Penulis: LM. Azhar Sa’ban
“Sudah Ada Kabar?”
Di awal pernikahan, pertanyaan itu terdengar biasa saja.
“Sudah ada kabar?”
“Kapan isi?”
“Semoga cepat dikasih momongan ya”.
Kalimat-kalimat seperti itu datang hampir di setiap pertemuan keluarga, acara kampus, reuni teman, bahkan obrolan singkat dengan tetangga. Di tahun pertama pernikahan, kami masih menanggapinya dengan santai. Kadang sambil tertawa. Kadang dengan jawaban sederhana: “Doakan saja”.
Saat itu kami benar-benar belum merasa terganggu. Kami percaya semua orang hanya sedang menunjukkan perhatian. Lagi pula, kami sendiri juga berpikir semuanya hanya soal waktu.
Bukankah hampir semua pasangan akan punya anak pada akhirnya?.
Setidaknya, itulah yang kami yakini waktu itu.
Tahun pertama pernikahan berjalan cepat. Kami sibuk menyesuaikan ritme kehidupan baru sebagai suami dan istri. Saya dengan aktivitas kampus yang padat, sementara istri saya dengan jadwal jaga yang sering berubah-ubah. Di tengah kesibukan itu, kami masih menikmati hidup dengan ringan.
Tetapi, perlahan waktu mulai mengubah cara kami mendengar pertanyaan- pertanyaan tadi. Yang awalnya terdengar biasa, mulai terasa mengganggu.
Yang awalnya bisa dijawab sambil tersenyum, mulai membuat kami saling diam setelah pulang ke rumah.
Saya masih ingat suatu acara keluarga. Saat itu kami sedang duduk makan bersama beberapa kerabat. Suasana sebenarnya hangat dan penuh tawa sampai seseorang bertanya dengan nada bercanda,
“Jangan terlalu sibuk kerja terus. Kapan kasih cucu ini?”
Semua orang tertawa kecil.
Kami ikut tersenyum.
Tetapi entah mengapa, setelah itu suasana hati saya berubah. Saya melirik istri saya pelan. Ia masih tersenyum seperti biasa, tetapi saya mengenalnya cukup baik untuk tahu bahwa ada sesuatu yang sedang ia tahan.
Di perjalanan pulang, mobil kami lebih banyak diisi diam.
Sampai akhirnya ia berkata pelan sambil melihat keluar jendela, “Mungkin mereka cuma bercanda”.
Saya mengangguk..“Iya”.
Tetapi kami sama-sama tahu, ada rasa yang tidak benar-benar baik-baik saja malam itu.
Sejak saat itu, pertanyaan tentang anak mulai terasa berbeda.
Bukan karena kami marah kepada orang-orang yang bertanya. Sebagian besar dari mereka mungkin tidak punya niat buruk sama sekali.
Mereka hanya tidak tahu bahwa ada pasangan yang pulang membawa beban dari pertanyaan sederhana itu.
Mereka tidak tahu ada hati yang mulai merasa gagal.
Mereka tidak tahu ada doa-doa yang setiap malam terus diulang dengan harapan yang sama.
Mereka tidak tahu ada dua orang yang diam-diam mulai bertanya kepada dirinya sendiri:
“Kenapa belum juga?”.
Semakin waktu berjalan, pertanyaan itu semakin sering datang.
Kadang dalam bentuk candaan.
Kadang dalam bentuk nasihat.
Kadang dalam bentuk perbandingan.
“Si anu nikah belakangan sudah punya dua anak”.
“Atau mungkin terlalu capek kerja?”
“Sudah periksa belum?”
Ada kalanya saya mencoba menjawab dengan tenang. Tetapi ada juga hari-hari ketika saya hanya tersenyum tanpa tahu harus berkata apa.
Sementara itu, saya mulai melihat perubahan kecil pada istri saya.
Ia mulai lebih sering diam setiap selesai menghadiri acara keluarga. Kadang terlihat baik-baik saja di depan orang lain, tetapi berubah murung ketika kami sudah sampai rumah.
Kadang ia tiba-tiba sibuk membereskan sesuatu hanya untuk menghindari pembicaraan tentang anak.
Dan sebagai suami, bagian paling menyakitkan adalah ketika saya tidak tahu bagaimana cara membuatnya benar-benar tenang.
Ada malam ketika ia bertanya pelan, “Kalau nanti kita belum punya anak juga bagaimana?”.
Saya terdiam cukup lama sebelum menjawab. Karena jujur, saya sendiri tidak punya jawaban pasti.
Saya hanya menggenggam tangannya dan berkata, “Kita jalani sama-sama.”
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa. Tetapi saat itu, hanya itu yang bisa saya pastikan: bahwa apa pun yang terjadi, kami tidak akan menghadapi semuanya sendirian.
Sejak saat itu, kami mulai belajar satu hal penting:
tidak semua luka datang dari kebencian.
Kadang luka justru datang dari pertanyaan sederhana yang terus diulang tanpa pernah benar-benar dipikirkan dampaknya.
Dan anehnya, semakin sering pertanyaan itu datang, semakin kami merasa dunia berjalan begitu mudah untuk orang lain.
Di media sosial, teman-teman mulai mengunggah foto kehamilan, video anak mereka yang sedang bermain, atau potret anak-anak mereka yang lucu.
Kami ikut bahagia melihatnya. Sungguh. Tetapi di saat yang sama, ada ruang kecil dalam hati yang terasa kosong.
Bukan iri. Mungkin lebih tepat disebut rindu pada sesuatu yang belum pernah kami miliki.
Di masa-masa itu, kami mulai belajar tersenyum sambil menyimpan banyak hal sendirian.
Belajar terlihat tenang meski hati tidak selalu baik-baik saja.
Belajar menjawab pertanyaan yang sama berulang kali tanpa tahu kapan semuanya akan berubah.
Dan tanpa kami sadari, sejak saat itu perjalanan kami sebagai pejuang dua garis merah benar-benar dimulai.
Bersambung…..
➡️ Bagian II Penunggu Dua Garis Merah
“Setiap Bulan Kami Berharap”
Baca bagian sebelumnya:






Komentar