Penulis: LM. Azhar Sa’ban
“Tentang Mimpi Menjadi Ayah dan Ibu”
Setelah semua keramaian pernikahan selesai, setelah tamu-tamu pulang dan dekorasi pelaminan dibongkar, akhirnya kami sampai pada kehidupan yang sesungguhnya: menjalani hari-hari sebagai suami dan istri.
Tidak ada lagi pakaian pengantin. Tidak ada lagi sorot kamera. Tidak ada lagi ucapan selamat yang datang bertubi-tubi.
Yang ada hanya kami berdua.
Dan anehnya, justru di situlah kebahagiaan kecil itu mulai terasa nyata.
Rumah kami tidak besar. Tidak mewah. Tidak seperti rumah-rumah megah yang sering muncul di media sosial. Tetapi bagi kami, rumah kecil itu adalah tempat di mana banyak mimpi mulai tumbuh.
Kami mulai mengisi rumah itu pelan-pelan. Membeli peralatan seadanya. Menata ruang tamu bersama. Memilih warna gorden sambil berdebat kecil. Menentukan posisi meja makan yang sebenarnya bisa dipindah kapan saja.
Hal-hal sederhana yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tetapi terasa sangat menyenangkan bagi pasangan yang baru memulai hidup bersama.
Kadang kami tertawa hanya karena hal kecil. Tentang saya yang tidak tahu tempat menyimpan sendok. Tentang dirinya yang selalu lupa mematikan lampu dapur. Tentang mie instan tengah malam yang terasa jauh lebih enak karena dimakan bersama sambil bercerita tentang hari yang melelahkan.
Rumah kecil itu perlahan menjadi tempat paling nyaman untuk pulang.
Sebagai seorang dosen, hari-hari saya dipenuhi aktivitas kampus, mahasiswa, rapat, dan pekerjaan akademik yang tidak pernah benar-benar selesai. Sementara istri saya, sebagai dokter, sering pulang dengan wajah lelah setelah menghadapi banyak pasien sepanjang hari.
Tetapi setiap malam, kami selalu punya cerita untuk dibagikan.
Saya bercerita tentang mahasiswa yang lucu di kelas. Ia bercerita tentang pasien anak-anak yang membuatnya gemas. Kadang kami tertawa bersama. Kadang hanya saling mendengarkan sambil menikmati secangkir teh hangat.
Di masa-masa awal pernikahan itu, hidup terasa begitu sederhana. Dan mungkin memang kebahagiaan sejati sering kali lahir dari kesederhanaan.
Kami mulai membayangkan banyak hal tentang masa depan.
Tentang bagaimana nanti jika rumah ini diisi suara tangisan bayi. Tentang mainan anak yang berserakan di ruang tamu. Tentang malam-malam tanpa tidur karena harus menenangkan anak yang menangis. Tentang hal-hal yang saat itu terdengar melelahkan, tetapi justru kami rindukan.
Kadang ketika melewati toko perlengkapan bayi, istri saya berhenti lebih lama dari biasanya.
“Lucu sekali”, katanya sambil melihat pakaian bayi kecil yang tergantung rapi.
Saya hanya tersenyum.
“Mau beli?” tanya saya bercanda.
Ia tertawa kecil.
“Nanti saja kalau sudah waktunya”.
Kalimat itu terdengar ringan. Sangat ringan. Karena saat itu kami percaya, waktunya pasti akan datang.
Kami juga sering membicarakan nama anak, meski kadang pembahasannya berakhir lucu.
“Kalau perempuan?” tanyanya.
Saya menyebut beberapa nama.
Ia menggeleng. “Terlalu serius”.
“Kalau laki-laki?”
“Jangan yang susah dipanggil.”
Lalu kami tertawa lagi.
Sekarang saya sadar, ternyata manusia memang suka membangun harapan bahkan sebelum kenyataan datang menghampiri. Dan tidak ada yang salah dengan itu.
Harapan membuat hidup terasa lebih hidup.
Di rumah kecil inilah, kami belajar banyak hal tentang pernikahan. Bahwa pernikahan bukan tentang selalu romantis seperti di film-film. Tetapi tentang hadir. Tentang pulang. Tentang tetap memilih satu sama lain bahkan setelah melihat sisi paling lelah dari pasangan kita.
Ada malam ketika istri saya tertidur di sofa karena terlalu lelah setelah bekerja. Ada pagi ketika saya berangkat ke kampus sambil diam-diam meninggalkan sarapan sederhana di meja makan.
Ada hari ketika kami bertengkar kecil hanya karena sama-sama keras kepala, lalu beberapa jam kemudian saling meminta maaf.
Kami masih belajar.
Tetapi bukankah memang begitu seharusnya sebuah pernikahan berjalan?.
Tidak ada pasangan yang langsung sempurna. Semua tumbuh bersama waktu.
Hari-hari di rumah kecil kami dipenuhi begitu banyak doa baik. Kami sering membayangkan beberapa tahun ke depan. Membayangkan keluarga kecil kami akan bertambah lengkap. Membayangkan ada langkah kaki kecil yang berlari memanggil kami dari ruang tengah.
Kadang sebelum tidur, istri saya berkata pelan, “Semoga nanti anak kita sehat ya”.
Saya mengangguk. “Amin”.
Sesederhana itu doa kami waktu itu. Tidak muluk-muluk.
Kami hanya ingin menjadi keluarga kecil yang utuh dan bahagia.
Dan seperti pasangan lain yang baru menikah, kami berpikir semuanya akan datang pada waktunya.
Kami tidak tahu bahwa setelah ini, kami akan belajar bahwa menunggu bisa menjadi perjalanan yang sangat panjang.
Tetapi di fase awal itu, rumah kecil kami benar-benar dipenuhi harapan. Harapan yang tumbuh di antara tawa-tawa sederhana.
Harapan yang hidup dalam doa-doa kecil sebelum tidur.
Harapan tentang seseorang yang belum hadir, tetapi sudah sangat kami cintai bahkan sebelum ia ada.
Dan tanpa kami sadari, sejak saat itu kami mulai menyiapkan ruang di hati untuk seorang anak yang sampai hari ini masih kami tunggu.
Bersambung …..
➡️ Pertanyaan yang Awalnya Terasa Biasa
Baca bagian sebelumnya:





Komentar