Catatan LM Irfan Mihzan
Kasamea.com
Dia bijak mengakrabi tanah. Ketika banyak se-kaum-nya tengah asyik bersosialita membaur mengisi sekat-sekat high class, sibuk menata rias kecantikan, make over dengan sulam menyulam diwajahnya, memangkas rambut mengikut trendi, menikur pedikur, sauna di salon-salon ternama, bahkan operasi plastik bagian tubuh agar tampak lebih dan lebih sempurna lagi dimata sesamanya.
Dia tetap membumi mengais reski. Ketika se-kaum-nya tengah berleha menenteng tas branded, mengenakan gaun merk ternama, high heels berharga fantastis, pamer makan atau sekedar nongki di restoran mewah, menghabiskan duit di pusat-pusat perbelanjaan Lux didalam maupun diluar negeri, asyik berkaraoke, atau bertik tok ria, mendulang mimpi menanjaki karir duniawi.
Kisah ini hanyalah satu diantara realitas kehidupan masa kini, satu diantara gambaran perjuangan hidup seorang Ibu, para perempuan, pahlawan keluarganya.
Dia Ibu Zilati, pembuat batu bata di Kelurahan Kantalai Kecamatan Lea-Lea Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Sabtu 26 Juni 2021, Ibu berusia 51 tahun ini tampak ramah menyambut kehadiran saya. Dengan senyum, menyapa santun, penuh kelembutan seorang Ibu. Di tempatnya bekerja, ada diantara berderet pembuat batu bata di Kantalai.
Ibu Zilati dengan setia mendampingi, membantu suami tercinta, Pak Suhufi, dan seorang puterinya, menjalani aktivitas seperti biasa, mencetak batu bata. Yang juga popular dengan sebutan batu merah.
Dengan mencetak batu bata yang sudah ditekuni selama puluhan tahun, Ibu Zilati dan suami bisa menyekolahkan enam putera-puterinya. Bahkan dua diantaranya telah lulus Sarjana, dan bekerja sebagai Bidan di rumah sakit umum dan Puskesmas di Negeri Khalifatul Khamis.
Diusia lebih setengah abad ini, Ibu Zilati dan suami sudah dikaruniai 5 orang cucu.
Cekatan, Ibu Zilati dibantu puterinya bisa mencetak ratusan buah batu bata dalam setiap kali proses pencetakan. Disini mereka berbagi tugas, Ibu Zilati dan puterinya mencetak batu bata, dan sang suami bertugas menyiapkan bahan. Mulai dari mencangkul/menggali tanah, mengairi, menyiapkan kulit padi, mengaduk dan mengangkut tanah, untuk kemudian dicetak. Sampai pada proses pembakaran, memastikan ketersediaan kayu bakar, hingga penyusunan dan pengangkutan batu bata.
Tak jarang mereka bahu membahu saling meringankan beban tugas.
Dalam proses pembuatan batu bata, Pak Suhufi harus menyiapkan Tanah, dengan mencangkul/menggali, mencampur tanah dengan kulit padi, kemudian diaduk hingga menghasilkan campuran tanah yang layak untuk cetak.
Menyiapkan mesin pompa air dengan bahan bakarnya bensin (Air yang mereka gunakan bersumber dari kali yang berjarak puluhan meter dari tempat kerja mereka). Air untuk mengaduk tanah dengan kulit padi. Selanjutnya untuk proses cetak, menggunakan alat cetak yang terbuat dari kayu, dan ditaburi abu sisa pembakaran kayu, agar tanah tidak lengket pada cetakan.
Tanah yang sudah dicetak harus dikeringkan. Pada musim kemarau membutuhkan waktu dua sampai tiga hari, sedangkan musim hujan, bisa memakan waktu seminggu untuk pengeringan.
Kemudian batu bata yang sudah dikeringkan, dirapikan dengan cara mengiris tiap sudut batu bata yang belum rata saat dicetak. Setelah dirapikan, batu bata disusun/ditata dalam tungku untuk proses pembakaran. Sebelumnya telah disiapkan kayu untuk pembakaran.
Setelah dibakar dan sudah dingin, batu bata disusun. Siap dijual.
Penjualan batu bata bisa dengan cara ambil ditempat (Bangsal), dan bisa pula diantarkan langsung ke alamat pembeli.
Untuk biaya produksi membutuhkan biaya: Kayu bakar Rp 300.000/ret angkut, bensin untuk mesin pompa air, ongkos susun bata Rp 100ribu/hari, pembakaran Rp 2.000.000 untuk 30.000 buah batu bata.
Untuk pembakaran 30.000 buah batu bata, membutuhkan kayu 10 ret angkut, dengan biaya Rp 3.000.000.
Pak Suhufi mengatakan, dalam setiap kali pembakaran, mereka bisa membakar 25.000 – 30.000 buah batu bata. Batu bata yang sudah dibakar, tersusun rapi di bangsal, siap untuk dijual, sembari terus melakukan proses cetak batu bata.
Bapak berusia 55 tahun ini mengungkapkan, penjualan batu bata sangat terdampak pandemi covid-19. Usahanya bersama sang Istri drastis mengalami penurunan pemasukan keuangan.
Sebelum pandemi covid-19, mereka bisa menjual sampai 3000 buah batu bata bahkan lebih dalam setiap bulannya, dengan harga Rp 1.500/buah (diantar ke alamat pembeli). Namun, selama pandemi covid-19, hanya bisa terjual dengan harga Rp 1.100/buah. Pembeli pun jarang.
Dalam kondisi normal, dari batu bata yang terjual, Bapak Suhufi bisa mendapatkan untung Rp 500/buah. Namun, selama pandemi covid-19, mereka pun harus rela memangkas untung, Rp 300/buah. Karena berkurangnya pembeli.
Apapun yang mendera, menerpa, Ibu Zilati tetap dengan semangatnya, mencetak batu bata. Peluh dan lelah, kerja kerasnya membantu sang suami demi kebahagiaan, bisa menyekolahkan anak mereka, menghantarkan sampai memiliki pekerjaan/profesi masing-masing. Disamping untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya. (***)









Komentar