oleh

Dua “Buronan Kakap” Indonesia Ditangkap di AS

Kasamea.com JAKARTA

Saat ini ada dua buronan kakap Indonesia yang sudah tertangkap di Amerika Serikat (AS). Keduanya diduga lebih merugikan banyak orang, dan jumlah uang yang dikemplang lebih besar dari dugaan kasus yang menjerat Joko Tjandra.

Informasi yang diperoleh Ind Police Watch (IPW) dari negeri Paman Sam menyebutkan, bahwa ada dua buronan Indonesia yang masuk dalam Red Notice tahun 2018, yang sudah diketahui keberadaannya di AS, dan telah berhasil ditangkap pihak imigrasi AS (ICE).

“Kami sedang koordinasikan untuk bisa dibawa pulang ke Indonesia. Doakan bisa kita lakukan segera ya, sebab masih ada hambatan dari pihak AS disini,” pernyataan sumber IPW, Senin, WIB sore ini.

Kedua buronan kakap tersebut adalah Indra Budiman dan Sai Ngo NG.

Kasus Indra Budiman adalah kasus dugaan penipuan dan money laundring, terkait penjualan Condotel Swiss Bell di Kuta Bali. Sedangkan Sai Ngo NG diduga terlibat kasus korupsi terkait pengajuan 82 KUR fiktif ke Bank Jatim Cabang Woltermonginsidi Jakarta. Kedua kasus itu terjadi pada Mei 2015.

Dalam kasus Indra Budiman, rekannya Christopher Andreas Lie berhasil ditangkap oleh Subdit Fiskal Moneter dan Devisa Ditreskrimsus Polda Metro Jaya pada Mei 2015. Kasus ini terungkap setelah keduanya diketahui menipu 1.157 orang dengan kerugian Rp 800 milyar.

Pelaku dan rekannya Indra Budiman diduga melakukan penipuan dengan membuat perusahaan konsultan properti yang menjual apartemen dan condotel dengan harga Rp 1 milyar lebih. Ada 12 properti yang mereka jual. PT Royal Premier Internasional bentukan keduanya menawarkan properti dikemas dengan program investasi emas dan asuransi. Iming-iming yang dilancarkan adalah balik modal ditahun ke-10 hingga ke-15. Nasabah juga mereka janjikan keuntungan, cash back sebesar dua persen, dan mendapatkan hadiah kendaraan mewah. Dalam kasus ini Christopher melakukan kontrak pembelian dengan developer atas nama korban, namun tidak membayarkan uang customer sepenuhnya. Korban tersebar di Jakarta, Bandung, Bali dan Yogyakarta. Sebagian uang digunakan untuk trading dan investasi, sebagian lagi untuk membeli rumah, tanah dan kendaraan pribadi. Saat Christofer tertangkap, Indra berhasil kabur ke Korea Selatan dan kemudian ke AS, hingga tertangkap.

“Kita upayakan barter dengan buronan AS yang sudah ditangkap oleh Polda Bali minggu lalu,” lagi pernyataan sumber IPW.

IPW menilai, terkesan, pihak Polri masih slow slow saja menyikapinya (penangkapan dua buronan di AS). Tak seheboh seperti saat memburu Joko Tjandra.

“Hingga saat ini Jenderal Jenderal Mabes Polri belum merespon penangkapan dua buronan kakap di AS tersebut. Para Jenderal Mabes Polri masih terpukau dengan penangkapan Joko Tjandra,” demikian press release Ketua Presidium IPW, Neta S Pane, Senin (3/8/20) petang ini.

[RED]

Komentar

News Feed