Tradisi Kambua-Kambua, Cara Unik Warga Kaobula Ajak Bersedekah

Baubau

 

Tradisi Kambua-kambua di kelurahan Kaobula kecamatan Batupoaro kota Baubau terus dilakukan hingga kini, warisan leluhur yang masih dijaga secara konsisten oleh warga setempat, perwujudan nilai religius dan budaya lokal.

Kambua-kambua telah dijalankan secara turun-temurun selama beberapa generasi, tradisi ini dilaksanakan dua kali dalam setahun pada bulan suci Ramadan, pada malam qunut dan malam lailatul qadar, yang dianggap sebagai momentum penuh keberkahan bagi umat Islam.

Usai salat subuh hingga pagi hari, puluhan anak-anak dan remaja masjid dengan penuh semangat berkeliling dari rumah ke rumah. Mereka membawa kotak amal untuk mengumpulkan sedekah, yang nantinya digunakan untuk pembangunan dan kebutuhan masjid di lingkungan setempat.

Sudah beberapa generasi warga Kaobula terus menjalankan tradisi Kambua-kambua

 

Bocah-bocah tersebut terbagi dalam tiga kelompok, setiap kelompok menjalankan tradisi dengan cara yang sama, yakni mengucapkan salam sambil mengetuk pintu rumah warga, kemudian melantunkan lagu khas Kambua-kambua dalam bahasa Wolio/Buton secara bersama-sama.

Lagu yang mereka dendangkan memiliki makna mendalam, yakni ajakan kepada pemilik rumah untuk bersedekah, membuat nuansa religius dan kebersamaan begitu terasa, menciptakan suasana Ramadan yang hangat dan penuh kekhidmatan.

Karena telah menjadi tradisi rutin setiap tahunnya, warga yang dikunjungi umumnya sudah memahami maksud kedatangan bocah-bocah tersebut, bahkan tidak sedikit pemilik rumah yang telah bersiap menunggu di ruang tamu serta meminta anak-anak untuk mengulang mendendangkan lagu Kambua-kambua, sebelum akhirnya memberikan sedekah.

Anak-anak dan remaja Kaobula bersemangat melestarikan tradisi Kambua-kambua

 

Setelah mendengarkan lantunan lagu, warga dengan sukarela memasukkan uang ke dalam kotak amal, dan anak-anak kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah berikutnya, dengan tetap menjaga ritme tradisi yang telah mengakar kuat tersebut.

Seorang Warga Kaobula yang konsen pada pelestarian tradisi-budaya Buton, Siti Samsiah Suri mengatakan, Kambua-kambua sudah berlangsung sejak awal berdirinya masjid Al  Manar Kaobula, dahulu saat kakeknya menjadi imam masjid, kemudian ayahnya, kemudian dilanjutkan imam-imam berikutnya, hingga saat ini masjid sudah berdiri megah.

Samsia yang lahir tahun 1960 mengisahkan, saat berumur enam tahun, dirinya sudah mengikuti Kambua-kambua. Dijamannya, Kambua-kambua tak hanya diikuti anak-anak dan remaja, tetapi justru didominasi para ibu-ibu dan muda mudi dewasa lainnya.

“Setelah selesai bekeliling, anak-anak langsung serahkan hasil sedekah yang terkumpul ke perangkat masjid untuk dihitung bersama-sama. Uangnya untuk pembangunan masjid dan keperluan masjid lainnya,” jelasnya.

Anak anak dan remaja di Kaobula sangat bersemangat melakukan Kambua-kambua, karena selain mengumpulkan sedekah untuk pembangunan dan keperluan masjid, mereka juga bisa sembari bersendagurau bersama rekan sebayanya, mempererat kebersamaan diantara mereka dalam nuansa Ramadan 1447 Hijriyah nan suci.

 

(Redaksi)

Komentar