Lelaki Juga Bisa Hancur

Penulis: LM Azhar Sa’ban

 

“Tentang Suami yang Harus Terlihat Kuat”

Banyak orang bertanya bagaimana keadaan istri saya selama menjalani penantian ini.
Tetapi sangat sedikit yang bertanya: “Kalau kamu sendiri bagaimana?”.

Dan saya memahami itu.

Dalam banyak budaya, lelaki memang dibesarkan untuk menjadi kuat. Tidak mudah mengeluh. Tidak banyak menangis. Tidak menunjukkan rasa takut. Seolah-olah menjadi laki-laki harus selalu siap menanggung semuanya sendirian.

Termasuk rasa sedih. Termasuk rasa gagal. Termasuk luka yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun.

Selama perjalanan ini, saya lebih sering memilih diam. Bukan karena saya tidak terluka, tetapi karena saya merasa harus menjadi tempat bersandar bagi istri saya.

Saya berpikir, kalau saya ikut hancur, lalu siapa yang akan menguatkan kami?.

Akhirnya saya belajar menyimpan semuanya sendiri.

Saya tetap pergi mengajar seperti biasa. Tetap berdiri di depan mahasiswa dengan senyum yang terlihat normal.

Tetap tertawa bersama teman-teman di kampus. Tetap terlihat tenang di depan keluarga.

Padahal ada banyak hari ketika hati saya sebenarnya sedang sangat lelah.

Ada masa ketika saya mulai mempertanyakan diri sendiri.

Apakah saya kurang menjaga istri saya?

Apakah saya kurang berusaha?

Apakah ada yang salah dengan kami?.

Pertanyaan-pertanyaan itu tumbuh diam-diam di kepala seorang lelaki yang dari luar terlihat baik-baik saja.

Dan mungkin itulah bentuk kesepian yang paling sunyi: ketika seseorang terlihat kuat, lalu semua orang mengira ia memang tidak sedang terluka.

Saya masih ingat suatu malam setelah kami kembali mendapatkan hasil yang mengecewakan. Istri saya tertidur lebih cepat dari biasanya karena terlalu lelah menangis.

Saya duduk sendiri di ruang tamu dengan lampu yang sengaja tidak saya nyalakan terlalu terang.

Rumah terasa sangat sepi. Saya memandangi dinding kosong sambil bertanya dalam hati:
kenapa perjalanan ini terasa begitu panjang?.

Malam itu saya sadar, ternyata saya juga lelah. Lelah berpura-pura tenang. Lelah menjawab pertanyaan orang lain dengan senyum. Lelah melihat istri saya menangis lalu tidak tahu bagaimana cara benar-benar menyembuhkan rasa sedihnya.

Dan yang paling melelahkan adalah ketika saya harus terlihat kuat bahkan di saat hati sendiri sedang runtuh.

Sebagai seorang suami, ada tekanan yang jarang dibicarakan.

Lelaki sering merasa harus menjadi solusi. Harus punya jawaban. Harus mampu memperbaiki keadaan.

Padahal tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan kekuatan atau logika.

Ada hal-hal yang hanya bisa dijalani sambil menunggu waktu dan takdir bekerja.

Tetapi menerima kenyataan itu tidak mudah.

Saya pernah iri melihat teman-teman yang dengan mudah bercerita tentang anak-anak mereka. Tentang sekolah, tentang suara tangisan bayi di rumah, tentang hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja bagi saya.

Sekarang semua cerita itu terdengar seperti sesuatu yang sangat jauh.

Saya ikut bahagia untuk mereka. Sungguh.

Tetapi di dalam hati, ada ruang kecil yang diam-diam bertanya, “Kapankah giliran kami?”.

Dan mungkin untuk pertama kalinya dalam hidup, saya benar-benar memahami bahwa seorang lelaki juga bisa merasa gagal.

Bukan gagal dalam pekerjaan. Bukan gagal dalam pendidikan. Tetapi gagal memenuhi harapan sederhana dalam rumah tangga: menjadi seorang ayah.

Perasaan itu sering datang diam-diam.

Ketika melihat istri saya menatap bayi orang lain terlalu lama.

Ketika mendengar anak kecil memanggil ayahnya.

Ketika pulang ke rumah yang terlalu sunyi setiap malam.

Saya mulai menyadari bahwa penantian ini tidak hanya menguji kesabaran kami sebagai pasangan, tetapi juga menguji harga diri saya sebagai seorang lelaki.

Namun di tengah semua itu, saya memilih satu hal: tetap bertahan.

Bukan karena saya selalu kuat. Tetapi karena saya mencintai perempuan yang sedang berjuang bersama saya.

Ada malam ketika saya akhirnya menangis diam-diam di kamar mandi.

Mungkin itu pertama kalinya setelah sekian lama saya benar-benar membiarkan diri sendiri terlihat rapuh, meski hanya di hadapan dinding dan suara air yang sengaja saya nyalakan agar tangis itu tidak terdengar keluar.

Saya menatap wajah sendiri di cermin dan bertanya: kenapa hal yang begitu sederhana bagi banyak orang terasa begitu sulit bagi kami?.

Tidak ada jawaban. Hanya rasa sesak yang perlahan memenuhi dada.

Tetapi keesokan harinya, hidup tetap berjalan.

Saya kembali mengajar. Istri saya kembali bekerja. Kami kembali tersenyum kepada dunia.

Dan mungkin begitulah banyak pasangan pejuang garis dua bertahan: dengan hati yang penuh luka, tetapi tetap mencoba menjalani hidup sebaik mungkin.

Dari perjalanan ini saya belajar satu hal yang sangat penting:
lelaki juga manusia.

Mereka juga punya rasa takut.

Punya kecewa.

Punya air mata.

Hanya saja, banyak lelaki memilih menyimpannya terlalu dalam karena takut dianggap lemah.

Padahal terkadang, yang dibutuhkan seorang lelaki hanyalah ruang untuk jujur bahwa dirinya juga sedang tidak baik-baik saja.

Saya menulis bagian ini bukan untuk dikasihani.

Saya hanya ingin mengatakan kepada para suami di luar sana yang sedang menjalani perjuangan yang sama: kamu tidak sendirian.

Kalau hari ini kamu lelah, itu wajar.

Kalau hari ini kamu merasa gagal, itu manusiawi.

Kalau hari ini kamu menangis diam-diam setelah semua orang tidur, itu tidak membuatmu kurang sebagai seorang lelaki.

Karena pada akhirnya, menjadi kuat bukan berarti tidak pernah hancur.

Menjadi kuat adalah ketika seseorang tetap memilih bertahan, bahkan setelah berkali-kali merasa runtuh.
Dan sejauh ini, itulah yang sedang kami lakukan: bertahan bersama.

Bersambung ➡️

Dari Klinik ke Klinik …..

 

Baca bagian sebelumnya:

Komentar