Ekspor Tuna ke Amerika, CV Buton Indo Tuna Buka Peluang Bagi Nelayan Lokal dan Perluas Pasar
Baubau
Perusahaan eksportir hasil perikanan CV Buton Indo Tuna, terus memperkuat rantai pasok komoditas perikanan dari Pulau Buton menuju pasar internasional.
Selain menjadikan tuna sebagai komoditas utama, perusahaan juga meningkatkan produksi dan pembelian sejumlah jenis ikan bernilai ekspor seperti tenggiri, lemadang, julung-julung, ikan jenggot, tiko-tiko hingga gurita, untuk memenuhi permintaan buyer, dengan sekitar 80 persen ekspor saat ini ditujukan ke Amerika Serikat.
Permintaan Ekspor Terus Meningkat
Pimpinan CV Buton Indo Tuna, Hedianto, mengatakan perusahaan telah menjalankan aktivitas ekspor selama kurang lebih dua tahun, dengan fokus memenuhi kebutuhan buyer yang sebagian besar berada di Jakarta, sebelum dikirim ke berbagai negara tujuan.
Menurutnya, tuna masih menjadi produk dengan permintaan tertinggi, disusul sejumlah komoditas perikanan lainnya yang kini mulai diminati pasar internasional.
“Produk unggulan kami tetap tuna. Namun sekarang kami juga mulai memproduksi lemadang, tenggiri, julung-julung, ikan jenggot, tiko-tiko hingga gurita, karena permintaannya terus meningkat,” ujar Hedi, sapaan akrabnya.
Amerika Serikat Menjadi Pasar Utama
Hedi menjelaskan, sebagian besar produk hasil perikanan yang dikumpulkan perusahaan dikirim terlebih dahulu ke Jakarta, sebelum diekspor ke sejumlah negara, di antaranya Amerika Serikat dan Jepang. Namun, sekitar 80 persen ekspor perusahaan saat ini masih didominasi pasar Amerika Serikat.
Pada tahun lalu, kebutuhan tuna dari buyer bahkan ditargetkan mencapai sekitar 100 ton per bulan, sedangkan komoditas lain, rata-rata sedikitnya satu kontainer setiap bulan, dengan kapasitas sekitar 15 hingga 17 ton.
Pasokan Berasal dari Sejumlah Wilayah di Pulau Buton
Menurut Hedianto, pasokan tuna sebagian besar berasal dari wilayah Pasarwajo, Siompu dan Lasalimu di Pulau Buton. Sementara untuk komoditas tenggiri dan wahoo, suplai terbesar berasal dari kawasan Bone-Bone dan perairan sekitar Baubau.
Adapun gurita juga mulai dipasok dari beberapa wilayah pesisir yang selama ini dikenal sebagai daerah penangkapan nelayan tradisional.
“Setiap daerah memiliki keunggulan komoditas yang berbeda. Untuk Baubau, tenggiri lebih dominan, sedangkan tuna banyak berasal dari wilayah lain di Pulau Buton,” katanya.
Harga Pembelian Mengikuti Permintaan Pasar
Saat ini perusahaan membeli tuna dengan harga sekitar Rp70.000 per kilogram. Untuk wahoo berkisar Rp35.000 per kilogram, sedangkan gurita ukuran di atas dua kilogram mencapai sekitar Rp80.000 per kilogram.
Harga gurita berukuran lebih kecil bervariasi mulai Rp30.000 hingga Rp50.000 per kilogram. Sementara lemadang ukuran besar dibeli sekitar Rp30.000 per kilogram dan ukuran sedang berkisar Rp20.000 per kilogram.
Hedi mengatakan, meningkatnya permintaan ekspor telah memberikan dampak positif terhadap kenaikan harga jual hasil tangkapan nelayan, dibandingkan ketika hanya dipasarkan secara lokal.
Musim Penangkapan dan Nilai Tukar Dolar Berpengaruh
Hedi mengungkapkan, produksi tuna sangat dipengaruhi musim penangkapan. Pada musim puncak, yakni sekitar Agustus hingga Januari, pasokan dari nelayan dapat mencapai 10 hingga 20 ton per bulan. Sebaliknya, pada musim paceklik, produksi hanya berkisar tiga hingga lima ton.
Selain faktor musim, fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat juga memengaruhi harga pembelian ikan, karena sebagian besar transaksi ekspor dilakukan untuk pasar Amerika.
“Kalau kurs dolar naik, biasanya harga pembelian juga ikut bergerak, karena pasar utama kami memang Amerika,” jelasnya.
Nelayan Didorong Tingkatkan Kualitas dan Produktivitas
Hedi menilai peluang peningkatan ekspor hasil perikanan dari Pulau Buton masih sangat terbuka. Namun, peningkatan produksi memerlukan dukungan alat tangkap yang memadai, peningkatan keterampilan nelayan, serta penerapan penanganan hasil tangkapan yang baik, agar kualitas ikan tetap memenuhi standar ekspor.
Menurutnya, perusahaan juga terbuka terhadap peluang pasar baru, termasuk negara-negara Timur Tengah, selama memberikan prospek usaha yang menguntungkan dan tetap didukung ketersediaan produksi dari nelayan lokal.
Kunjungan Menteri Haji dan Umrah
Beberapa pekan lalu, Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, meninjau langsung pusat pengolahan ikan ekspor milik CV Buton Indo Tuna, yang berlokasi di Kelurahan Sulaa, Kecamatan Betoambari, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara. Peninjauan ini sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi haji.
Kunjungan kerja Menteri Haji dan Umrah bertujuan mengkaji peluang produk perikanan daerah menjadi salah satu pemasok kebutuhan pangan bagi jamaah haji Indonesia di Arab Saudi.
Irfan Yusuf menjelaskan bahwa pemerintah tengah memetakan potensi daerah agar produk lokal dapat terhubung dengan kebutuhan logistik penyelenggaraan ibadah haji. Menurutnya, wilayah kepulauan seperti Sulawesi Tenggara memiliki peluang besar melalui komoditas hasil laut.
“Hari ini saya melihat langsung proses pengolahan ikan untuk mengetahui kemungkinan produk ini dapat menjadi salah satu bahan makanan bagi jamaah haji. Secara produk saya kira ada dan bisa, namun secara teknis masih harus memenuhi ketentuan pengemasan, pengiriman, serta regulasi pemerintah Arab Saudi,” jelasnya, 12 Juli 2026.
Kata Menteri, kementeriannya akan menginventarisasi potensi dari berbagai daerah, sebelum menentukan komoditas yang dapat masuk dalam rantai pasok kebutuhan jamaah haji. Hasil kajian tersebut akan menjadi dasar penyusunan kebijakan pengembangan ekosistem ekonomi haji.
“Daerah pesisir memiliki potensi produk laut yang bisa terkoneksi dengan kebutuhan haji. Setelah kunjungan ini, akan dilakukan pembahasan lebih lanjut, mengenai aspek teknis, agar peluang tersebut dapat direalisasikan,” ujarnya.
Berita terkait:









Komentar