Buton
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak nyata hingga ke akar rumput. Di Kelurahan Gonda Baru, Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton, Mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Awainulu menggandeng Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) setempat untuk memulai penanaman 1.000 pohon pisang di lahan perkebunan setempat.
Program ini sebagai langkah strategis memenuhi kebutuhan buah bergizi bagi ribuan penerima manfaat MBG di wilayah Baubau, Kabupaten Buton, dan Buton Selatan. Sungguh sebuah inisiatif yang menjadi bukti bahwa MBG bukan sekadar program konsumsi, tetapi juga motor penggerak ekonomi desa.
Mitra SPPG Awainulu, Kayan Mandana Putra, menjelaskan, selama ini kebutuhan pisang untuk mendukung distribusi MBG mencapai 300 hingga 400 sisir per hari, untuk setiap SPPG. Ironisnya, pasokan utama masih bergantung dari Kabupaten Muna dan Bombana, padahal wilayah Gonda Baru memiliki potensi lahan subur yang sangat memadai untuk menjadi sentra produksi lokal.
“Kondisi inilah yang mendorong lahirnya gerakan menanam pisang berbasis petani desa,” ungkapnya.
Menurut Kayan, tahap awal program melibatkan 15 petani dengan skema setiap petani menanam 20 pohon pisang. Sebagai bentuk apresiasi dan stimulus ekonomi, setiap petani mendapat dukungan nominal Rp200 ribu.
Penanaman pun dilakukan secara bertahap setiap pekan hingga target 1.000 pohon tercapai. Skema ini dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan rantai pasok MBG, tetapi juga membangun kemandirian pangan berbasis desa.
“Ini bukan hanya soal pisang, tapi bagaimana desa bisa menjadi penopang utama kebutuhan pangan bergizi di daerah sendiri,” sambung Kayan.
Selain pisang, kata Kayan, pihaknya juga memetakan kebutuhan komoditas lain seperti kacang panjang, buncis, dan pepaya muda, yang berpotensi menjadi bagian penting dalam suplai bahan pangan program MBG kedepan.
Bagi para petani, program ini menghadirkan harapan baru. Kasman, salah satu perwakilan petani, mengaku sangat terbantu karena kini ada kepastian pasar atas hasil pertanian mereka. Selama ini, persoalan utama petani bukan hanya menanam, tetapi menjual hasil panen dengan harga layak.
“Kehadiran SPPG sebagai mitra distribusi membuka ruang ekonomi yang lebih pasti dan terukur,” ungkapnya.
Kasman juga berharap, dukungan pemerintah maupun mitra dapat diperluas melalui bantuan benih sayuran, khususnya buncis, agar petani bisa lebih maksimal memenuhi kebutuhan bahan pangan MBG. Menurutnya, jika benih tersedia, masyarakat siap menanam lebih banyak dan menjadikan pertanian sebagai sumber penghasilan berkelanjutan.
Semangat serupa disampaikan Sanusi, petani lainnya, yang merasa program ini bukan hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga menumbuhkan motivasi baru dikalangan petani desa. Ia bahkan menyebut para petani siap menanam lebih dari target awal 20 pohon per orang, karena melihat peluang nyata dari program tersebut.
“Bersyukur karena menanam pisang, dan diapresiasi juga dengan uang Rp200 ribu,” ucapnya penuh semangat.
Langkah Mitra SPPG Awainulu bersama petani Gonda Baru menegaskan bahwa Program MBG dapat menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi lokal jika dijalankan dengan pendekatan kolaboratif. Dari kebun warga, kebutuhan gizi masyarakat terpenuhi; dari tangan petani, roda ekonomi desa bergerak.
Ketika program nasional mampu bertemu dengan potensi lokal, maka kesejahteraan bukan lagi sekadar wacana, melainkan tumbuh bersama di
setiap pohon yang ditanam.
(Redaksi)
Berita terkait:











Komentar