Kamu Tidak Sendiri
“Ada Banyak Hati yang Sedang Berjuang”
Salah satu hal paling berat dalam menjadi pejuang dua garis merah adalah rasa sepi yang sering datang diam-diam.
Bukan sepi karena tidak punya siapa-siapa. Tetapi sepi karena merasa tidak banyak orang yang benar-benar mengerti.
Di luar sana, hidup terlihat berjalan begitu mudah bagi banyak orang. Media sosial penuh dengan kabar kehamilan, foto bayi, ulang tahun anak, dan keluarga kecil yang tampak lengkap. Sementara di sisi lain, ada pasangan-pasangan yang masih berjuang dalam diam sambil mencoba tetap tersenyum setiap hari.
Dan sering kali, perjuangan itu terasa sangat sunyi.
Kami pernah merasakan fase itu. Fase ketika rasanya hanya kami yang tertinggal. Hanya kami yang belum sampai pada kehidupan yang selama ini kami impikan. Hanya kami yang harus belajar menerima pertanyaan yang sama berulang kali.
Tetapi semakin lama menjalani perjalanan ini, kami mulai sadar satu hal: ternyata kami tidak sendiri.
Di balik senyum banyak pasangan, ada perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Ada pasangan yang sudah bertahun-tahun menjalani promil tanpa banyak bercerita kepada siapa pun.
Ada perempuan yang berkali-kali menelan kecewa setiap melihat hasil test pack.
Ada lelaki yang berpura-pura tenang agar rumah tangganya tetap kuat.
Ada rumah-rumah yang terlihat baik-baik saja dari luar, tetapi diam-diam sedang berjuang menghadapi kesedihan yang sama.
Dan menyadari bahwa kami bukan satu-satunya ternyata membuat hati terasa sedikit lebih tenang.
Karena kadang manusia tidak selalu membutuhkan solusi. Kadang mereka hanya ingin tahu bahwa ada orang lain yang memahami rasa sakitnya.
Perjalanan ini membuat kami lebih peka terhadap cerita orang lain.
Kami mulai memahami bahwa setiap orang sedang membawa ujian hidupnya masing-masing.
Ada yang diuji dengan kehilangan pekerjaan. Ada yang diuji kesehatan. Ada yang diuji ekonomi. Dan kami sedang diuji lewat penantian.
Tidak ada ujian yang lebih ringan atau lebih berat. Semua terasa berat bagi yang menjalaninya.
Karena itu kami belajar untuk tidak lagi membandingkan hidup dengan orang lain. Sebab membandingkan hanya akan membuat luka semakin dalam.
Kami juga mulai berhenti merasa malu dengan perjalanan kami sendiri.
Dulu, ada masa ketika kami menghindari pertanyaan tentang anak. Menghindari acara tertentu karena takut kembali ditanya hal yang sama. Bahkan kadang memilih diam daripada menjelaskan sesuatu yang sebenarnya terlalu lelah untuk dijelaskan.
Tetapi perlahan kami sadar: perjuangan ini bukan sesuatu yang harus disembunyikan dengan rasa malu.
Tidak memiliki anak secepat orang lain bukan berarti hidup kami gagal.
Perjalanan kami hanya berbeda. Dan berbeda tidak selalu buruk.
Ada banyak pasangan di luar sana yang mungkin sedang membaca tulisan ini sambil menahan air mata.
Mungkin kamu salah satunya. Mungkin hari ini kamu sedang lelah. Sedang mempertanyakan kenapa hidup terasa tidak adil. Sedang takut bahwa harapanmu tidak akan pernah menjadi nyata.
Kalau iya, aku ingin kamu tahu:
perasaan itu valid. Kamu tidak berlebihan. Kamu tidak lemah. Kamu hanya sedang berjuang untuk sesuatu yang sangat kamu cintai. Dan perjuangan seperti itu memang melelahkan.
Tetapi tolong jangan menjalani semuanya sendirian.
Pegang tangan pasanganmu lebih erat.
Bicaralah ketika hati mulai terlalu penuh.
Menangislah kalau memang perlu.
Karena kadang yang paling menyakitkan bukan masalahnya, tetapi ketika dua orang memilih saling diam dan memendam semuanya sendiri.
Perjalanan ini juga mengajarkan kami bahwa cinta bukan hanya tentang momen bahagia. Cinta juga tentang bertahan bersama di fase hidup yang tidak mudah dijelaskan kepada siapa pun.
Tentang tetap berkata, “Aku ada”, meski keadaan belum berubah.
Dan sejauh ini, itulah yang membuat kami masih kuat berjalan.
Bukan karena kami tidak pernah lelah. Tetapi karena kami sadar bahwa kami tidak sedang melawan satu sama lain.
Kami sedang menghadapi hidup bersama-sama.
Ada banyak malam ketika kami merasa takut terhadap masa depan. Takut kalau penantian ini masih panjang. Takut kalau harapan kami tidak berakhir seperti yang dibayangkan.
Tetapi di tengah semua ketakutan itu, kami selalu mencoba mengingat satu hal: selama kami masih saling memiliki, kami belum benar-benar kehilangan segalanya.
Dan mungkin itu juga yang perlu kamu ingat hari ini. Bahwa hidupmu tidak berhenti hanya karena satu doa belum dijawab.
Bahwa rumahmu tetap berharga meski belum seramai yang kamu bayangkan.
Bahwa dirimu tetap utuh meski perjalananmu berbeda dari orang lain.
Sebab pada akhirnya, manusia tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.
Selalu ada hati lain yang sedang berjuang dalam sunyi yang sama.
Selalu ada doa-doa lain yang sedang mengetuk langit dengan harapan yang serupa.
Dan siapa tahu, di antara begitu banyak air mata yang diam- diam jatuh setiap malam, Tuhan sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih indah dari yang mampu kita pahami hari ini.
Penulis: LM Azhar Sa’ban
Bersambung ➡️ Buah Hati yang Masih Menjadi Mimpi …..
Baca bagian sebelumnya:









Komentar