Baubau Keciprat Puluhan Milyar Bantuan Pertanian
Kementerian Pertanian (Kementan) mengalokasikan bantuan sektor pertanian senilai lebih dari Rp30 miliar kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Baubau pada 2025. Bantuan tersebut mencakup alat dan mesin pertanian (alsintan), pembangunan berbagai jaringan irigasi, serta program peningkatan produktivitas pertanian yang ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan produksi padi di daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Baubau, Abdul Wahid, menjelaskan bahwa bantuan yang telah diterima berasal dari berbagai program Kementerian Pertanian. Salah satunya berupa bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) dengan nilai mencapai Rp1,6 miliar.
Selain itu, pemerintah pusat juga mengalokasikan anggaran sekitar Rp600 juta untuk pembangunan dam parit, irigasi perpompaan, dan jaringan irigasi air tanah yang pelaksanaannya dilakukan secara swakelola oleh kelompok tani.
“Bantuan Alsintan dari Kementerian Pertanian nilainya Rp1,6 miliar. Kemudian ada sekitar Rp600 juta untuk dam parit, irigasi perpompaan, dan jaringan irigasi air tanah yang dananya langsung disalurkan kepada kelompok tani,” kata Abdul Wahid.
JIAT Rp2 Miliar Telah Beroperasi
Selain program yang sedang berjalan, Kementan juga telah menyelesaikan pembangunan dua unit Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) senilai Rp2 miliar. Fasilitas tersebut berada di wilayah Kampeonaho dan Kaisabu.
Menurut Abdul Wahid, kedua jaringan irigasi tersebut telah beroperasi, dan mulai dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan air pertanian masyarakat.
Keberadaan JIAT dinilai penting dalam menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian, terutama saat menghadapi perubahan cuaca dan potensi musim kering yang dapat mempengaruhi produktivitas tanaman pangan.
Proyek Irigasi Rp28 Miliar di Empat Kecamatan
Pada tahun ini, Kota Baubau juga mendapatkan proyek pembangunan tujuh unit jaringan irigasi air tanah dengan total anggaran mencapai Rp28 miliar. Infrastruktur tersebut dilengkapi sumur bor berkapasitas besar, dan jaringan distribusi air yang dikerjakan oleh badan usaha milik negara (BUMN).
Selain itu, program tersebut mencakup pembangunan jaringan irigasi tersier di enam lokasi, serta pengembangan jaringan irigasi sekunder untuk memperluas cakupan layanan irigasi.
“Secara keseluruhan bantuan yang masuk ke Baubau tahun ini sekitar Rp30 miliar lebih, tersebar di beberapa Kecamatan, Bungi, Lea-Lea, Sorawolio, dan Betoambari (Waborobo),” ujarnya.
Dorong Peningkatan Produksi Padi
Dukungan pemerintah pusat tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi padi sawah Kota Baubau. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan mencatat produksi padi pada 2025 mencapai sekitar 12.400 ton. Meski demikian, potensi penurunan produksi akibat cuaca ekstrem dan ancaman El Nino, masih menjadi tantangan yang harus diantisipasi.
“Target produksi tetap menjadi fokus kami. Memang ada pengaruh cuaca ekstrem dan potensi El Nino, tetapi dengan dukungan infrastruktur irigasi yang semakin banyak, kami optimistis produksi pertanian dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan,” kata Abdul Wahid.
Penangkaran Benih Unggul Jadi Strategi
Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah daerah juga menyiapkan program penangkaran benih unggul sebagai strategi peningkatan produktivitas.
Program ini akan menggunakan benih bersertifikat unggul yang diperoleh dari provinsi, untuk menghasilkan varietas padi dengan produktivitas lebih tinggi dibandingkan benih yang selama ini digunakan petani.
Menurut Abdul Wahid, produktivitas rata-rata padi saat ini berada pada kisaran lima ton per hektare. Dengan penggunaan benih unggul melalui program penangkaran, produktivitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi tujuh hingga delapan ton per hektare. Upaya ini diharapkan menjadi salah satu faktor utama dalam memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani di Kota Baubau.













Komentar