Baubau
Pada Januari 2026, Dinas Kesehatan Kota Baubau (Dinkes) mencatat sebanyak 13 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terjadi disejumlah kelurahan. Temuan ini menjadi sinyal kewaspadaan dini, mengingat awal tahun biasanya bertepatan dengan meningkatnya curah hujan, yang berpotensi mempercepat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor DBD.
Kepala Dinkes, dr Frederik, menjelaskan, peningkatan kasus DBD umumnya terjadi pada periode Januari hingga Maret. Kondisi cuaca dengan intensitas hujan yang tinggi menyebabkan banyak genangan air, baik di lingkungan rumah maupun fasilitas umum, yang menjadi tempat ideal perkembangbiakan nyamuk. Oleh karena itu, langkah antisipasi sejak dini dinilai sangat penting.
Menurutnya, meski telah ditemukan 13 kasus dari beberapa wilayah kerja puskesmas, upaya pencegahan sebenarnya sudah dilakukan sebelumnya.
“Aparatur Dinkes bersama petugas puskesmas mengajak masyarakat untuk aktif menjaga kebersihan lingkungan, melakukan penyuluhan kesehatan, serta turun langsung ke lapangan untuk membersihkan saluran air dan mengalirkan genangan yang berpotensi menjadi sarang nyamuk,” ungkapnya.
Selain itu, masyarakat juga telah diberikan edukasi mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan apabila ditemukan kasus DBD di lingkungan sekitar. Pemerintah daerah, petugas kesehatan, dan masyarakat setempat berkolaborasi dalam kegiatan pencegahan, termasuk pelaksanaan fogging secara terbatas sebagai langkah pengendalian vektor.
Frederik menekankan bahwa kunci utama pencegahan DBD adalah menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Karakteristik nyamuk DBD yang berkembang biak di air bersih dan tergenang menjadi fokus utama dalam upaya pengendalian. Oleh karena itu, tempat-tempat penampungan air harus rutin diperiksa dan dibersihkan.
Ia juga mengingatkan bahwa gerakan membersihkan lingkungan tidak hanya dilakukan pada musim hujan, melainkan harus menjadi kebiasaan sepanjang waktu. Lingkungan yang bersih tidak hanya mencegah DBD, tetapi juga mendukung kesehatan masyarakat secara umum.
“Masyarakat diminta untuk segera waspada apabila ada anggota keluarga yang menunjukkan gejala DBD, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot, atau tanda-tanda lainnya. Jika gejala tersebut muncul, segera mendatangi puskesmas terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis sedini mungkin,” imbaunya.
Sebagai tindak lanjut, Dinkes Baubau telah melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) di RT 2 RW 3 Kelurahan Wajo. Kegiatan tersebut meliputi pemeriksaan jentik nyamuk dan pemberian bubuk abate di sekitar rumah pasien, yang melibatkan programer DBD, surveilans, serta kesehatan lingkungan, serta dikoordinasikan dengan pihak kelurahan setempat.
Berdasarkan hasil penyelidikan di lokasi kasus, petugas menemukan sejumlah faktor risiko, antara lain tumpukan sampah di sekitar rumah, adanya jentik nyamuk di dalam dan sekitar rumah pada penampungan air, serta genangan air akibat musim hujan.
Untuk itu, Dinkes menekankan pentingnya distribusi larvasida yang merata, serta penguatan gerakan kebersihan lingkungan bersama lintas sektor dan masyarakat, seraya menegaskan komitmen untuk terus bekerjasama dengan seluruh puskesmas, dalam menekan angka kasus DBD.
(Redaksi)















Komentar