Tuturangiana Rea dan Andala di Waruruma, Ritual Syukur dan Mempertahankan Harmoni
Baubau
Di tengah kehidupan yang semakin modern, masyarakat adat Kelurahan Waruruma, Kecamatan Kokalukuna, Kota Baubau, masih mempertahankan dua ritual yang diwariskan leluhur dan tetap dijalankan dari generasi ke generasi: Tuturangiana Rea dan Tuturangiana Andala.
Keduanya bukan sekadar acara adat tahunan. Di balik doa, sajian makanan dan kebersamaan warga, tersimpan pesan yang cukup sederhana: manusia hidup dari tanah dan laut, sehingga keduanya harus dihormati dan dijaga.
Tuturangiana Rea merupakan ritual syukuran terhadap hasil bumi, sedangkan Tuturangiana Andala berkaitan dengan hasil laut. Masyarakat Waruruma juga mengenalnya sebagai bagian dari tradisi Pakandeana Mia-Miana Tana, atau sedekah bumi dan laut.
Tradisi itu tetap dijalankan hingga sekarang. Bukan karena masyarakat menolak perubahan zaman, tetapi karena ada nilai yang dianggap masih relevan untuk kehidupan hari ini.
Bukan Sekadar Ritual Tahunan
Dalam tata kehidupan masyarakat adat Waruruma, alam dipandang sebagai bagian dari ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Tanah memberikan hasil perkebunan dan laut menyediakan sumber kehidupan.
Karena itu, rasa syukur tidak berhenti pada doa. Ia diwujudkan melalui ritual, kebersamaan dan penghormatan terhadap lingkungan.
Tuturangiana Rea dilaksanakan di kawasan perkebunan jambu mete yang terbagi dalam tiga wilayah adat atau limbo, yakni Wamoono, Batuitapi dan Matandoke.
Ritual dipimpin pemuka adat/bersama tokoh agama dan disaksikan masyarakat Waruruma. Sementara Tuturangiana Andala dilaksanakan di kawasan pesisir atau tepi laut Waruruma.
Ada satu bagian yang selalu menarik perhatian: makanan tradisional khas Buton disusun dalam ritual. Sajian itu terlebih dahulu didoakan oleh pemuka adat dan tokoh agama sebelum kemudian disantap bersama masyarakat.
Di situlah ritual adat bertemu dengan kehidupan sehari-hari. Hasil bumi dan hasil laut tidak hanya dipandang sebagai komoditas, tetapi juga sebagai rezeki yang patut disyukuri.

Ketika Kearifan Lama Bertemu Zaman Modern
Mempertahankan tradisi di tengah perubahan zaman tentu bukan perkara mudah. Generasi muda tumbuh dengan teknologi, media sosial dan pola hidup yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Namun, Tuturangiana Rea dan Tuturangiana Andala masih memiliki ruang di tengah perubahan itu.
Bagi masyarakat Waruruma, yang dipertahankan bukan sekadar bentuk acaranya. Yang lebih penting adalah nilai di belakangnya: rasa syukur, kebersamaan, gotong royong serta kesadaran bahwa manusia tidak bisa memisahkan kehidupannya dari alam.
Lurah Waruruma, Eko, mengapresiasi keberadaan ritual tersebut sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Waruruma. Di dalamnya terkandung makna, sehingga penting untuk menjaga tradisi tahunan ini. Karena pelestarian tradisi bukan hanya menyangkut kegiatan budaya. Di dalamnya terdapat kearifan masyarakat mengenai cara membangun hubungan sosial dan memperlakukan lingkungan.
Sedekah Bumi dan Laut, Bukan Eksploitasi Alam
Nilai lain yang menonjol dari kedua ritual tersebut adalah hubungan manusia dengan alam.
Masyarakat menerima hasil bumi dan laut sebagai sumber kehidupan. Pada saat yang sama, tradisi mengajarkan bahwa alam tidak semestinya diperlakukan semata-mata sebagai sumber yang terus diambil.
Ada semacam keseimbangan yang hendak dijaga.
Tanah menghasilkan pangan. Laut memberikan hasil tangkapan. Manusia kemudian menunjukkan rasa syukur melalui tradisi dan pesan untuk menjaga lingkungan.
Perspektif seperti ini terasa semakin relevan ketika tekanan terhadap lingkungan terus meningkat. Sebab, persoalan lingkungan pada akhirnya bukan hanya persoalan pemerintah atau lembaga tertentu. Ia juga menyentuh cara masyarakat memandang tanah, laut dan ruang hidup mereka sendiri.
Waruruma Menjaga Identitas Budaya
Lurah Waruruma, Eko, mengatakan, keberadaan ritual adat tersebut masih dipertahankan masyarakat hingga sekarang. Keterlibatan warga menjadi salah satu alasan tradisi tersebut dapat terus bertahan.
Ritual tidak berdiri sendiri sebagai pertunjukan budaya. Warga terlibat dalam persiapan, pelaksanaan hingga menikmati hidangan bersama. Di sana ada ruang untuk bertemu, berbicara dan memperkuat hubungan antarwarga. Dalam konteks itu, ritual adat juga berfungsi sebagai ruang sosial.
Warisan Kesultanan Buton yang Masih Hidup
Tuturangiana Rea dan Tuturangiana Andala merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Buton yang masih hidup di tengah masyarakat Waruruma.
Warisan budaya tidak selalu hadir dalam bentuk benda atau bangunan tua. Ia bisa berupa pengetahuan, tata cara, doa, makanan, hubungan sosial dan cara masyarakat memahami alam.
Karena itu, ukuran kelestarian tradisi bukan hanya seberapa sering ritual dilaksanakan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah nilai yang terkandung di dalamnya masih dipahami dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Di Waruruma, jawabannya masih terlihat dalam keterlibatan masyarakat pada setiap pelaksanaan ritual.
Tradisi yang Mengingatkan Manusia
Pada akhirnya, Tuturangiana Rea dan Tuturangiana Andala membawa pesan yang tidak rumit.
Manusia membutuhkan tanah. Manusia membutuhkan laut. Dan manusia membutuhkan manusia lainnya.
Ketiganya saling berhubungan.
Ketika hubungan itu dirawat, tradisi tidak berhenti sebagai warisan masa lalu. Ia justru menjadi cara masyarakat membaca kembali kehidupannya sendiri.
Di Waruruma, tradisi itu masih dijalankan.
Tanah disyukuri. Laut dihormati. Makanan dibagikan. Warga berkumpul.
Dan dari sebuah ritual adat yang diwariskan leluhur, masyarakat kembali diingatkan bahwa menjaga kehidupan berarti juga menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan alam.
Tuturangiana Rea dan Tuturangiana Andala pun tidak sekadar menjadi cerita tentang masa lalu. Ia masih hidup, dan terus mendapatkan tempatnya di tengah zaman yang berubah.









Komentar