Baubau
Deklarasi stop bullying dan perundungan di SD Negeri Tomba Kota Baubau, menjadi pengingat bahwa sekolah seharusnya menumbuhkan keberanian, bukan ketakutan. Bahwa satu kata dapat melukai, tetapi satu kepedulian mampu menyembuhkan.
Deklarasi stop bullying dan perundungan dikumandangkan di SD Negeri Tomba, Kota Baubau, Sabtu, 14 Februari 2026. Kegiatan yang diinisiasi oleh orang tua siswa melalui komite orang tua, dan didukung penuh oleh pihak sekolah ini, menjadi momentum penting dalam menanamkan nilai anti-kekerasan sejak usia dini di lingkungan pendidikan dasar.

Kepala SD Negeri Tomba, Arsia Abidin mengatakan, deklarasi tersebut menyiratkan pesan mendalam tentang pentingnya mengajarkan anak, untuk menghindari serta mencegah tindakan bullying dan perundungan.
“Para siswa bersama guru dan orang tua menyuarakan komitmen bersama menciptakan suasana sekolah yang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh warga sekolah tanpa terkecuali,” ungkapnya.
Dalam kegiatan edukatif ini, kata Arsia, ditegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman, tempat belajar dengan tenang, tempat bertanya tanpa takut ditertawakan, serta ruang untuk menjadi diri sendiri tanpa merasa kecil.
“Nilai-nilai tersebut ditekankan sebagai fondasi pembentukan karakter siswa, yang saling menghargai dan menghormati perbedaan. Sekolah juga dimaknai sebagai tempat belajar bersama, termasuk belajar memilih kata dan menjaga perasaan teman,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, lanjut Arsia, para siswa diingatkan bahwa satu kata dapat melukai, tetapi satu kata baik juga mampu menguatkan. Pesan moral ini disampaikan secara sederhana, agar mudah dipahami dan diterapkan dalam interaksi sehari-hari.
Arsia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut baru pertama kali dilaksanakan di sekolah yang dipimpinnya. Menurutnya, deklarasi ini merupakan bentuk kolaborasi positif antara pihak sekolah dan orang tua siswa, dalam membangun lingkungan pendidikan yang lebih sehat dan ramah anak.
Iapun berharap deklarasi stop bullying dan perundungan dapat meninggalkan pesan serta kesan mendalam bagi seluruh siswa.
Ia juga menekankan agar komitmen yang telah diikrarkan tidak berhenti pada seremoni semata, melainkan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Dalam kesempatan itu pula diingatkan bahwa apabila ada siswa yang pernah mengalami bullying, hal tersebut bukanlah kesalahan mereka. Perasaan sedih dan takut merupakan hal yang manusiawi, dan tidak ada anak yang sendirian dalam menghadapi situasi tersebut.
“Siswa yang melihat temannya diejek diimbau untuk tidak ikut menertawakan, melainkan mengajak duduk bersama dan segera menyampaikan kepada guru agar permasalahan dapat ditangani dengan bijak,” seriusnya.
(Redaksi)









Komentar