oleh

Memprihatinkan! Di Buton Tengah Ada Kakek Nenek Miskin Puluhan Tahun Tinggal Digubuk Tua

Buteng

Usia gubuk yang dijadikan tempat berteduh dari sengatan terik mentari dan rinai deras hujan memang tak setua usia senja mereka. Namun bagi Kakek La Onda dan istrinya Nenek Wa Puta merupakan suatu kesyukuran tak terhingga.

Tak ada tempat lain lagi, tak ada pilihan selain tinggal digubuk reyot ini selama puluhan tahun. Bagi keduanya gubuk derita inilah istana termegah.

Kakek Laonda lahir di Lombe 1 Juli 1951 Kelurahan Bombonawulu Kecamatan Gu Kabupaten Buton Tengah (Buteng), sebuah daerah otonomi baru disahkan pada pertengahan tahun 2014. Bersama sang Istri yang tak bisa melihat lagi, Kakek menghabiskan perputaran waktu, menyambut fajar meniti senja.

Kakek hanya mengandalkan sampah, barang bekas untuk bertahan hidup. Setiap hari Ia menjalankan profesi ini, dari menjual sampah botol plastik, ember plastik, juga barang bekas lainnya, yang hasilnya tak seberapa, Kakek membeli buah pisang untuk makanan sehari-hari bersama Nenek. Bahkan untuk menghemat, Ia mengambil potongan-potongan kepala ikan jualan orang lain di pasar, untuk dibawa pulang ke gubuknya dan dimasak.

Tabah, sabar, hanya itu yang menjadi pegangan hidupnya, terlebih sudah sekian tahun Ia menderita penyakit pada bagian testis, yang sering membuatnya meringis kesakitan.

Lihat dengar dan rasakan

Mendapat informasi dari seorang yang berhati mulia, sayapun mengagendakan, Minggu 17-02-2019 menuju Buteng.

Mengendarai sepeda motor matic “setengah tua”, menumpang dalam pelayaran kapal Ferry Baubau-Waara, kemudian menempuh perjalanan darat sekitar 1 jam, akhirnya saya tiba didepan gubuk Kakek La Onda. Saya berdiam beberapa saat, dan kemudian menyapa beberapa warga setempat yang tengah bergotong royong merenovasi gubuk Kakek.

Rupanya beberapa hari sebelumnya atap gubuk Kakek roboh (penduduk setempat menyebutnya dengan atap rumbia/atap yang terbuat dari bahan daun nipa). Akibat robohnya atap gubuk Kakek, keduanya (Kakek dan Nenek) basah kuyup saat hujan.

Para warga, tetangga Kakek berempati, mengumpulkan dana sukarela, dan kemudian membeli bahan untuk merenovasi gubuk tersebut.

Dari depan gubuk sudah menjelaskan apa profesi Kakek. Bertumpuk barang bekas, sampah plastik, dan barang lainnya. Bagaimana membayangkan sebuah gubuk reyot, kekumuhan, tepat ditepi jalan raya sebuah Kabupaten baru, yang masih mencari, membranding identitas diri.

Saya menyapa Kakek yang kala itu tengah bergumul asap, merebus air, tepat disamping kanan tangga gubuknya. Sapaan saya dibalas ramah sang Kakek, yang tak bisa menyembunyikan rasa sakit akibat penyakit yang dideritanya.

“Sakit dibagian ‘batuaku’ (alat kelamin),” ucap Kakek sembari meringis kesakitan. Ditengah kemiskinan, diusia senjanya, Kakek memendam sakit ditubuh rentanya.

Tak lama Kakek pun mengeluarkan beberapa jenis obat dari saku bajunya. Obat inilah yang sedikit menangkal rasa sakitnya, mungkin karena reaksi positif obat, atau sekedar sugesti yang timbul karena obat yang didapatnya dari Puskesmas tersebut.

Kakek mengangkat panci air rebusan, membawanya keatas gubuk, perlahan menaiki satu demi satu anak tangga kayu, sembari menyapa sang istri tercinta yang tengah terbaring. Entah apa arti ucapan Kakek menggunakan bahasa daerah.
Nenek bangun dari pembaringannya, tampak rambut yang sudah memutih dan wajah keriput Nenek nan lelah.

Kakek berkisah, Ia memiliki anak yang sudah berumah tangga diperantauan, yang sudah sekian tahun belum datang menjenguknya.

Tak banyak yang disampaikan Kakek dalam gubuknya, dan ketika saya akan berpamitan, Ia kembali mengungkapkan rasa sakit atas penyakit yang dideritanya. Sembari mengusap air yang menetes dikedua matanya.

Air setetes yang keluar dari mata Kakek, seolah sebagai luapan ungkapan beban derita yang dialaminya puluhan tahun. Pilu menyayat hati, menyaksikan realita kehidupan ini.

Turun dari gubuk, saya sempat berbincang dengan seorang tetangga Kakek, bernama Wa Ade, yang sempat mengumpulkan dana sukarela untuk merenovasi gubuk Kakek. Wa Ade menceritakan, gubuk tersebut adalah gubuk yang dibangun bersama-sama tetangga diatas lahan milik orang. Posisi gubuk tersebut sebelumnya sektar 20 meter dari posisi yang sekarang, digeser karena diposisi sebelumnya telah dibangun jalan.

Kakek sudah menempati gubuk tersebut sekitar dua puluh tahun lamanya. Kata Wa Ade, Kakek memiliki tiga orang anak, dua diperantauan, dan putera bungsu Kakek ada di Lombe, namun sibungsu memiliki kekurangan. Saat ini berumur sekitar dua puluh tahun.

Lanjut Wa Ade berkisah, Kakek memiliki seorang saudara, yang juga mengalami kebutaan, dan kondisinya juga sangat keterbatasan. Sehingga menurut Wa Ade, bagaimana mungkin keduanya saling membantu meringankan beban hidup, ditengah kondisi mereka yang sama-sama tidak mampu.

Pengobatan Kakek dibantu oleh seorang perawat ( tetangganya), yang seringkali memberikan obat secara cuma-cuma kepada Kakek. Perawat baik hati itu juga yang mengantar Kakek berobat ke Puskesmas, sehingga Kakek bisa mendapat perawatan dan pengobatan yang lebih baik. Bahkan, seharusnya pengobatan Kakek dirujuk ke Rumah Sakit Umum di Kota Baubau, tetapi tak ada sanak saudara yang menjaganya. Sedangkan putera bungsu Kakek mengalami kekurangan.

“Untuk makan sehari-hari kadang juga dibantu warga, tetangga tetangga disini yang punya kelebihan. Dikasi beras atau bahan makanan lainnya,” kata Wa Ade.

Semoga Kakek La Onda dan Nenek Wa Puta bisa mendapatkan perhatian dari Pemerintah, melalui berbagai program bantuan bagi warga miskin. Sebab mereka layak mendapatkannya. Semoga Kakek La Onda dan Nenek Wa Puta dapat mengecap kebahagiaan aamiin aamiin yaa rabbal alamiin.


[ LM. Irfan Mihzan ]

Komentar

News Feed