RME.
Tahun 2024 pihak manajemen RSUD Busel sempat akan meng-up grade SIMRS – RME yang ada, namun lagi-lagi belum memungkinkan, karena pertimbangan jaringan internet yang belum stabil.
Sehingga RSUD Busel terlebihdahulu akan memaksimalkan/menstabilkan jaringan internet, dengan harapan pengoperasian aplikasi SIMRS –RME yang sudah berjalan, dapat lebih lancar alias tidak lambat loading (Lalod) lagi.
“Jadi kami komunikasi dengan fendor sampai hari ini kami masih dibekap (Back Up), dan tidak dibayar lagi karena sudah dibayar didepan,” tambah Marwan, usai memantau zoom meeting beberapa staf RSUD Busel bersama tenaga ahli pihak fendor.
Manajemen RSUD Busel terus melakukan pengembangan secara internal guna optimalisasi pelayanan, khususnya dalam lebih memaksimalkan penggunaan aplikasi SIMRS – RME yang sudah ada, serta terus melakukan pengembangan kapasitas pegawainya.
Didampingi Kepala Tata Usaha RSUD Busel, wartawan Kasamea.com melihat secara langsung penggunaan aplikasi dimaksud.
Seorang petugas yang ramah bernama Desi, cakap mendemonstrasikan prosedur pelayanan pasien dengan menggunakan aplikasi yang sudah terkoneksi pada unit rawat jalan.
“Jadi seperti ini tampilannya (Sambil memperlihatkan layar komputer). Pertama pasien mendaftar dulu, kita daftar, input, setelah itu untuk dibagian perawatnya juga dia punya bagian sendiri. Nanti terbaca dibagian perawat, pengkajian pasien, terkoneksi. Semua bagian punya user tersendiri. Kemudian di dokter juga. Jadi satu aplikasi hanya beda-beda bagian (Menu),” kata Desi, menjelaskan.
Desi mengaku dengan adanya aplikasi tersebut, dia dan rekan kerjanya sangat terbantu dan merasa dimudahkan dalam menjalankan tugas pekerjaan pelayanan.
Namun ia juga tak memungkiri kendala teknis yang dihadapi yakni masalah jaringan internet yang tidak stabil. Sehingga untuk menganitisipasinya, mereka tetap menyiapkan alternatif sistem manual.
“Jaringan disini sering trabel (Trouble), loding (Loading). Tapi kalau ada masalah teknis, dari pihak fendor masih membantu. Jadi ketika ada masalah kami konsultasinya ke pihak fendor. Dan ketika masih trabel, manual pun masih jalan,” jelasnya.
(Redaksi)















Komentar