Jakarta
Potensi ekonomi biru Indonesia sangat besar namun belum bergerak sepadan ditingkat daerah. Jurang antara kebijakan nasional dan implementasi di wilayah pesisir, kepulauan, dan perbatasan,a masih menjadi titik lemah pembangunan.
Permasalahan ini mengemuka dalam Dialog Strategis Nasional “Ekonomi Biru Indonesia: Menjembatani Kebijakan Nasional dengan Implementasi Daerah”, yang digelar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat, Beyond Borders Indonesia, dan Pemkab Maluku Tenggara, di Universitas Sahid, Jakarta.
Ketua Umum JMSI Pusat, Teguh Santosa, menegaskan, ekonomi biru akan terus terhenti sebagai wacana, jika suara daerah tidak masuk dalam arus utama kebijakan nasional. Oleh karenanya, Media daerah harus berfungsi sebagai penguji realitas kebijakan.
“Media daerah menentukan, apakah kebijakan pusat benar-benar bekerja di lapangan, atau hanya berhenti di dokumen,” tegas Teguh.
Teguh menekankan, JMSI memposisikan diri sebagai penghubung antara kebijakan nasional dan kondisi riil daerah, melalui penguatan narasi media lokal, distribusi konten lintas provinsi, serta penjagaan standar etika dan profesionalisme pers.
Dialog menghadirkan sejumlah pakar, antara lain: Guru Besar UI, Martani Huseini, Guru Besar Politeknik AUP Maman Hermawan, serta Bupati Maluku Tenggara, Muhammad Thaher Hanubun.
Forum diikuti lintas akademisi, mahasiswa, wartawan, dan anggota JMSI.
Hanubun memaparkan, Maluku Tenggara sebagai contoh wilayah dengan potensi ekonomi biru dan pariwisata yang tumbuh konsisten. Sepanjang 2025, kunjungan wisata ke Kepulauan Kei terus meningkat, dan puncaknya pada Juli–Oktober, seiring musim liburan nasional dan penguatan promosi digital.
Data Pemkab mencatat, destinasi terpadat dikunjungi wisatawan, yakni: Air Terjun Soindrat (18.275 pengunjung), Bukit Indah Bombay (16.275), Air Terjun Bombay (14.250), Pantai Ngursarnadan (13.851), dan Pantai Ngurtafur (10.910). Wisatawan didominasi domestik dan lokal, dengan wisatawan mancanegara yang meningkat signifikan pada semester kedua 2025.
Plt Kepala Dinas Pariwisata, Victor E. Budhi Toffi, menegaskan, Langgur berperan sebagai simpul utama transportasi dan layanan publik melalui Bandara Karel Sadsuitubun (LUV). Sekaligus pintu awal seluruh pengalaman wisata Kei.
Forum ini menegaskan satu pesan penting, bahwa tanpa media daerah yang aktif dan kritis, ekonomi biru berisiko terus menjadi jargon pembangunan, bukan mesin kesejahteraan.
(Redaksi)









Komentar