Muda-mudi juga orang tua, warga Desa Wanguangu, menari Linda diiringi lantunan musik tradisional, dalam pesta adat Waurubula. Pesta adat yang dilaksanakan setiap tahun ini tetap dijaga kelestariannya, warisan leluhur masyarakat setempat, sejak ratusan tahun silam.
Buton
Telah ada sejak era Kesultanan Buton, kepemimpinan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi, ritual adat yang dikemas dalam pesta adat Waurubula, di Desa Wanguangu, tetap lestari hingga kini. Sultan Himayatuddin populer dengan gelar Oputa yi Ko (Sultan yang memimpin perang gerilya di hutan), adalah Sultan Buton ke-20 (1750-1752) dan ke-23 (1760-1763).
Waurubula kembali digelar oleh masyarakat setempat, dengan mengusung tema “Dari Adat Untuk Bangsa, Mewujudkan Generasi Emas Dalam Bingkai Persaudaraan”, di Baruga Desa Waanguangu.
Waurubula merupakan pengejawantahan wasiat leluhur masyarakat setempat (Desa Wanguangu). Dalam sepenggal kisahnya, dimasalampau, tersebutlah seorang bernama La Ode Sabaduru, yang ditengah jalannya acara, anaknya tiada henti menangis. Hingga saat lantunan gendang mengiringi tari Linda, barulah anaknya tersebut berhenti menangis.
“Secara turun temurun sampai saat ini tradisi tersebut terus dilestarikan setiap generasi. Pesta adat ini dilakukan setahun duakali (Sebelum menanam dan setelah panen). Malam ini (15 November 2025), acara sebelum menanam,” ujar Bhisa Waurubula, Ramli.
Ritual yang dilakukan adalah wujud doa yang dipanjatkan kepada sang Pencipta, sebelum masyarakat memulai menanam tanaman di kebun masing-masing.
“Budaya Waanguangu harus dimajukan. Berkaitan dengan agama yang dibarengi dengan doa, bhatata. Kalau tidak sesuai dengan agama kita lepas. Dan pemerintah mengetahui, melalui forum perencanaan pesta adat, bersama para tokoh adat, tokoh agama,” kata Bhonto, Layki.
Kepala Desa Waanguangu, Latia, mengatakan, seluruh masyarakat ikut andil, sejalan dengan pemerintah desa yang selalu memberikan dukungan penuh. Bersama-sama menyukseskan seluruh rangkaian acara pesta adat.
Kata Latia, melestarikan apa yang telah ditinggalkan leluhur, yang mendasari pesta adat ini adalah silahturahmi antar sesama masyarakat Waanguangu, dengan masyarakat luar atau dari desa lainnya.
“Kaitannya dengan budaya, kiblat pesta adat ini cenderung ke peringatan, mengenang pahlawan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa yi Ko). Kami disini meyakini bahwa Oputa yi Ko erat kaitannya dengan budaya/pesta adat ini, karena meninggalkan jasa-jasa yang bermakna bagi kami, masyarakat Desa Waanguangu,” ulasnya.
Ketua Panitia Pelaksana Pesta Adat Waurubula, Suhardin, menambahkan, sebelum masuk masa menanam, masyarakat Desa Wanguangu bergembira ria. Sehingga kedepan, ketika melaksanakan rutinitas, dijalani dengan penuh semangat, dengan penuh pengharapan, semoga diberi keberkahan, kesehatan, keselamatan oleh sang Maha Kuasa.
“Pesan untuk generasi muda, nilai-nilai budaya ini mari kita jaga. Melestarikannya bersama, jangan karena ada masukan dari budaya luar, kita melupakan budaya yang sudah ditanamkan oleh leluhur kita,” ucapnya.
(Redaksi)
















Komentar