La Ode Mardan Tembus Kejuaraan Teqball Internasional, Pernah Gagal Jadi Abdi Negara, Kini Jadi Cleaning Service
Baubau
Nama La Ode Mardan mungkin belum terlalu dikenal luas di luar dunia olahraga. Namun pemuda asal Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, ini telah membawa nama Indonesia di panggung olahraga internasional.
Mardan menjadi bagian dari tim teqball Indonesia pada SEA Games 2025 di Thailand. Berpasangan dengan Husni Uba, ia merebut medali perak nomor ganda putra. Catatan resmi Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia mencatat Mardan sebagai peraih medali perak pada ajang tersebut.
Di balik pencapaian itu, ada cerita yang jauh dari gemerlap podium.
Sehari-hari, pemuda kelahiran 3 November 2003 ini bekerja sebagai pegawai honorer yang bertugas sebagai cleaning service di rumah jabatan Wali Kota Baubau. Pekerjaan itu sudah dijalaninya sekitar dua tahun.
Di sela pekerjaan dan kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Baubau, Mardan tetap menjaga rutinitas sebagai atlet.
Jalan hidupnya pun tidak langsung mengarah ke podium internasional.

Berawal dari Rumah dan Sepak Takraw
Ketertarikan Mardan terhadap olahraga tumbuh sejak kecil.
Di lingkungan keluarganya, olahraga sepak takraw sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia sering melihat pamannya, Husni Uba, berlatih. Ibunya, Melati, juga atlet sepak takraw.
Dari situlah Mardan mulai mengenal olahraga yang kemudian membentuk perjalanan hidupnya.
“Dari SD saya sudah mulai tertarik. Awalnya sering lihat paman latihan di rumah nenek. Mama juga,” kata Mardan.
Ketika duduk di kelas VI sekolah dasar, ia mulai serius mengikuti latihan.
Namun, saat itu Mardan belum langsung menjadi pemain yang turun dalam pertandingan.
Ia lebih banyak mengamati, berlatih dan belajar memahami bagaimana seorang atlet bertanding.
Kesempatan tampil dalam kejuaraan resmi datang beberapa tahun kemudian. Pada 2018, ketika masih kelas IX MTsn, Mardan mengikuti kejuaraan sepak takraw di Kolaka, dan mulai berhadapan dengan pemain yang lebih senior.
Dari sana, perjalanan kompetitifnya perlahan terbentuk.
Ia kemudian menempuh pendidikan di sekolah olahraga di Kendari, dengan sepak takraw sebagai cabang yang ditekuni.
Dari Sepak Takraw Menuju Teqball
Sepak takraw menjadi fondasi bagi Mardan sebelum akhirnya beralih ke teqball.
Secara karakter permainan, keduanya memang memiliki sejumlah kemiripan. Sama-sama membutuhkan kontrol bola menggunakan kaki dan bagian tubuh tertentu. Bedanya, teqball dimainkan menggunakan meja khusus dengan bola yang menyerupai bola sepak.
Peralihan itu membuka jalan baru bagi Mardan.
Pada 2025, ia mengikuti seleksi teqball di Jakarta sebagai bagian dari persiapan menuju SEA Games Thailand.
Mardan berhasil masuk dalam jajaran atlet yang kemudian mengikuti proses seleksi lanjutan hingga akhirnya memperkuat Indonesia.
Hasilnya menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan kariernya.
Bersama Husni Uba, Mardan meraih medali perak ganda putra pada SEA Games 2025 di Thailand. Pasangan andalan Indonesia tersebut finis di posisi kedua, setelah kalah dari pasangan Thailand pada partai final.
Bagi Mardan, medali itu bukan sekadar penghargaan atas latihan.
Ada keluarga yang ingin ia bahagiakan.

Medali yang Berujung Rumah untuk Orang Tua
Mardan tidak menyembunyikan alasan mengapa ia begitu serius menjalani olahraga.
Sejak menyelesaikan pendidikan setingkat SMA, ia beberapa kali mencoba mencari jalan lain untuk mengubah nasib.
Ia pernah mengikuti tes kepolisian satu kali, tes TNI sebanyak tiga kali dan seleksi CPNS Kementerian Hukum dan HAM untuk formasi lembaga pemasyarakatan satu kali.
Belum berhasil.
Kegagalan dalam sejumlah seleksi pekerjaan itu tidak membuatnya berhenti.
Ia justru semakin serius mengembangkan kemampuan yang sudah dimilikinya sejak kecil.
Dari olahraga itulah kemudian datang salah satu hasil terbesar dalam hidupnya.
Bonus prestasi yang diterimanya setelah meraih medali SEA Games digunakan untuk membeli rumah bagi orang tuanya.
“Alhamdulillah kemarin kita juara di SEA Games. Kita bisa juga belikan orang tua rumah,” ujar Mardan.
Nilai bonus yang diterimanya sebesar Rp250 juta. Rumah tersebut kini telah ditempati orang tuanya sekitar lima bulan, setelah sebelumnya keluarga mereka tinggal di rumah nenek di Wameo. Bakti seorang anak kepada orang tua, sisa uang setelah membeli rumah, digunakan untuk mengongkosi ayahnya pulang dan beristirahat sejenak dari pekerjaannya di rantau, agar bisa berkumpul bersama keluarga di rumah baru di Kota Baubau. Mardan juga membeli satu unit sepeda motor, untuk memudahkan rutinitasnya dan keluarga.
Bagi Mardan, rumah itu lebih dari sekadar tempat tinggal.
Ia adalah bentuk kecil dari keinginannya membalas perjuangan orang tua.
Ayah Merantau, Bekerja Serabutan
Sejak lama, ayah Mardan, La Ode Ardin, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Sang ayah merantau ke kawasan Indonesia timur dan menjalani berbagai pekerjaan serabutan, termasuk menjadi buruh pembuat batako. Sebelumnya, sang ayah bekerja sebagai petani.
Namun lahan pertaniannya telah dijual untuk membiayai pendidikan Mardan ketika masuk SMA, dan pendidikan adik perempuan Mardan, saat masuk SMP.
Cerita itu menjadi salah satu alasan Mardan ingin terus berkembang.
Ia tidak ingin selamanya hanya menjadi orang yang menerima bantuan.
Mardan justru menyimpan satu keinginan sederhana: suatu hari nanti dapat membuka usaha mandiri untuk ayahnya.
Keinginan itu kini menjadi bagian dari target hidup yang ingin diwujudkannya melalui kerja dan prestasi.

Ibu: Dari Keluarga Takraw, Mardan di Tempa
Menurut Sunarti, ibu Mardan, bakat olahraga anaknya sudah terlihat sejak kecil.
Lingkungan keluarga menjadi tempat pertama Mardan mengenal sepak takraw. Ia sering menyaksikan pamannya, Husni Uba, berlatih dan bertanding. Husni dikenal sebagai atlet sepak takraw yang telah menjalani berbagai pertandingan dari tingkat daerah hingga internasional.
Sunarti sendiri pernah menekuni sepak takraw sebagai atlet.
Karena itu, olahraga bukan sesuatu yang asing bagi Mardan.
“Pokoknya salat, mengaji, itu yang utama. Sama-sama kita berdoa,” kata Sunarti.
Menurut dia, pesan kepada Mardan bukan hanya soal bagaimana menjadi juara.
Mardan diminta berlatih sungguh-sungguh. Ketika berhasil meraih kemenangan, ia diminta bersyukur. Sebaliknya, ketika belum berhasil, kekalahan harus diterima sebagai bagian dari proses.
“Kalau belum juara mungkin itu rezeki yang tertunda, dan harus berlatih lebih giat lagi,” ujar Sunarti.
Pesan itu terus dibawa Mardan setiap kali menjalani pertandingan.
Sebelum berangkat bertanding ke luar daerah maupun luar negeri, ia terbiasa menghubungi kedua orang tuanya untuk meminta restu dan doa.
Kerja, Kuliah, Latihan
Kehidupan Mardan sekarang tidak hanya tentang pertandingan.
Ia harus membagi waktu antara pekerjaan sebagai cleaning service, kuliah dan latihan sebagai atlet.
Menjelang kejuaraan, persiapan biasanya dilakukan sekitar dua bulan. Latihan dapat berlangsung pagi dan sore, tetapi waktunya harus disesuaikan dengan pekerjaan dan aktivitas perkuliahan.
“Saya kalau pagi latihan sekitar dua jam. Kalau sore sekitar satu jam, menyesuaikan dengan kerja dan kuliah,” katanya.
Rutinitas itu membuat Mardan terbiasa menjalani kehidupan dengan jadwal yang padat.
Ia juga menjaga kondisi fisik dan pola makan agar tetap mampu tampil maksimal.
“Yang dijaga mungkin fisik. Fokusnya konsentrasi. Kita punya skill supaya naik terus,” ujar Mardan.
Kekalahan di Jepang Tak Padamkan Semangat
Setelah membawa pulang medali perak dari SEA Games Thailand, perjalanan Mardan berlanjut ke Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Jepang.
Bersama Husni Uba, ia kembali tampil di nomor ganda putra.
Pasangan paman keponakan ini berhasil melewati fase grup, kemudian mendapatkan kesempatan melalui sistem repechage untuk kembali memperjuangkan peluang medali.
Namun, pada perebutan medali perunggu 20 September 2026, Husni Uba-La Ode Mardan harus mengakui keunggulan pasangan Kuwait, Basel Ahmad-Abdulwahab Alqattan, dengan skor 1-2.
Bagi Mardan, kekalahan bukan alasan untuk berhenti.
“Sukanya itu ketika dapat medali, berhasil dalam pertandingan. Dukanya ketika mengikuti seleksi atau mengalami kekalahan. Tapi itu kita jadikan bahan motivasi,” kata Mardan, saat ditanya suka duka sebagai atlet.
Sesampainya di Kota Baubau, Mardan kembali mempersiapkan diri.
Ia tidak punya banyak waktu untuk larut dalam kegagalan.
Target Berikutnya Medali Emas
Mardan kini kembali menatap pertandingan berikutnya.
Ia berharap pembinaan dan fasilitasi teqball di daerah semakin berkembang, sehingga atlet dapat menjalani persiapan dengan lebih baik.
Target pribadinya pun semakin tinggi.
“Harapanku semoga prestasi lebih tinggi lagi. Bisa mendapatkan medali di PON Pantai nanti, medali emas InsyaAllah. Dengan mendapatkan medali di SEA Games nanti,” kata Mardan.
Ia juga berharap dapat kembali memperkuat Indonesia pada ajang internasional berikutnya.
Di usia 22 tahun, perjalanan Mardan masih panjang.
Ia pernah gagal dalam sejumlah tes pekerjaan. Ia bekerja sebagai cleaning service. Ia kuliah sambil berlatih. Dan ia datang dari keluarga yang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tetapi dari lapangan takraw dan meja teqball, ia menemukan jalan yang berbeda.
Kini, setiap kali Mardan berlatih, yang dikejarnya bukan hanya medali.
Ada orang tua yang ingin ia bahagiakan.
Ada seorang ayah yang ingin ia bantu.
Dan ada satu cita-cita yang terus ia bawa: suatu hari nanti, dari hasil kerja kerasnya sebagai atlet, ia ingin membuka usaha sendiri untuk sang ayah.
Perjalanan itu belum selesai.
Justru mungkin baru dimulai untuk seorang Mardan.









Komentar