oleh

Peka Kande Kandea Bau-Bau Raih Rekor Dunia MURI

BAU-BAU

Menjadi pemandangan yang unik di Benteng Keraton peninggalan bersejarah eks Kesultanan Buton, ketika lebih 1000 talang menyajikan makanan khas Kota Bau-Bau, dalam acara ritual Peka Kande Kandea. Talang berisi aneka kuliner tradisional ini berjajar rapi, menggugah selera, di areal Benteng Keraton sepanjang 2.740 Meter, dalam Benteng seluas 23.375 Meter Persegi.

Peka Kande Kandea yang digelar mengelilingi Benteng Terluas di Dunia ini merupakan salah satu rangkaian Festival Keraton dan Masyarakat Adat (FKMA) ASEAN VI POLIMA, yang tahun 2019 ini digelar di Kota Bau-Bau Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Yang kemudian mendapat Penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas rekor Sajian Peka Kande Kandea Pertama Mengelilingi Benteng.

Piagam Penghargaan Rekor Dunia Indonesia (MURI) bernomor 9304/R.MURI/XI/2019 diserahkan Ketua Umum MURI Prof. Dr.h.c.KP Jaya Suprana, diwakili Ryadhi Chandra dan Triyono, kepada Wali Kota Bau-Bau, Dr. AS Tamrin, MH, Rabu (20/11/19) malam, di salah satu Restaurant Resort di Kota Bau-Bau.

Menerima Piagam Penghargaan Rekor MURI, AS Tamrin tak henti mengucap syukur, juga berterima kasih kepada Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas penghargaan yang diberikan.

Kata AS Tamrin, penghargaan atau pemecahan rekor bukanlah target digelarnya Peka Kande Kandea, akan tetapi lebih kepada pelestarian Budaya, yang ternyata mendapat perhatian, apresiasi penghargaan dari MURI.

Iapun berharap, penghargaan yang diraih dapat menjadi motivasi bagi Pemerintah dan masyarakat Kota Bau-Bau, dalam konsistensi terus merawat dan melestarikan Budaya.

Peka Kande Kandea kali ini sengaja digelar, selain sebagai salah satu rangkaian FKMA VI POLIMA, juga untuk menjamu para tamu Raja / Sultan delegasi Keraton Kerajaan Kesultanan se Nusantara, juga beberapa Negara ASEAN.

Peka Kande Kandea merupakan warisan Budaya Leluhur Bau-Bau yang sudah sejak ratusan tahun silam digelar, sebagai ajang silaturahim masyarakat.

Sebelumnya, AS Tamrin menjelaskan makna Peka Kande Kandea sebagai ajang silaturahim, mempererat ikatan persaudaraan, kekerabatan, perkenalan. Dizaman dahulu kata AS Tamrin, di Bau-Bau (eks Kesultanan Buton), warga, baik laki-laki, maupun perempuan tidak keluar rumah seenaknya (sembarangan, tanpa suatu urusan penting, red). Melalui Peka Kande Kandea inilah, kesempatan bagi warga untuk berkomunikasi dengan dunia luar.

Menurutnya, pelaksanaan Peka Kande Kandea saat ini tak seperti zaman Kerajaan / Kesultanan dahulu kala. Kata dia, saat ini Peka Kande Kandea digelar dalam momentum penting, khususnya pada event-event Budaya.

“Kali ini peka kande-kandea menjadi lebih spesifik, lebih unik, karena dilakukan mengelilingi benteng keraton. Ini baru pertama kali ini dilakukan,” semangatnya.

Hadir untuk makan bersama dalam acara Peka Kande Kandea kali ini, para Raja / Sultan se Nusantara, juga tamu dari Korea, Malaysia, Thailand, Philipina dan Rusia.

Peka Kande Kandea melibatkan organisasi perangkat daerah, lembaga swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang sangat berkontribusi dalam menyukseskan pelaksanaannya.

Para Raja / Sultan, serta tamu FKMA nampak sangat antusias, dan terpuaskan dengan menghadiri, mencicipi kuliner khas Bau-Bau dalam Peka Kande Kandea.

“Wajar kalau mereka nyatakan baru kali ini mereka menyaksikan acara seperti ini, karena memang susah untuk ditemukan. Peka Kande Kandea ini hanya kita yang lakukan di Buton ini,” sebut AS Tamrin, bangga.

[RED]

Komentar

News Feed