oleh

Menyentuh Hati! Seorang Anak Terlantar Dituduh Mencuri Hp

Realita yang sangat menyentuh hati, menyedihkan ini terjadi pada Selasa 12-02-2019 siang, di Kapal Penumpang Express Bahari 5E rute pelayaran Kendari-Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara. Seorang anak terlantar berumur sekitar 13 tahun (FR) dituduh mencuri sebuah Handphone merk shiomi.

Seorang Ibu paruh baya menduga kuat anak bertubuh kurus, berpakaian lusuh itu telah mengambil Hpnya. Si Ibu ini mengungkapkan alasan yang cukup kuat, dan sangat yakin, bahwa FR lah yang mengambil Hp miliknya. Sebab, sebelumnya si Ibu melihat FR berada dekat dirinya.

Hp yang hilang itu terakhir kali terlihat masih dipegang anak bungsu si Ibu yang berumur tujuh tahun (sibocah ini kerap bermain game menggunakan Hp si Ibu). Tak lama berselang Hp itu raib.

Saat si Ibu menyadari Hpnya hilang, si Ibu sempat memikirkan, mengingat-ingat, yang kemudian dibenaknya terbesitlah FR. Si Ibu pun langsung mencari FR, dan menemukan FR dibagian depan (sekitar bak) kapal. Dengan rentetan kondisi situasi yang dialaminya didalam kapal, tuduhan si Ibu langsung mengarah pada FR, Ia nampak sangat yakin, bahwa FR lah yang mengambil Hp miliknya.

Seketika reaksi si Ibu berulang kali menuding, menyebut FR yang mengambil Hp miliknya, mengundang perhatian penumpang lainnya. Reaksi spontan si Ibu menuding, menyebut FR mengambil Hp milknya, kian memicu amarah si Ibu, yang terus berulang mendesak FR mengakui mengambil Hp tersebut.

Namun FR terus terdiam, dan hanya sesekali berucap dengan suara sangat pelan, bahwa Ia tidak mengambil Hp tersebut. Si Ibu terus dan terus meminta FR mengaku, seterusnya meminta FR menunjukkan dimana Hp tersebut disimpan atau disembunyikan. Sebab Hp tersebut tidak ditemukan ditubuh FR.

FR pun sempat dibawa ke ruang kemudi, dan dihadapan beberapa crew kapal si Ibu menceritakan kronologis hilangnya Hp tersebut. Masih dalam situasi yang sama, si Ibu berulang kali meminta FR mengaku, dan menunjukkan dimana Hp miliknya disembunyikan.

Alhasil, FR tetap saja enggan mengakui.
Diam dan tidak mengakunya FR terus memicu emosi Si Ibu, yang mengeluarkan suara agak keras, sesekali mengancam akan membawa FR ke kantor Polisi, sesampainya kapal di pelabuhan Raha.

Si Ibu terus meminta FR mengaku, menunjukan dimana Hp itu disembunyikan. Terus berlangsung, selama beberapa jam kapal berlayar dari pelabuhan Kendari sampai akan tiba di pelabuhan Raha.

Lambat laun Si Ibu mulai “melunak”, nada kerasnya berubah lembut, bahkan langsung mengeluarkan uang Rp 100.000 dari dalam tasnya, diberikan kepada FR, sembari berjanji tidak akan membawa FR ke kantor Polisi, bila FR mau menunjukan, mengembalikan Hp tersebut.

Menurut si Ibu, Hp tersebut adalah pesanan kerabatnya yang Ia beli di Batam. Si Ibu bersama sang suami dan anaknya baru kembali dari Batam, mengunjungi mertuanya.

Kala itu, si Ibu juga sempat berkisah, sebelum Ia menyadari Hpnya telah hilang, Ia mendengar perkataan seorang pedagang asongan yang ditujukan kepada FR. Kata pedagang asongan tersebut,”apalagi yang kamu sembunyikan, yang kamu curi itu?” cerita si Ibu, menirukan perkataan pedagang asongan yang ditujukan kepada FR.

Si Ibu juga menceritakan, Ia melihat posisi FR berjalan yang kemudian menambah dirinya curiga, seolah FR menyembunyikan sesuatu. Menurut si Ibu, sebelum menyadari Hpnya hilang, Ia sempat menyuruh FR agar menjauh darinya, sebab aroma tubuh FR yang ‘maaf’ berbau pesing.

Saat FR dibawa keruang kemudi, seorang pemuda juga berusaha untuk membujuk FR agar mengembalikan Hp milik si Ibu. Pemuda ini berbicara dengan pelan, berbisik, meyakinkan FR, agar sebaiknya FR mengembalikan Hp tersebut.

Namun upaya si Pemuda tak berbuah hasil. FR tetap tak mengaku. Hingga kapal bersandar di pelabuhan Raha, FR masih tetap tidak mengakui tuduhan yang diarahkan kepada dirinya. Bahkan hingga FR hilang berlalu dari atas kapal. Secara terpisah si Ibu dan keluarganya juga turun dari kapal.

Dua pemuda lainnya turut membantu mencari Hp tersebut dibalik tumpukan kardus barang yang tersusun rapi di bak kapal. Namun upaya mereka juga tak membuahkan hasil, Hp tersebut tidak ditemukan.

Menyaksikan ekspresi FR selama Ia diminta untuk mengakui mencuri Hp tersebut, wajahnya pucat, anak ‘terlantar’ itu nampak ketakutan. Terlihat, Ia mencoba menutupinya dengan menggenggam kuat beberapa lembar uang kertas pecahan lima ribu rupiah yang ada ditangannya. Bahkan FR sampai menyobek uang tersebut.

Hati saya tersentuh, terdorong untuk bertanya kepada FR, ingin tau tentang FR. Dengan suara pelan, berbisik, sayapun mengajukan beberapa pertanyaan kepada FR, yang harus saya tanyakan berulang kali, sebelum Ia mau menjawabnya.

Tak banyak dari pertanyaan saya yang mau dijawab FR. Dengan suara pelannya, Ia menjawab satu persatu pertanyaan saya, Ia memiliki tiga saudara, Ia anak sulung, Ibu Bapaknya telah bercerai, Bapaknya telah menikah lagi.

Kata FR, Ibunya tak memiliki pekerjaan tetap, neneknya bekerja sebagai tukang cuci pakaian untuk biaya mereka makan sehari-hari.

Yang lebih memuncaki haru, saat saya bertanya apakah FR pernah bersekolah?. Beberapa kali saya mengulang bertanya, FR kemudian menjawab dengan sendunya, Ia pernah bersekolah di SLB (Sekolah Luar Biasa), namun Ia putus (Sekolah). Hati semakin terenyuh, mendengar jawaban FR.

FR salah satu kisah pilu anak Negeri, anak terlantar dengan ‘maaf’ keterbelakangan mental, dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan, yang menggantungkan nasibnya, mencari makan dengan hidup dijalan. Baju dan celana yang dikenakan FR kala itu kotor berdebu, bau badannya ‘maaf’ pesing.

FR berdiri menopang hidup, berjalan menyusuri waktu tanpa alas kaki.

FR hanyalah cerminan satu diantara ratusan bahkan ribuan anak Indonesia yang harus menjalani kerasnya kehidupan, bertahan hidup dalam kemiskinan, menahan lapar dan dahaga, dalam keterbelakangan.

Negara harus hadir, memberikan kepastian perlindungan, kelayakan hidup, kesejahteraan, sesuai yang termaktub dalam Undang-Undang Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) dalam pasal 34 ayat 1 bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.

Mengacu pada manusiawinya bunyi Pasal tersebut, seharusnya tidak ada lagi anak Negeri, Rakyat yang hidup diatas bumi pertiwi ini yang masih dalam taraf hidup tidak layak, terkatung-katung dalam kemiskinan. Kawajiban Pemerintah untuk memelihara dan sejahterakan Rakyatnya.

~ LM. Irfan Mihzan ~

Komentar

News Feed