Amirul Tamim Trigger Denyut Baru Lakologou
SENJA perlahan turun di Lakologou, Kecamatan Kokalukuna, Kota Baubau. Cahaya keemasan memantul di antara bangunan Pasar yang selama bertahun-tahun lebih banyak menjadi saksi sunyi dibanding denyut perdagangan. Dari kejauhan angin pesisir membawa aroma laut dan hutan mangrove, muara yang menjadi identitas kawasan ini sejak dahulu.
Petang Sabtu 25 Juli 2026 terasa berbeda. Puluhan warga antusias menyambut kedatangan mantan Walikota Baubau dua periode, berlanjut dengan percakapan yang menghangat di sudut pasar. Membawa secercah harapan untuk kembali diperbincangkan, seolah menghidupkan kembali ruang yang lama tertidur. Pasar Lakologou yang selama ini belum termanfaatkan optimal, kembali menemukan denyutnya, setidaknya dalam perspektif, imajinasi dan optimisme yang sama diantara mereka yang hadir.
Anggota DPD RI Dr MZ Amirul Tamim MSi bijak menyimak setiap suara warga yang menitipkan harapan agar Pasar Lakologou kembali berfungsi, perbaikan infrastruktur jalan, hingga cita-cita besar menjadikan Lakologou sebagai kawasan perikanan, pusat kuliner, dan geliat ekonomi mandiri di pesisir Kota Baubau.

Pertemuan ini bukan sekadar agenda silaturahmi. Bagi sebagian warga, dialog dengan mantan anggota DPR RI tersebut adalah sebuah isyarat bahwa nadi perekonomian di pesisir Lakologou masih memiliki kesempatan untuk kembali berdetak. Sebuah harapan lama yang menunggu untuk diwujudkan, dan sebuah pertanyaan besar bagi arah pembangunan Kota Baubau ke depan: akankah Lakologou kembali menjadi bagian penting dari masa depan kota ini?
Bapak Pembangunan
“Bapak Pembangunan Kota Baubau”, demikian warga menyapa Amirul. Sapaan yang lahir dari jejak gagasan dan kebijakan yang masih dikenang masyarakat, mulai dari pembangunan Pasar Lakologou, pembukaan akses jalan, hingga konsep besar menjadikan Kecamatan Kokalukuna sebagai kawasan mandiri yang terintegrasi dengan potensi perikanan, mangrove, dan kini telah terkoneksi dengan Jalan Bypass Waruruma, serta menyongsong pembangunan Jembatan Buton-Muna.
Warga Lakologou menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi Amirul selama memimpin Kota Baubau. Karena dinilai konsisten memperjuangkan pemerataan pembangunan hingga wilayah pinggiran, menghadirkan sejumlah infrastruktur dan konsep pembangunan kawasan yang masih dirasakan manfaatnya hingga saat ini, yang merupakan bagian dari visi besar Amirul dalam menata Kota Baubau secara berkelanjutan.
Di hadapan warga, Amirul mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh meninggalkan masyarakatnya sendiri.
“Kalau suatu kawasan maju, tetapi masyarakat lokalnya tidak mendapatkan manfaat, maka yang lahir adalah kecemburuan. Karena itu, masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam setiap pembangunan,” tegas Amirul.

Amirul juga menegaskan pentingnya melibatkan masyarakat lokal dalam setiap agenda pembangunan kawasan strategis di Kota Baubau. Dalam dialog interaktif bersama warga Kelurahan Lakologou, Amirul mendengarkan langsung aspirasi masyarakat terkait keberlanjutan Pasar Lakologou, perbaikan infrastruktur jalan, hingga pengembangan potensi ekonomi kawasan. Pertemuan tersebut sekaligus menghidupkan kembali gagasan besar menjadikan Lakologou sebagai kawasan mandiri berbasis perikanan, kuliner, dan ekonomi masyarakat.
Dalam pertemuan itu, warga berharap pemerintah dapat kembali menghidupkan aktivitas Pasar Lakologou yang selama beberapa tahun terakhir belum berkembang optimal.
Selain itu, warga juga mengusulkan peningkatan kualitas infrastruktur jalan, penataan kawasan, serta dukungan terhadap pelaku usaha lokal yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor perikanan, kerajinan atap nipa, dan pekerjaan informal lainnya.
Amirul menilai, pembangunan kawasan tidak boleh mengabaikan masyarakat setempat karena berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial.
“Potensi konflik itu lahir dari kecemburuan dan iri. Kalau suatu kawasan maju tetapi masyarakat lokal tidak mendapatkan manfaat dan tidak berperan, maka potensi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sangat besar,” kata Amirul.
Lakologou dan Strategi Pemerataan Kota
Menurut Amirul, konsep pengembangan Lakologou sejak awal dirancang untuk mengantisipasi dinamika pertumbuhan Kota Baubau, agar manfaat pembangunan tidak hanya terpusat di kawasan perkotaan.
“Dulu Lakologou dirancang untuk memastikan masyarakat pinggiran Kota Baubau memperoleh efek domino pembangunan. Karena itu kita bangun pasar, membuka akses jalan, dan menyusun strategi agar pemerataan kota berjalan dalam harmoni bersama masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masyarakat Lakologou sejak dahulu dikenal memiliki karakter mandiri. Mulai dari pengrajin atap nipa, nelayan penangkap kepiting bakau, hingga pekerja yang merantau ke berbagai daerah.
Potensi tersebut, kata Amirul, merupakan modal sosial yang harus dijaga dan dikembangkan melalui kebijakan yang berpihak kepada masyarakat lokal.
Momentum Koperasi Merah Putih
Amirul mengaku prihatin setelah melihat belum adanya langkah konkret dalam pengembangan kawasan Lakologou, meski pemerintah telah membangun fasilitas pendukung, termasuk keberadaan Koperasi Merah Putih.
“Konsep Koperasi Merah Putih itu sangat ideal. Namun, masyarakat jangan hanya menjadi penonton. Kita hadir untuk memantik, apa yang bisa dilakukan masyarakat ketika peluang itu sudah tersedia,” ucapnya.
Ia menilai, keberadaan koperasi dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan potensi ekonomi lokal secara kolektif dan berkelanjutan.
Lakologou Disiapkan Jadi Kawasan Perikanan Terbatas
Lebih jauh, Amirul mengungkapkan bahwa Lakologou sejak lama diproyeksikan sebagai kawasan perikanan terbatas yang didukung infrastruktur memadai.
Konsep tersebut mencakup pembangunan dermaga, rumah susun bagi nelayan, hingga fasilitas penyimpanan hasil tangkapan.
“Lakologou memiliki kedalaman laut yang memadai, terlindungi saat musim barat, dan sangat potensial menjadi sentra perikanan. Bahkan, dulu sudah ada konsep pembangunan empat rumah susun untuk nelayan,” ungkapnya.
Menurut Amirul, kawasan ini dapat terintegrasi dengan potensi nelayan dari Pulau Makassar, Bone-Bone, Kadatua, hingga Siompu untuk memperkuat sektor perikanan Kota Baubau.
Potensi Besar Selat Buton
Amirul juga menyoroti potensi perikanan di kawasan Kepulauan Buton yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.
Ia mencontohkan tingginya distribusi ikan dari Pelabuhan Murhum menuju Kendari yang hingga kini masih bergantung pada es produksi rumah tangga.
“Pemerintah seharusnya melihat peluang ini. Jangan hanya melihat dos-dos ikan yang dikirim, tetapi bagaimana kualitasnya dipertahankan melalui pabrik es dan fasilitas cold storage yang memadai,” katanya.
Ia mengungkapkan, sejumlah investor dan pelaku industri perikanan internasional pernah melakukan survei terhadap potensi perikanan di kawasan Buton, termasuk peluang ekspor ikan segar ke Bali dan Hong Kong.
“Selat Buton tidak mengenal musim. Ini menjadi keunggulan besar untuk pengembangan keramba ikan hidup dan industri perikanan modern,” tambahnya.
Menatap Masa Depan Kokalukuna
Amirul menilai Kecamatan Kokalukuna memiliki peluang besar menjadi kawasan mandiri yang ditopang oleh Pasar Lakologou, pusat kuliner, kawasan perikanan, hutan mangrove, Jalan Bypass Waruruma, hingga rencana pembangunan Jembatan Buton-Muna.
Dengan dukungan infrastruktur tersebut, kawasan Kokalukuna diyakini mampu tumbuh menjadi simpul ekonomi baru di Kota Baubau.
“Yang paling penting adalah memastikan masyarakat setempat menjadi pelaku utama. Kalau masyarakat sudah diajak dan memilih tidak ikut, barulah ruang itu terbuka bagi pihak lain. Tetapi jangan sampai masyarakat kita justru menjadi penonton di tanahnya sendiri,” tegas Amirul.
Pesan untuk Pemerintah
Di akhir dialog, Amirul mengingatkan bahwa paradigma pemerintahan modern harus mengedepankan fungsi pelayanan dan fasilitasi.
Menurutnya, pemerintah tidak dapat menjalankan seluruh fungsi pembangunan secara sendiri tanpa melibatkan masyarakat.
“Pemerintah itu harus hadir sebagai fasilitator. Tidak semua harus dibuat pemerintah. Potensi terbesar ada di masyarakat, dan tugas pemerintah adalah membuka jalan melalui kebijakan yang tepat,” ujarnya.
Ia menambahkan, Pasar Lakologou dan berbagai fasilitas yang telah tersedia sesungguhnya hanya membutuhkan sentuhan kebijakan dan penataan, agar kembali hidup dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.








Komentar