109 Hari Tanpa Hujan, Kekeringan Lahan Pertanian Liabuku Capai 6 Hektare
Baubau
Kekeringan mulai menekan lahan pertanian di Kelurahan Liabuku, Kecamatan Bungi, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Sekitar enam hektare lahan pertanian dilaporkan terdampak kekurangan air, dengan sebagian lahan berpotensi mengalami penurunan hasil panen.
Kondisi tersebut berlangsung di tengah periode tanpa hujan yang panjang di Kecamatan Bungi. Berdasarkan data pemutakhiran 30 September 2026 yang dirilis BMKG, Kecamatan Bungi tercatat mengalami 109 hari tanpa hujan dalam kategori daerah kurang hujan ekstrem panjang.

Enam Hektare Lahan Terdampak
Lurah Liabuku, Muslimat mengatakan, kekeringan mulai memberikan dampak terhadap aktivitas pertanian warga, meski besaran kerugian petani belum dapat dihitung secara pasti.
Menurutnya, sekitar lima hektare lahan di Lingkungan Makmur mengalami kekeringan. Sementara sekitar satu hektare lahan di Lingkungan Subur juga mengalami keterbatasan pasokan air, meski kondisinya dinilai belum separah wilayah lainnya.
“Yang jelas mungkin ada kerugian yang dialami oleh petani kami di Kelurahan Liabuku karena dampak dari kekeringan ini. Musim panas ini mengakibatkan petani kami mengalami kerugian, walaupun mungkin tidak signifikan,” kata Muslimat, Jumat (2/10/26).
Ia mengatakan, pemerintah kelurahan belum dapat memastikan nilai kerugian maupun hasil produksi sawah pada musim tanam kali ini. Selain kekurangan air, Muslimat menyebut sebagian lahan di Lingkungan Subur juga menghadapi persoalan lain berupa pengaruh air laut.
“Kalau di Lingkungan Subur itu bukan kekeringan yang signifikan. Airnya masih ada, cuma debit airnya yang kurang. Di situ juga terdampak air laut, ada kenaikan air laut,” katanya.

Petani Harus Mengatur Air Secara Bergilir
Di tengah kondisi tersebut, petani Liabuku harus mengatur penggunaan air secara bergiliran untuk mempertahankan tanaman.
Sukarwo, salah seorang petani yang telah menggarap lahan di kawasan tersebut selama sekitar 20 tahun, mengatakan, kondisi kering mulai dirasakan sejak memasuki musim timur.
“Sudah dua bulanan lebih. Padi saya sudah umur hampir dua bulan. Di bawah kering sana,” kata Sukarwo.
Menurutnya, kekeringan bahkan sudah terjadi sebelum tanaman padi ditanam. Saat ini, air masih tersedia, tetapi debitnya sangat kecil, sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh lahan dalam satu hamparan.
“Ada air, tapi kecil. Kita gilir saja tidak mampu. Banyak meresap-meresap saja (Meresap dalam retakan tanah),” ujarnya.
Sukarwo menggarap lahan sekitar 1,5 hektare. Ia mengatakan, kondisi serupa juga dialami petani lain dalam satu kelompok hamparan.
“Tanah satu kelompok ini kering. Ada air, tapi kecil,” katanya.
Meski tanah di lahan pertanian mulai mengalami kekeringan hingga terlihat retak, Sukarwo mengatakan, tanaman padi miliknya belum sampai mati.
“Tidak mati padinya (Kondisi mulai menguning). Ya, kering memang. Tanahnya terbelah-belah, itu bisa dicek,” ujarnya.
Mengatasi Kekeringan dengan Mesin Pompa dan Selang Panjang
Keterbatasan pasokan air membuat sebagian petani mengambil langkah mandiri untuk mempertahankan tanaman.
Sukarwo menggunakan mesin pompa air atau alkon miliknya sendiri, untuk mengambil air dari Kali Besar yang berjarak sekitar 150 meter dari lahannya, mengalirkannya melalui selang.
Namun, kemampuan pompa tersebut terbatas. Menurut Sukarwo, air yang dipompa masih cukup untuk mengairi tanaman sayuran, tetapi belum mampu memenuhi kebutuhan sawah padi seluas lahannya.
“Kalau untuk sayur bisa. Tapi kalau padi enggak mampu,” katanya.
Kondisi itu terjadi karena tanaman padi membutuhkan pasokan air lebih banyak, dan lebih sering, dibandingkan tanaman sayuran.
“Kalau sayur kan nggak terlalu memerlukan air, beda dengan padi, kalau padi kan hari-hari termasuk. Makanya kita kalau mengisapkan di padi enggak mampu. Bensin ini masalahnya, boros ini,” ujarnya.
Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Pertanian telah menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian untuk mendukung pengairan lahan warga.
Lurah Liabuku, Muslimat mengatakan, bantuan alkon telah diterima dan digunakan kelompok tani.
“Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Pertanian sudah mengambil langkah, memberikan bantuan alkon kepada masyarakat kami di Kelurahan Liabuku,” kata Muslimat.
Menurutnya, bantuan tersebut sudah terpasang dan telah digunakan oleh kelompok tani.
“Sudah digunakan, sudah terpasang oleh kelompok tani,” ujarnya.
Namun, berdasarkan penelusuran redaksi Kasamea.com, didapatkan keterangan berbeda terkait kondisi bantuan di tingkat petani. Bantuan tersebut memang sudah diterima, tetapi proses pemasangannya belum sepenuhnya selesai, dan petani masih menunggu mesin.
“Sudah diterima, hanya cara kerjanya di sini lambat,” keterangan yang diperoleh redaksi Kasamea.com, di area persawahan di Liabuku.
Bagian yang masih terkendala, adalah proses pemasangan. Saat ini kelompok tani masih menunggu mesin pompa atau diesel untuk dapat mengoptimalkan bantuan tersebut.
Perbedaan keterangan tersebut menunjukkan bahwa bantuan sarana pengairan telah masuk ke kelompok tani, tetapi pemanfaatannya di tingkat lahan masih menghadapi persoalan teknis pemasangan dan ketersediaan mesin.
Bagi sebagian petani di Liabuku, persoalan utama kini bukan hanya menunggu hujan, tetapi memastikan tanaman tetap memperoleh air hingga memasuki masa panen.
Dengan debit air yang terbatas, petani harus memilih waktu pengairan, menggunakan pompa secara mandiri, sekaligus menanggung tambahan biaya untuk bahan bakar dan sarana distribusi air.
Sementara itu, potensi kerugian hasil pertanian belum dapat dihitung, karena tanaman padi di sejumlah lahan masih dalam masa pertumbuhan.
Kondisi tersebut membuat keberlanjutan pasokan air menjadi faktor penting bagi petani Liabuku, untuk mempertahankan tanaman hingga musim panen.









Komentar