Belajar Bahagia di Tengah Ketidakpastian
“Kami Tidak Ingin Kehilangan Diri Kami”
Ada masa ketika hidup kami hanya dipenuhi satu hal:
menunggu. Menunggu hasil pemeriksaan. Menunggu jadwal kontrol. Menunggu kabar baik. Menunggu dua garis merah yang belum juga datang.
Tanpa sadar, penantian itu perlahan mengambil terlalu banyak ruang dalam hidup kami. Hampir semua percakapan berakhir pada hal yang sama. Hampir semua rencana selalu dikaitkan dengan promil. Bahkan suasana hati kami sering ditentukan oleh harapan yang belum tentu menjadi nyata.
Sampai suatu hari saya menyadari sesuatu: kami mulai lupa bagaimana caranya menikmati hidup. Kami terlalu sibuk mengejar sesuatu yang belum datang, sampai tidak sadar bahwa hidup tetap berjalan setiap hari. Dan itu menakutkan.
Karena penantian yang terlalu panjang bisa membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.
Ada malam ketika saya dan istri duduk bersama setelah pulang dari kontrol. Hasilnya belum sesuai harapan lagi.
Biasanya kami akan diam cukup lama. Tetapi malam itu, tiba-tiba istri saya berkata pelan, “Aku capek kalau hidup kita cuma soal nunggu”.
Kalimat itu sederhana, tetapi terasa sangat jujur.
Saya menatapnya cukup lama. Dan untuk pertama kalinya, saya sadar bahwa kami memang terlalu tenggelam dalam rasa takut kehilangan harapan sampai lupa menikmati apa yang masih kami miliki hari ini.
Sejak saat itu, kami mulai mencoba mengubah cara menjalani hidup. Bukan berarti kami berhenti berharap punya anak. Bukan. Harapan itu masih ada. Sangat ada. Tetapi kami tidak ingin kebahagiaan kami sepenuhnya bergantung pada sesuatu yang belum bisa kami kendalikan.
Kami tidak ingin rumah kami hanya dipenuhi rasa cemas. Kami tidak ingin setiap hari selalu terasa berat. Kami tidak ingin kehilangan diri kami sendiri.
Maka perlahan, kami mulai belajar bahagia lagi. Dengan cara-cara sederhana.
Kadang kami pergi makan malam tanpa membahas promil sama sekali. Kadang berjalan sore menikmati langit Baubau yang mulai berubah jingga menjelang magrib. Kadang bepergian singkat hanya untuk mencari suasana baru.
Dan anehnya, hal-hal kecil seperti itu membuat hati terasa sedikit lebih ringan.
Saya mulai melihat istri saya tertawa lebih lepas. Senyum yang beberapa waktu terakhir terasa semakin jarang muncul.
Kami mulai kembali membicarakan mimpi-mimpi lain dalam hidup. Tentang pekerjaan. Tentang rencana masa depan. Tentang tempat-tempat yang ingin kami kunjungi. Tentang hidup yang ternyata masih punya banyak hal indah selain rasa menunggu.
Perjalanan ini mengajarkan kami satu hal penting: bahagia tidak selalu harus menunggu hidup menjadi sempurna. Karena kalau kami terus berkata, “Nanti bahagia kalau sudah punya anak”, maka bagaimana jika penantian itu masih panjang?.
Apakah kami harus terus hidup dalam kesedihan?. Tidak. Kami tidak mau seperti itu.
Kami ingin tetap hidup. Tetap tertawa. Tetap saling mencintai.
Tetap menikmati hari-hari kecil yang Tuhan beri. Meski doa kami belum selesai.
Ada sore yang sangat saya ingat. Saat itu kami duduk di Wantiro sambil melihat matahari perlahan tenggelam.
Tidak ada pembicaraan berat. Tidak ada tangisan. Tidak ada pertanyaan tentang anak. Hanya kami berdua dan suara angin yang berhembus.
Lalu istri saya berkata sambil tersenyum kecil, “Kita sebenarnya bahagia ya”.
Saya terdiam sesaat. Karena benar.
Di tengah semua luka dan penantian itu, ternyata kami masih punya banyak alasan untuk bersyukur.
Kami masih bersama. Masih saling menggenggam. Masih bisa pulang ke rumah yang sama. Masih bisa tertawa meski tidak selalu mudah.
Dan mungkin selama ini kami terlalu fokus pada apa yang belum kami miliki sampai lupa melihat apa yang sudah Tuhan titipkan.
Bukan berarti rasa sedih itu hilang sepenuhnya. Tidak.
Masih ada malam-malam ketika hati terasa kosong.
Masih ada hari-hari ketika pertanyaan orang lain tetap menyakitkan.
Masih ada momen ketika melihat bayi kecil membuat dada terasa sesak.
Tetapi sekarang kami mulai belajar menerima bahwa hidup memang tidak selalu lengkap sesuai keinginan manusia. Dan itu tidak membuat hidup kehilangan makna.
Kami juga mulai berhenti menyalahkan diri sendiri. Berhenti merasa kurang. Berhenti merasa gagal hanya karena perjalanan kami berbeda dari pasangan lain.
Karena setiap rumah punya ujiannya masing-masing.
Ada pasangan yang diuji ekonomi. Ada yang diuji kesehatan. Ada yang diuji kehilangan. Dan kami sedang diuji lewat penantian.
Tetapi ujian bukan berarti hidup kami buruk. Kadang justru lewat ujian, manusia belajar memahami arti cinta dengan lebih dalam.
Saya melihat bagaimana perjalanan ini membuat kami lebih dewasa. Lebih lembut satu sama lain. Lebih menghargai waktu bersama. Lebih memahami bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk sederhana: makan malam bersama,
perjalanan singkat, pelukan setelah hari yang melelahkan.
Atau sekadar mendengar pasangan berkata,“Terima kasih sudah tetap ada”.
Dan perlahan, kami mulai berdamai dengan ketidakpastian.
Kami tidak tahu kapan doa kami akan dijawab.
Kami tidak tahu bagaimana akhir perjalanan ini.
Tetapi kami tidak ingin terus kehilangan hari ini hanya karena terlalu takut pada hari esok.
Karena hidup tetap layak dijalani.
Cinta tetap layak dirayakan.
Dan kami tetap pantas bahagia, bahkan di tengah penantian yang belum selesai.
Bersambung ➡️ Tidak Semua Doa Dijawab dengan Cara yang Sama …..
Penulis: LM Azhar Sa’ban
Baca bagian sebelumnya:









Komentar