Yuhandri, Suluh Itu Tidak Padam

Oleh H Sahaluddin Rahim (Tokoh Pendidikan, Penasehat Kerukunan Keluarga Tomia Kota Baubau)

 

Tulisan LM Irfan Mihzan berjudul “Yuhandri Telah Pergi, Sang Suluh Wartawan” terasa lebih dari sekadar obituari. Baca : https://www.kasamea.com/yuhandri-tlah-pergi-sang-suluh-wartawan/

Ia bukan hanya catatan duka.

Ia adalah esai memorial, refleksi tentang kepribadian, kapasitas jurnalistik, dan semacam elegi intelektual bagi seorang Wartawan daerah yang bekerja dengan kesadaran besar tentang profesinya.

Yuhandri Hardiman yang akrab disapa Dandi, bukan sekadar Wartawan. Ia adalah figur pers.

Bedanya besar, Wartawan bisa bekerja di media. Figur Pers bekerja untuk nilai. Wartawan bisa menulis berita. Figur Pers menjaga makna dari berita itu sendiri.

Saya teringat satu peristiwa: kecelakaan kapal Funga 3.
Dalam situasi orang sibuk dengan korban dan angka-angka, Yuhandri justru menanyakan satu hal yang jarang ditanyakan Wartawan: pungutan rumah sakit kepada korban.

Pertanyaan itu sederhana, tapi dampaknya besar. Uang yang sudah dipungut akhirnya dikembalikan.

Disitulah kita melihat fungsi Pers yang sebenarnya, bukan hanya melaporkan peristiwa, tetapi memperbaiki keadaan.

Yuhandri seperti memahami betul apa yang disebut Edmund Burke sebagai Fourth Estate, kekuatan keempat dalam demokrasi setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Ia juga menjalankan apa yang oleh Denis McQuail disebut fungsi watchdog: anjing penjaga yang menggonggong ketika ada yang tidak beres dalam kekuasaan.

Tetapi bagi saya, Yuhandri lebih dari sekadar watchdog. Ia adalah penjaga ekosistem Pers lokal di Baubau dan Kepulauan Buton.

Ia tidak hanya menulis, tetapi membentuk kultur. Ia tidak hanya memberitakan, tetapi mendidik cara berpikir.

Ia tidak hanya menjadi pekerja media, tetapi menjadi moral entrepreneur orang yang membangun nilai dalam dunia Pers.

Di daerah, Wartawan sering dianggap kecil, Medianya kecil, Gajinya kecil. Kantornya kecil. Tetapi perannya tidak kecil.

Di daerah, Wartawan adalah pengawas kekuasaan daerah.
Di daerah, Wartawan adalah penghubung rakyat dan pemerintah.

Di daerah, Wartawan adalah pembentuk opini publik lokal.
Di daerah, Wartawan adalah penjaga transparansi. Artinya, ketika satu Wartawan seperti Yuhandri pergi, yang hilang bukan hanya satu orang. Yang hilang adalah satu aktor demokrasi lokal.

Dan demokrasi lokal, sering kali, justru berdiri di pundak orang-orang seperti dia, yang tidak terkenal di televisi nasional, tidak viral di media sosial, tetapi dikenal oleh rakyat kecil yang pernah ia bela dengan satu berita yang jujur.

Suluh itu tidak padam. Seperti semua suluh, ia tidak pernah benar-benar hilang.

Ia berpindah ke kepala orang-orang yang pernah belajar integritas darinya. Ke hati orang-orang yang pernah melihatnya menolak kompromi. Ke ruang redaksi kecil di daerah, tempat Wartawan muda masih percaya bahwa berita bisa menjadi alat kebenaran.

Dan selama masih ada Wartawan yang percaya bahwa tugasnya bukan hanya menulis, tetapi menjaga demokrasi, maka disitu Yuhandri belum benar-benar pergi.

 

(Redaksi)

 

Komentar