Wa Ode Al Zarliani di Sosialisasi Empat Pilar: “Perempuan Fondasi Karakter Generasi”
Baubau
Perempuan tidak hanya dipandang sebagai bagian dari keluarga, tetapi juga memiliki posisi penting dalam merawat nilai kebangsaan dan membentuk karakter generasi.
Pesan itu mengemuka dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang menghadirkan anggota DPD RI Aanya Rina Crismayanti, anggota DPD RI MZ Amirul Tamim, serta Rektor Universitas Muhammadiyah Buton Wa Ode Al Zarliani, di Kota Baubau.
Forum tersebut menjadi ruang dialog tentang relevansi Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan masyarakat, sekaligus membicarakan peran perempuan dalam menjaga nilai persatuan.

Perempuan sebagai Pilar Keluarga
Bagi Wa Ode Al Zarliani, menghadirkan kalangan ibu dalam sosialisasi Empat Pilar memiliki dampak yang lebih luas dibanding sekadar memberikan pemahaman kepada peserta.
Menurutnya, ibu memiliki kedekatan langsung dengan keluarga, sehingga nilai yang diperoleh dalam forum dapat diteruskan kepada anak, cucu maupun lingkungan sosialnya.
“Kalau kita berbicara tentang ibu-ibu, saya kira kita berbicara tentang keluarga. Mereka bisa menyampaikan juga, jadi ini tadi tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga bisa diteruskan atau didistribusi ke anak dan cucu-cucunya maupun teman-teman kerjanya,” ujar Al Zarliani, usai memaparkan materi, sebagai pembicara dalam sosialisasi empat pilar MPR RI, di vila Nirwana beberapa waktu lalu.
Ia menilai, pendekatan tersebut dapat menjadi salah satu strategi memperluas pemahaman nilai kebangsaan dari ruang sosialisasi menuju lingkungan keluarga.
Karena itu, menurut Al Zarliani, kegiatan serupa tidak seharusnya berhenti pada satu momentum.
Ia mendorong agar sosialisasi nilai kebangsaan juga menjangkau mahasiswa dan pelajar sekolah menengah.
“Jangan cuma kali ini, dan lebih lagi sebetulnya ditingkatkan, menghadirkan juga para mahasiswa atau anak-anak SMA yang saat ini memang di tengah krisis nilai,” katanya.
Dari Keluarga ke Generasi
Al Zarliani menilai, materi tentang perempuan sebagai pilar keluarga dan masyarakat, sangat relevan dengan tantangan kehidupan saat ini.
Menurutnya, keluarga merupakan lingkungan pertama tempat seorang anak memperoleh nilai, sikap, dan cara memandang kehidupan.
“Karena begitu lahir seorang anak, rasa pertama bagi seorang anak adalah di keluarga. Ibu yang setiap hari tentu beraktivitas dan bertemu dengan anak-anak,” ujarnya.
Ia menambahkan, kedekatan ibu dengan anak membuat peran perempuan dalam proses pembentukan karakter tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun generasi bangsa.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan aktivitas akademik Al Zarliani di UM Buton. Dalam kegiatan PKKMB 2026, ia memberikan materi mengenai “Perempuan Memimpin, Kelembagaan Berkemajuan”, yang menekankan pentingnya pengetahuan, kesiapan, kerja sama dan ketekunan dalam kepemimpinan.

Nilai Kebangsaan Perlu Diteruskan
Bagi Al Zarliani, sosialisasi Empat Pilar menjadi penting, ketika materi yang disampaikan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diterjemahkan dalam perilaku sehari-hari.
Nilai persatuan, kebersamaan dan tanggung jawab sosial, menurutnya, perlu tumbuh dari lingkungan paling dekat dengan masyarakat, yakni keluarga.
Dari keluarga, nilai tersebut kemudian dapat dibawa ke sekolah, kampus, tempat kerja, dan lingkungan sosial yang lebih luas. Karena itu, ia melihat perempuan memiliki posisi strategis dalam proses tersebut.
“Saya kira bicara tentang materi bahwa perempuan sebagai pilar keluarga dan masyarakat dalam merawat nilai-nilai persatuan dan kebersamaan, merupakan materi yang sangat bagus sesuai dengan fungsi saat ini,” kata Al Zarliani.
Pendidikan Tinggi dan Tantangan Generasi
Al Zarliani juga mengaitkan penguatan nilai kebangsaan dengan tanggung jawab perguruan tinggi.
Menurutnya, kampus tidak hanya memiliki tugas menghasilkan lulusan secara akademik, tetapi juga ikut membentuk sumber daya manusia yang memiliki wawasan, karakter dan tanggung jawab terhadap masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah pengembangan UM Buton yang dalam berbagai agenda 2026 menempatkan karakter, wawasan, kemampuan beradaptasi dan kepemimpinan sebagai bagian dari pembinaan mahasiswa.
Dalam konteks itulah, ia berharap forum penguatan Empat Pilar juga dapat diperluas kepada generasi muda. Sebab, menurutnya, generasi muda akan menjadi bagian penting dalam menentukan arah pembangunan Indonesia ke depan.
Dari Perempuan, Keluarga, hingga Bangsa
Pada akhirnya, pesan yang muncul dari forum tersebut berangkat dari satu ruang yang paling dekat dengan kehidupan manusia: keluarga.
Ketika nilai kebangsaan dipahami oleh orang tua dan diteruskan kepada anak, Empat Pilar tidak hanya menjadi materi sosialisasi.
Ia dapat berubah menjadi nilai yang hidup dalam cara masyarakat berinteraksi, menghargai perbedaan, menjaga persatuan dan memandang masa depan bangsa.
Bagi Al Zarliani, penguatan nilai tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak, perempuan, keluarga, sekolah, perguruan tinggi hingga masyarakat.
Sebab, membangun Indonesia bukan hanya pekerjaan institusi negara, tetapi juga proses panjang yang dimulai dari lingkungan paling sederhana: keluarga.









Komentar