Puskesmas Ujung Tombak Pelayanan Kesehatan, Dinkes Baubau Tuntaskan Validasi dan Evaluasi

Baubau

 

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sebagai unit pelayanan kesehatan primer, menjadi ujung tombak dalam melakukan upaya promotif, prefentif, kuratif dan rehabilitatif.

Seperti diketahui bersama, sejak tahun 2021, Menteri Kesehatan menginisiasi trasnformasi kesehatan sebagai pembelajaran dari pengendalian  Covid-19. Kesehatan kini menjadi prioritas pertama, publik lebih peduli dan menyadari pentingya kesehatan, institusi dan organisasi juga memahami pentingnya menjaga tenaga kerja tetap sehat dan mencukupi.

Pandemi juga telah menyadarkan kita akan pentingnya resiliensi sector kesehatan. Transformasi telah dimulai dengan merevisi rencana strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2025-2029. Hal ini diungkapkan Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Baubau, dr Frederik Tangke Allo SpB, dalam giat Validasi Data Sasaran/Cakupan Penemuan Kasus dan Evaluasi Pelaksanaan Program P2P tingkat Kota Baubau Tahun 2025, Selasa 23 Desember 2025.

“Puskesmas sebagai unit pelayanan kesehatan primer, menjadi ujung tombak dalam melakukan upaya promotif, prefentif, kuratif dan rehabilitatif. Apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Puskesmas, atas dedikasi dan kerja kerasnya, dalam melaksanakan program pencegahan dan pengendalian penyakit,” ungkapnya.

Frederik mengajak seluruh jajarannya, terkhusus jajaran Puskesmas, menjadikan giat Validasi Data Sasaran/Cakupan Penemuan Kasus dan Evaluasi Pelaksanaan Program P2P, sebagai momentum untuk memperkuat sinergi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Diakhir giat, Frederik sekaligus memberikan penghargaan kepada Puskesmas dengan capaian program terbaik. Keberhasilan ini tentu merupakan hasil kerja dengan tim yang solid, komitmen yang kuat serta inovasi yang terus dikembangkan.

Frederik mengharapkan, melalui giat ini dilakukan evaluasi capaian program, mengidentifikasi kendala yang dihadapi, mempelajari best practise (pengalaman sukses) dari Puskesmas yang ada, untuk selanjutnya menyusun langkah-langkah strategis yang akan dilakukan kedepan.

Kata Frederik, pencegahan penyakit adalah upaya untuk menghambat perkembangan penyakit, memperlambat kemajuan penyakit, dan melindungi tubuh dari pengaruh agen yang membahayakan tubuh. Pada praktiknya, pencegahan penyakit mengarahkan sejumlah kegiatan untuk melindungi manusia dari ancaman kesehatan potensial.

“Penyusunan dan singkronisasi perencanaan strategis yang terus dikembangkan, untuk membantu program bekerja lebih baik dan mencapai tujuan secara lebih efektif dan efisien. Sebagai upaya pemberantasan Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular, dilakukan secara simultan dan berjenjang,” urainya.

Hadir dalam giat yang dilaksanakan di meeting room salah satu hotel di Baubau ini, pejabat struktural Dinkes Baubau, para Kepala UPTD Kesehatan se- Baubau, Pengelola program P2P baik di RSU, UPTD Puskesmas, dan Klinik se- Baubau, dan undangan lainnya.

Dalam giat ini juga membahas  Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) hadir sebagai strategi nasional untuk memberikan solusi cepat, tepat, dan terukur dalam mengatasi berbagai tantangan pembangunan, termasuk disektor kesehatan. Terdapat tiga inisiatif utama PHTC dibidang kesehatan, yang tentunya akan saling melengkapi dalam membangun sistem kesehatan yang lebih responsif dan merata.

Hal tersebut adalah Pemeriksaan Kesehatan Gratis; program ini dirancang untuk memperkuat deteksi dini penyakit, meningkatkan literasi masyarakat tentang kesehatan, serta mengurangi beban finansial dari penyakit kronis dan katastropik.

Pelayanan diberikan secara menyeluruh mulai dari bayi hingga lansia, dengan target 70 persen populasi terlayani pada 2029. Penuntasan TBC; fokus program meliputi peningkatan deteksi kasus, peningkatan kepatuhan pengobatan, serta intensifikasi upaya pencegahan dan edukasi.

Dipilihnya TBC sebagai prioritas, mencerminkan besarnya beban penyakit ini, sekaligus perlunya perbaikan sistem pengendalian.

 

(Redaksi)

Komentar