Asap Selimuti Kepton, Bandara dan Stamet Betoambari Jelaskan Kondisi Penerbangan

Asap Selimuti Kepton, Bandara dan Stamet Betoambari Jelaskan Kondisi Penerbangan

Baubau

Sebaran asap kiriman dari wilayah tenggara Indonesia masih menyelimuti sejumlah wilayah Kepulauan Buton, Sulawesi Tenggara. Meski demikian, kondisi tersebut hingga kini belum mengganggu aktivitas penerbangan di Bandar Udara (Bandara) Betoambari Baubau.

Diungkapkan Ketua Tim Teknik Keselamatan Operasi dan Pelayanan Darurat Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Betoambari, Fadli, opresional penerbangan di Bandara Betoambari sampai saat ini tetap berjalan normal seperti biasanya.

Terkait adanya asap tipis yang terlihat di sekitar Bandara Betoambari, kondisi tersebut tidak mengganggu operasional maupun keselamatan penerbangan.

“Sejauh ini masih aman (tidak mengganggu jarak pandang atau kondisi pesawat saat penerbangan). Jarak pandang 7 kilometer,” jelas Fadli, saat dikonfirmasi, Selasa (29/9/26).

Fadli memastikan, pihak Bandara Betoambari, selalu mendapat update terkait kondisi cuaca dan jarak pandang dari Badan Metereologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) Stasiun Metereologi Betoambari Kota Baubau.

Stasiun Metereologi Betoambari

Sementara itu, Petugas Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas III Betoambari Baubau, Steviano Mardika Simorangkir, mengatakan asap yang terlihat di wilayah Kepulauan Buton bukan berasal dari kebakaran hutan di sekitar Baubau.

Fenomena tersebut diduga merupakan sebaran asap dari kebakaran hutan di wilayah lain yang terbawa pola angin dominan dari arah tenggara.

“Asap-asap yang terjadi dari kebakaran hutan di wilayah Tenggara itu terbawa sampai ke wilayah kita,” ujar Steviano.

Menurut Steviano, kondisi atmosfer saat ini menunjukkan fenomena tersebut lebih tepat dikategorikan sebagai asap, bukan kabut.

Hal itu antara lain ditandai dengan tingkat kelembapan udara yang relatif rendah, yakni sekitar 50 hingga 60 persen. Sementara, kondisi kabut umumnya membutuhkan kelembapan yang jauh lebih tinggi.

Meski terlihat menyelimuti wilayah Kepulauan Buton, konsentrasi asap saat ini masih relatif tipis.

Kondisi tersebut membuat jarak pandang atau visibility di sekitar Bandara Betoambari masih berada pada tingkat yang memungkinkan pesawat melakukan proses lepas landas dan pendaratan.

“Kalau untuk saat ini, untuk mempengaruhi penerbangan mungkin masih belum terlalu. Karena secara data, visibility atau jarak pandang itu masih mumpuni untuk pesawat landing sama take off,” kata Steviano.

Steviano menjelaskan, jarak pandang menjadi salah satu parameter penting dalam mendukung keselamatan penerbangan.

Jika konsentrasi asap semakin tebal hingga menurunkan jarak pandang secara signifikan, kondisi tersebut dapat menjadi perhatian serius dalam operasional penerbangan.

“Kalau secara teorinya itu kita butuh asap yang tebal sampai membuat jarak pandang kita itu bisa sekitar satu atau dua kilo,” jelasnya.

Dengan kondisi saat ini yang masih berupa asap tipis, BMKG belum melihat adanya gangguan signifikan terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Betoambari.

BMKG Terus Pantau Jarak Pandang

Stasiun Meteorologi Betoambari terus memantau kondisi atmosfer, termasuk jarak pandang, arah angin dan perkembangan sebaran asap.

Pemantauan tersebut menjadi bagian dari pelayanan informasi meteorologi penerbangan kepada Bandara Betoambari dan maskapai yang beroperasi.

Steviano mengatakan, komunikasi dengan pihak bandara dan maskapai dilakukan secara rutin, terutama ketika terdapat aktivitas penerbangan.

“Kami selalu setiap hari, setiap jam, apalagi pada saat ada pesawat, kami selalu berkomunikasi. Jadi kita selalu memberi info-info update, apalagi untuk bandara,” ujarnya.

BMKG juga telah menyampaikan informasi mengenai kondisi asap melalui siaran pers, serta memberikan pembaruan kepada sejumlah pemangku kepentingan dan media.

Penerbangan Akan Diinformasikan Jika Jarak Pandang Turun

BMKG memastikan, akan memberikan informasi kepada pihak bandara apabila kondisi asap berkembang hingga menyebabkan jarak pandang tidak memenuhi persyaratan operasional penerbangan.

Informasi tersebut akan menjadi bahan bagi pihak terkait dalam mengambil langkah sesuai kondisi aktual di lapangan.

“Kalau sampai jarak pandangnya memang tidak memenuhi syarat untuk take off landing, pasti dari BMKG akan menyampaikan ke bandara,” tegas Steviano.

Ia menjelaskan, perhatian utama dalam kondisi asap bukan semata-mata keberadaan asap, melainkan seberapa besar konsentrasinya hingga mempengaruhi jarak pandang.

Karena itu, selama visibility masih memenuhi ketentuan operasional, keberadaan asap tipis belum serta-merta menyebabkan penerbangan terganggu.

Arah Angin Tentukan Perkembangan Asap

Menurut Steviano, perkembangan fenomena asap di Kepulauan Buton sangat bergantung pada kondisi di wilayah sumber kebakaran, serta perubahan pola angin.

Ada dua kemungkinan yang dapat menyebabkan sebaran asap berkurang atau berhenti.

Pertama, kebakaran di wilayah sumber mereda sehingga produksi asap berkurang. Kedua, terjadi perubahan arah angin sehingga asap tidak lagi terbawa menuju Kepulauan Buton.

“Kemungkinan fenomena ini bakal selesai itu ada dua. Pertama, kalau bukan karena penyebab utamanya, kebakarannya mereda. Atau yang kedua, pergerakan anginnya berubah,” ungkapnya.

Dengan demikian, BMKG masih terus melakukan pemantauan terhadap kondisi atmosfer dan jarak pandang, untuk memastikan informasi terbaru dapat segera disampaikan kepada pihak bandara, maskapai, dan masyarakat.

Untuk masyarakat, BMKG mengimbau agar mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak diperlukan. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat disarankan menggunakan masker sebagai langkah kehati-hatian selama kondisi asap masih berlangsung.

Komentar