Burhan Zahim Putera Busel yang Sukses di BUMN

Burhan Zahim, SE



Pembawaannya yang tenang, lembut dalam bertutur kata, sudah cukup menunjukkan karakter kepribadiannya yang religius. Meskipun saat ini terbilang sukses dalam karir, namun Burhan Zahim tak lantas lupa diri, dia anak dusun yang lahir di Kadatua, Buton (Buton Selatan saat ini) yang masih tetap dengan kesederhanaannya.

Lahir 28 Januari 1970, masa kecil Burhan banyak dilewati dengan bermain berbagai permainan tradisional. Namun yang paling berkesan adalah bermain perahu sampan di laut, memancing, juga berenang.

Kebahagiaan masa kecil dengan kasih sayang seorang ayah tak cukup lama Ia rasakan. Burhan kecil, diusia 9 tahun harus menerima kenyataan menjadi anak Yatim, sepeninggal sang Ayah, La Ode Zahim.

Burhan mengenang Almarhum Ayahnya seorang pelaut yang kerap berlayar hingga berbulan-bulan lamanya, untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Sosok sang Ayah yang paling membekas dalam ingatan Burhan adalah seorang pekerja keras, ulet, yang rela mengarungi lautan bertaruh nyawa demi keluarga.

“Sebelum meninggal dunia, bapak saya dulu menitipkan dua hal. Sholat dan sekolah. Almarhum kasi buku tuntunan sholat dan titip pesan ke mama, jangan kasi makan kalau anak-anaknya tidak sholat dan tidak sekolah,” kata Burhan, terkenang pesan sang Ayah diakhir khayatnya.

Berkisah tentang kehidupannya sepeninggal Ayah, Burhan harus mengikuti sang Ibu, merantau di Maluku.

Pulau Ambon Manise, Tak Semanis Perjalanan Hidup Burhan
Kecil

“Saya tinggalkan kampung umur 10 tahun, setelah penaikan kelas dari kelas 3 ke kelas 4,” ucap Burhan, membuka kisahnya meninggalkan kampung halaman tanah kelahiran.

Menginjakkan kaki di Pulau Ambon Manise, tak semanis perjalanan hidup Burhan kecil.

Sampai di Ambon, Burhan tidak bisa langsung bersekolah. Selama dua tahun Ia harus membantu Ibunya untuk mencukupi kebutuhan hidup. Di Pasar Lama Burhan berjualan kantung kresek/kantung plastik, yang oleh warga setempat disebut kantong baribut. Sementara Ibunya berjualan sayur.

Dua tahun berikutnya, barulah Burhan bisa kembali bersekolah. Sambil terus bekerja mencari uang.

Di Pasar inilah Burhan menjalani masa kecil, remaja, hingga tumbuh dewasa. Sosok sang Ayah melekat dalam diri Burhan, sebagai seorang pekerja keras. Tanpa meninggalkan sholat lima waktu.

Sejak kecil sampai saat ini Ia tetap memegang teguh nilai Islami, dan nilai Kebutonan. Yang tak hanya didapatkan dari didikan kedua orang tuanya, tetapi juga dari Nenek dan Kakeknya, yang juga ditauladaninya sebagai orang tua bijak dan religius.

Ibu adalah Pahlawan

Berkisah tentang sosok Ibu, Burhan menganggap Ibunya, Almarhumah Hj Wa Ode Zawiah sebagai Pahlawan. Betapa kerasnya kehidupan yang dijalani kala itu, namun Ibunya tak sedikitpun menunjukkan rasa susah, rasa sedih. Pahit getir kehidupan dijalani sang Ibu menghidupi dan membesarkan anak-anaknya. Ibunya tetap kuat, setegar karang.

“Dulu itu terkadang kalau liat mama, penuh keringat kasian di badannya, mau panas terik matahari, mau hujan, dia tetap berjualan kasian. Tapi tidak pernah dia mengeluh sedikitpun. Ikhlasnya dalam menjalani hidup itu jadi pelajaran berharga untuk kami anak-anaknya,” tutur Burhan.

Mengenang tangan dingin, kerja keras, serta ketabahan seorang Ibu yang tak lekang oleh waktu. Bagi Burhan takkan pernah ada kata cukup untuk membalas jasa Ibu. Hanya dengan terus mendoakan dalam setiap sembah sujud dihadapan sang Khaliq, serta terus menjalankan prinsip hidup yang ditanamkan sang Ibu, begitulah Burhan membalasnya.

Pesan Ibunya sering-seringlah berbagi rezki, bersedekah, menyayangi keluarga, juga sesama umat manusia.

“Jadi prinsip hidup orang tua ini tetap terus saya terapkan dalam lingkungan kerja, keluarga, dan di masyarakat. Jangan sekalipun sakiti hati orang lain, apalagi menindasnya. Pokoknya harus bermanfaat untuk orang lain, bukan sebaliknya. Terlebih untuk daerah,” kata Burhan.

Pendidikan dan Karir


Burhan menamatkan pendidikan sekolah dasar di SDN 1 Ambon. Lanjut menamatkan sekolah di SMPN 1 Ambon, dan menamatkan sekolah di SMEAN 1 Ambon. Jenjang pendidikan S1 Burhan tamat di Universitas Muhammadiyah Kendari, tahun 2003.

Memulai karir, pada tahun 1995 Burhan bekerja sebagai karyawan magang di PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Ambon. Baru pada Tahun 1998, Ia diangkat menjadi pegawai.

Bekerja tulus, menjaga integritas dan profesional. Karirnya di perusahaan plat merah ini dimulai dari menjadi penjaga palang. Terus menanjak, Burhan dipercaya menduduki berbagai jabatan strategis.

Kesuksesan dalam karir tak lantas mengubah gaya hidup serta kepribadiannya. Sebab Burhan memang tumbuh dalam keluarga sederhana, religius, memegang teguh ajaran Islam, serta petuah bijak orang tua Buton.

Banyak pencapaian Burhan di ASDP cabang yang pernah dipimpinnya. Mulai dari perbaikan/penataan sistem, menyelesaikan sengketa lahan yang tidak tuntas selama puluhan tahun, meningkatkan pemasukan per tahun perusahaan. Hingga pernah meraih penghargaan peringkat 1 inovasi saat memimpin ASDP cabang Ambon, mengalahkan seluruh kantor cabang ASDP di Indonesia.

Tercatat sebagai pegawai ASDP, sejak tahun 1995-1998 Burhan menjadi staf cabang Ambon. Kemudian pindah tugas di Baubau, masih sebagai staf sampai tahun 2000.

Tahun 2002 Burhan diangkat menjadi Kasir. Tahun 2004 sampai 2009 dipercaya menjadi Manager cabang Selayar. 2009 sampai 2011 sebagai Manager cabang Kupang.

Karirnya cemerlang, 2011 Burhan diberi amanah menjadi Pemimpin cabang Baubau, General Manager cabang Baubau, dan menjadi General Manager cabang Ambon sampai tahun 2017. Tahun 2017 Ia memimpin sebagai General Manager Kupang, dan 2019 menjadi General Manager Bitung.

Tahun 2020 Burhan dipercayakan menjadi Inspektur Regional II, dan saat ini menjabat Manager Keuangan, SDM dan Umum cabang Baubau.

Pencapain Burhan dibarengi dengan mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan, diantaranya: pendidikan dan pelatihan ahli kepelabuhanan, competency development program for senior manager, middle management development program, lat perpajakan, pelatihan penyusunan laporan keuangan, orace finance application, computer windows spreadsheet, computer ms word ms excel.

Keluarga Tercinta


Kesuksesan Burhan juga karena ada seorang perempuan hebat yang mendampinginya. Sang Istri tercinta bernama Sitti Maryam, yang telah memberi buah cinta, seorang putera bernama Muhammad Naufal Abiyyu (23), dan tiga orang puteri, bernama Danna Citra Pratiwi (21), Sri Maharani (18), dan Khairani Fathya Hanifah (12).

Kepada Istri dan anak-anaknya Burhan menanamkan kesederhanaan dalam menjalani hidup. Menjadi yang utama dalam keluarga, sholat dan sekolah.

Penulis: LM. Irfan Mihzan






Komentar