Bariun SPd MPd
Kasamea.com
Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Baubau, Bariun, mengimbau guru-guru ikut menyukseskan program vaksinasi. Selain membantu memutus rantai sebaran covid-19, vaksinasi juga dipastikan sebagai perlindungan diri dan anak didik, dalam rangka persiapan belajar tatap muka langsung di sekolah.
Bariun menjelaskan, bahwa vaksinasi adalah pemberian kekebalan tubuh dalam menolak covid-19. Sebagai orang-orang intelek, guru seyogianya tidak mudah terprovokasi informasi yang menyesatkan. Apalagi sampai takut untuk menjalani vaksinasi.
Bariun mengungkapkan adanya hoax yang disebarkan orang tidak bertanggungjawab, menyatakan bahwa bila guru tidak menjalani vaksinasi, maka guru tersebut tidak bisa menerima insentif sertifikasi. Seolah-olah vaksinasi menjadi syarat bagi guru untuk bisa menerima insentif sertifikasi.
“Sudah jelas aturannya. Ketua Umum (PB PGRI) mengatakan, syarat menerima sertifikasi adalah kecukupan jam mengajar 24 jam,” tegas Bariun.
Bariun mengimbau guru yang kondisinya layak untuk menjalani vaksinasi, agar menjalani vaksinasi sesuai tahapan. Tetapi bila kondisi tubuh guru mengidap penyakit, pengorbit yang menyertai, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Untuk selanjutnya guru tersebut diberikan surat keterangan layak, atau tidak layak menjalani vaksinasi.
Ketua Umum PB PGRI, lanjut Bariun, menyampaikan kepada seluruh guru di Indonesia, bahwa di negara-negara maju, orang-orang, bahkan usia 80 sampai 90 tahun, berlomba-lomba untuk menjalani vaksinasi.
“Kok kita di Indonesia guru diberi prioritas untuk divaksin, takut. Guru tidak usah takut, kalau memang layak, jalani vaksin, kalau belum layak, konsultasi ke dokter,” imbaunya.
Bariun juga meminta kepada tenaga kesehatan (Nakes) agar memperketat SOP sebelum suntik vaksin,”Dalam artian kalau menurut Nakes layak divaksin ya silahkan divaksin, tetapi kalau misalnya walaupun guru ini mau divaksin, tetapi dari sisi pengamatan Nakes berdasarkan screen yang dilakukan gurunya belum layak atau harus ditunda, maka harus ditunda vaksinasinya,” tegasnya, diwawancarai, Minggu (29/5).
Menurut Bariun, guru SDN inisial MAS yang dikabarkan pingsan usai disuntik vaksin, kondisi tubuhnya lemah karena tidak sarapan pagi sebelum disuntik vaksin kala itu. Sehingga tidak terlalu vit ketika mengikuti vaksinasi. Kemudian ditambah dengan kecemasan yang berlebihan.
“Saya kira kejadian ini tidak harus dibesar-besarkan. Apalagi saat kejadian Nakes juga sudah melakukan tahapannya dengan benar, sigap mengatasi, mengobservasi langsung, menindaklanjuti pasca informasi bahwa guru tersebut (MAS) lemah. Dia rasa kram, kemudian dia rasa sesak, itu sudah ditindaklanjuti oleh para dokter,” tambah Kasek SMPN 3 Baubau ini.
Bariun juga menyampaikan kabar gembira bahwa MAS dalam kondisi baik. Pagi ini, Senin (31/5), MAS sudah bisa keluar dari rumah sakit. Ini berdasarkan informasi yang diperoleh langsung dari orang tua MAS.
[Red]









Komentar