oleh

Morikana Terobosan Dinas PUPR Baubau 2020

Kasamea.com BAUBAU

Morikana adalah akronim dari Mobilisator Rencana Integrasi Kawasan Agraria, Niaga dan Pariwisata, buah konsep terobosan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Baubau tahun 2020 ini, mengejawantahkan item visi misi Wali Kota – Wakil Wali Kota Baubau Dr H AS Tamrin MH – La Ode Ahmad Monianse.

Sesungguhnya apa yang hendak direalisasikan melalui konsep Morikana, dan bagaimana konsep ini mengemuka?

Kepala Dinas PUPR Kota Baubau, H Andi Hamzah Machmud SSos MSi menjelaskan, bahwa sistem prasarana dan sarana transportasi sebagai infrastruktur dasar, yang merupakan salah satu syarat mutlak bagi terjadinya pergerakan ekonomi wilayah. Sistem pendukung dan pendorong prasarana transportasi sangat berperan terhadap efisiensi dan evektivitas kegiatan ekonomi suatu wilayah.

Jalan merupakan infrastruktur yang dibangun pemerintah guna kelancaran pengembangan suatu daerah/wilayah, sehingga menjadi aset yang harus dikelola dan difungsikan secara optimal. Pembangunan infrastruktur jalan, bertujuan untuk mendukung distribusi lalu lintas barang maupun manusia, dan membentuk struktur ruang wilayah.

Perkembangan perekonomian, perdagangan dan jasa, pariwisata, dan peningkatan pertambahan jumlah penduduk, serta posisi Kota Baubau yang cukup strategis, mengakibatkan meningkatnya arus penumpang serta permintaan barang dan jasa, khususnya dibidang perhubungan darat.

Disisi lain pula, terjadi penurunan kinerja pada ruas-ruas jalan yang sudah terbangun, sehingga berdampak pada konektivitas antar wilayah. Kondisi ini tentu saja menuntut ketersediaan sarana dan prasarana jalan yang memadai, menjadi prioritas utama.

Jalan Lingkar dan Jalan Baypass

Jalan Lingkar dan Jalan Baypass merupakan jalan yang melingkari pusat kota dan beberapa pusat-pusat pertumbuhan Kota Baubau, yang berfungsi untuk mempercepat perjalanan dari satu sisi kota, ke sisi kota yang lain, tanpa harus melalui pusat kota, dan mengalihkan arus lalu lintas yang melewati pusat kota tersebut.

Pembangunan Jalan Lingkar dan Jalan Baypass di Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan salah satu cara pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat, dengan pengembangan sistem jaringan jalan perkotaan yang dilakukan saat ini, melalui konsep Program Jalur Morikana (Mobilisator Rencana Integrasi Kawasan Agraria, Niaga dan Pariwisata), yang diinisiasi Dinas PUPR Kota Baubau.

Terdapat dua fokus pengembangan infrastruktur di Kota Baubau, yakni pembangunan Jalan Lingkar, yang akan membelah Kota Baubau menjadi dua, yang pembangunannya dimulai dari Pantai Nirwana-Batauga menuju Labalawa, Sorawolio dan melintas ke Bungi. Serta pembangunan Jalan Baypass yang menghubungkan dua pusat pertumbuhan sosial ekonomi, antara Kawasan Pelabuhan Murhum dan Kawasan Pergudangan Kota Baubau di Lakologou. 
 
Pembangunan Jalan Lingkar dan Jalan Baypass didasari oleh kebutuhan masyarakat Kota Baubau, secara khusus untuk dimasa yang akan datang dan menjadi pengembangan beberapa kawasan strategis baru. Berorientasi pada  peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Baubau khususnya, dan Sulawesi Tenggara (Sultra) pada umumnya. Yang pada akhirnya, tentunya bertujuan meningkatkan perekonomian nasional.

Pembangunan sektor infrastruktur ini bertujuan pula, disamping untuk mendukung sektor pariwisata berbasis infrastruktur di Kota Baubau, dan untuk pemerataan pembangunan disegala sektor. Sekaligus menjawab berbagai masalah dimasa depan, dengan menciptakan tata guna lahan yang bisa menghindari kemacetan, yang tentunya dengan membangun jalur-jalur baru, yang bisa terpenuhi melalui penyebaran pembangunan. Sehingga, kawasan-kawasan yang dahulunya terisolir, bisa memenuhi rencana tata guna lahan. Sehingga, pembangunan bisa terdistribusikan secara merata.

Tujuan dari pembangunan Jalan Lingkar dan Jalan Baypass di Kota Baubau yaitu, mengurai kepadatan lalu lintas, khususnya kendaraan bermuatan berat. Selain itu, Jalan Lingkar merupakan jalur alternatif, dimana jalur ini lebih cepat menempuh daerah tujuan, dibandingkan harus melalui jalan yang ada di pusat kota.

Adanya pembangunan Jalan Lingkar di Kecamatan Bungi, Sorawolio, Wolio dan Kecamatan Betoambari Kota Baubau akan mempengaruhi perubahan penggunaan lahan dan nilai lahan di sekitar Jalan Lingkar tersebut. Pembangunan Jalan Lingkar akan mempengaruhi naiknya nilai lahan suatu tempat, yang seiring meningkatnya harga lahan. Dan distribusi sebaran penduduk akan lebih merata dengan dibukanya akses Jalan Lingkar tersebut, karena sebaran penduduk akan cenderung mengikuti pusat-pusat kawasan ekonomi baru yang akan lahir di sepanjang Jalan Lingkar tersebut.

Lebih lanjut mantan Sekretaris Bappeda Kota Baubau ini menuturkan, nilai lahan dalam suatu kota dianggap mempunyai kaitan yang erat dengan pola penggunaan lahan. Penggunaan lahan dan harga lahan akan saling menentukan dengan berkembangnya area perkotaan di Kota Baubau.

Informasi nilai tanah sangat penting untuk berbagai pihak yang dapat digunakan sebagai referensi dalam menentukan nilai suatu properti, besarnya ganti rugi dalam pembebasan tanah, dan lain sebagainya.

Peran pembangunan dua Kawasan Strategis Infrastruktur, yakni Jalan Lingkar dan Jalan Baypass, akan menjadikan Kota Baubau sebagai Kota Baru yang berkembang dua kali lebih cepat dari daerah hinterland-nya. Karena fokus pada pengembangan infrastruktur yang berorientasi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Kota Baubau, dimana pengembangan dua kawasan strategis infrastruktur ini juga akan memastikan kesiapan Kota Baubau dari aspek infrastruktur yang bersifat strategis dan mempunyai multiplier effect sebagai calon Ibu Kota Provinsi Kepulauan Buton, yang akan terbentuk kedepannya.

[RED]

Komentar

News Feed