Asap Tipis Selimuti Kepulauan Buton, BMKG Imbau Masyarakat
Baubau
Langit di Kepulauan Buton, termasuk Kota Baubau, berubah keruh keputihan pada Senin, 28 September 2026. Bukan kabut uap air seperti yang mungkin terlihat sekilas, kondisi itu teridentifikasi sebagai asap yang terbawa angin dari wilayah yang cukup jauh.
Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas III Betoambari Baubau mencatat kemunculan asap mulai sekitar pukul 13.00 WITA. Pada saat yang sama, jarak pandang turun hingga sekitar 8 kilometer dengan kelembapan udara berada pada kisaran 50 hingga 61 persen.
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari Baubau, Adi Istyono, mengatakan karakteristik atmosfer saat pengamatan membuat kondisi tersebut lebih kuat mengarah pada asap dibandingkan kabut akibat uap air.
“Dari hasil pengamatan, kelembapan relatif berada di kisaran 50 sampai 61 persen. Dengan kondisi tersebut dan jarak pandang yang menurun, fenomena yang terlihat di langit Baubau lebih mengarah kepada asap,” ujar Adi Istyono.
Bukan Dominan dari Kebakaran di Buton
Menariknya, indikasi titik panas di wilayah kerja BMKG Baubau justru menunjukkan penurunan.
Pada 28 September, BMKG hanya mencatat tiga titik panas. Kondisi ini menjadi salah satu dasar analisis, bahwa asap yang menyelimuti Kepulauan Buton, kemungkinan bukan berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kepulauan Buton, maupun daratan Sulawesi Tenggara.
“Kalau melihat perkembangan titik panas di wilayah kita yang justru rendah, maka sumber asapnya kemungkinan bukan dari wilayah Kepulauan Buton maupun Sulawesi Tenggara,” kata Adi.
Analisis BMKG kemudian mengarah pada kemungkinan adanya asap kiriman dari wilayah yang jauh di tenggara Indonesia.
Asap Diduga Terbawa Angin dari Arah Tenggara
BMKG Baubau menduga kuat asap tersebut berasal dari kebakaran hutan dan lahan berskala besar di Papua Selatan. Asap dari wilayah tersebut diduga bercampur dengan asap dari Maluku, kemudian terbawa pola angin regional dari arah tenggara melintasi Laut Banda.
Jarak antara Merauke, Papua Selatan, dan Baubau sendiri mencapai sekitar 1.800 kilometer.
Dengan kondisi atmosfer dan pola angin yang ada, asap dari wilayah sumber dapat terbawa dalam jarak yang sangat jauh, sebelum akhirnya memengaruhi kondisi atmosfer di wilayah Kepulauan Buton.
“Indikasinya mengarah pada asap kiriman dari arah tenggara. Ada kemungkinan asap dari Papua Selatan dan Maluku terbawa oleh angin regional melintasi Laut Banda hingga mencapai wilayah kita,” jelas Adi.
Fenomena ini sekaligus menunjukkan, bahwa kualitas udara di suatu wilayah tidak selalu dipengaruhi oleh sumber polusi atau kebakaran yang berada di sekitar wilayah tersebut.
Berpotensi Bertahan Beberapa Hari
BMKG memperkirakan kondisi langit keruh akibat asap masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Lamanya kondisi tersebut sangat bergantung pada perubahan pola angin serta perkembangan kebakaran di wilayah yang diduga menjadi sumber asap.
Selama arah angin masih membawa massa udara dari wilayah sumber menuju Kepulauan Buton, dan kebakaran di wilayah tersebut belum mengalami perubahan signifikan, kondisi serupa masih mungkin kembali terlihat.
Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung mengaitkan langit keruh di Baubau dengan kabut atau asap dari kebakaran lokal.
Pengamatan meteorologi tetap menjadi dasar untuk menentukan karakter fenomena tersebut.
Masyarakat Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
BMKG mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari ketika kondisi asap lebih terasa.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Masyarakat juga diminta memperbanyak konsumsi air putih dan menutup jendela rumah apabila kondisi asap mulai terasa pekat.
Imbauan lainnya adalah tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah yang dapat memperburuk kualitas udara.
Pengguna jalan juga diminta meningkatkan kewaspadaan, karena penurunan jarak pandang dapat memengaruhi keselamatan perjalanan. Hal serupa berlaku bagi aktivitas transportasi laut maupun penerbangan.
BMKG Terus Pantau Perkembangan
Stasiun Meteorologi Kelas III Betoambari Baubau akan terus memantau perkembangan kondisi atmosfer, arah angin, jarak pandang, serta titik panas di wilayah kerja dan sekitarnya.
Masyarakat dapat memperoleh informasi lebih lanjut melalui Stasiun Meteorologi Betoambari Baubau pada nomor 0811-4561-1196 atau melalui surat elektronik stamet.baubau@bmkg.go.id.
Untuk sementara, langit keruh yang menyelimuti Kepulauan Buton menjadi pengingat bahwa asap kebakaran hutan dan lahan dapat bergerak jauh melampaui wilayah sumbernya.
Di Baubau, yang terlihat hanya lapisan tipis di langit. Namun di baliknya, ada pola angin regional dan kebakaran hutan di wilayah lain yang sedang dipantau BMKG.









Komentar