oleh

PO-5 Falsafah Buton Motivasi Melawan Covid 19

Catatan: LM. Irfan Mihzan

Kota Baubau adalah wilayah eks Kesultanan Buton, pemilik kekayaan budaya, nilai-nilai kearifan lokal peninggalan leluhur, yang hingga saat ini masih terus dijadikan pedoman hidup, falsafah Buton yang sangat berharga.

Masyarakat masih memegang teguh, menjunjung tinggi falsafah Buton dalam menjalin, merekatkan tali silaturahmi, persatuan dan kesatuan antar sesama,
dalam kehidupan keluarga, berbangsa dan bernegara.

PO-5 : Po Ma-masiaka (saling menyayangi), Po Pia-piara (saling menjaga), Po Mae-maeaka (saling melindungi), Po Angka-angkataka (saling tolong menolong), Po Binci-binciki kuli (saling tenggang rasa
antar sesama).

Po Ma-masiaka (saling menyayangi) , saling mengasihi dan menyayangi -Arrahman dan arrahim, dimana nilai nilai cinta menjadi landasan utama dalam kehidupan. Allah berfirman bahwa sesungguhnya Allah mencintai orang orang yang berbuat kebajikan (Al imran 138).

Hubungan antara sesama manusia harus dibangun berdasarkan cinta dan kasih sayang.

Kasih sayang menduduki tempat penting karena akan melahirkan kebersamaan dan kenyataan, sebagaimana Rasulullah pernah bersabda, bahwa ketika seseorang mencintai saudaranya maka hendaknya ia menunjukkan kecintaan itu padanya,
karena dengan demikian ikatan dan persahabatan akan lebih baiknya dengannya.

Pada dasarnya sifat kasih sayang adalah fitrah yang dianugerahkan oleh Allah SWT kepada semua mahluk yang bernyawa, Naluri kasihan sayang akan selalu ada pada manusia karena dengan demikian maka manusia akan selalu merasa bersaudara dengan tidak membeda bedakan apa yang baik untuk dirinya dan orang lain.

Po Pia-piara (saling menjaga),saling menjaga hubungan sosial dan silaturahmi.

Imam Jafar as shidiq berkata bahwa takutlah kepada Allah dan jadilah kalian saudara yang saling memelihara, saling mencintai karena Allah, saling bersilaturahmi, saling menyayangi, saling mengunjungi, saling bertemu, dan saling mengingatkan, kemudian hidupkanlah dan peliharalah.

Demikian pula Nabi Muhammad SAW berpesan, barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi (HR Bukhari, Muslim).

Adapun hal hal yang harus diperhatikan dalam saling memelihara antar sesama atau bersilaturahmi adalah :

Pertama, saling mengunjungi dan berkomunikasi, ini dilakukan kepada tetangga orang yang dikenal maupun yang belum dikenal. Melalui kunjungan dan komunikasi akan terjadi hubungan timbal balik yang terawat dimana akan melahirkan suasana kehangatan, baik yang sudah saling mengenal maupun yang akan menciptakan silaturahmi baru berupa sapaan kepada orang yang belum dikenal.

Kedua, saling memberikan yang terbaik kepada sesama sebagai manisfestasi dari pesan bahwa tidaklah beriman seseorang hingga ia mencintai saudaranya, memberikan sesuatu yang dimilikinya kepada orang lain dengan ikhlas.

Ketiga, memaafkan atau saling memaafkan akan suatu perbuatan yang tidak menyenangkan diantara sesama, baik yang disengaja maupun tidak, sehingga silaturahmi tetap terpelihara dengan baik dan berkelanjutan.

Po Mae-maeaka (saling melindungi), saling menjaga martabat dan harga diri.

Rasulullah SAW bersabda,k bahwa jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta, dan janganlah kalian saling mendiamkan, jangan suka mencari cari kesalahan, saling dengki, saling membelakangi serta saling membenci. Dan jadilah kalian hamba hamba Allah yang saling bersaudara, (H.R, Bukhari).

Dari Hadist tersebut diatas bila dilihat dari kaca mata saling menjaga martabat dan harga diri kemanusiaan dalam tatanan hubungan kemasyarakatan, maka didapatkan dua rumusan sebagai garis besar yaitu :

Pertama, bahwa sesama Muslim adalah bersaudara, maka hendaknya saling menjaga martabat dan harga diri sesama saudara yang satu dan yang lainnya, sebagai prinsip dasar untuk menjaga kehormatan diri dan kehormatan orang lain dalam interaksi sosial kemasyarakatan baik dan sehat dalam lingkup yang lebih besar maupun pada lingkup keluarga kecil.

Kedua, hubungan persaudaraan berlandaskan Ukhuwah Islamiyah harus tetap terjaga dalam bingkai aqidah, karena Islam melarang umatnya untuk saling membenci, dengki, memusuhi, mencari cari kesalahan untuk mempermalukan atau membuka aib sesama, dimana hal tersebut dimaksudkan agar persaudaraan tetap terjaga dan terjalin dengan baik dalam tata kehidupan sosial kemasyarakatan.

Po Angka-angkataka (saling tolong menolong), saling menghormati atau bertoleransi.

Salah satu kecenderungan atau kebiasaan orang yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah ingin selalu berbuat baik kepada orang lain, baik yang memiliki hubungan kekerabatan atau pun yang tidak dikenal sama sekali, karena orang
beriman selalu ingin berbuat baik. Karena itu merupakan salah satu cara dalam mensyukuri nikmat yang Allah SWT berikan.

Toleransi berarti menghormati diri orang lain beserta hak azasinya sebagai mahluk sosial dan mahluk Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga rasa toleransi dalam rangka menghargai perbedaan, menjembatani kesenjangan budaya, menolak kezoliman berupa perlakuan yang tidak adil, akan tercapai kebersamaan dan sikap bersama yang timbal balik.

Toleransi adalah kekuatan pemersatu yang tidak bisa dipungkiri keberadaannya berupa kekuatan spiritual dimana perbedaan tersebut menjadi potensi dasar untuk bergerak bersama sebagai konfigurasi untuk mencapai tujuan bersama pula, atau perbedaan sebagai keberagaman yang mempersatukan, bersatu tidak bercampur dan berpisah tidak berantara.

Po Binci-binciki kuli (saling tenggang rasa antar sesama), saling menjaga perasaan dan merawat kebersamaan.

Menjaga perasaan sesama dalam rangka merawat kebersamaan harus diikuti dengan tindakan, bukannya hanya ucapan semata, atau kata yang mampu dipahami oleh sesama. Karena tingkah laku juga berperan dalam proses memahami masing masing individu.

Menjaga ucapan sebagai perwujudan dari kata hati yang paling dalam dan akan melahirkan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, harus berbanding lurus sebagai bukti pernyataan syahadat atau pengakuan sebagai
mahluk Tuhan Yang Maha Kuasa.

Menjaga ucapan memang penting, tetapi menjaga hati dan tingkah laku juga tidak kalah pentingnya.
Ucapan yang menyinggung sesama dengan tindakan yang juga mengganggu perasaan, keduanya akan berpengaruh terhadap hubungan yang telah ada. Sehingga dapat menciptakan kedamaian diantara kedua belah pihak secara harmonis.

Saling menjaga perasaan untuk memperkuat dan merawat kebersamaan antara individu dan antara warga masyarakat.

Pobhinci bhinci ki kuli secara harfiah ditafsirkan, bahwa cubit diri sendiri sebelum mencubit orang lain, dimana terkandung maksud bahwa jangan menyakiti orang lain jika suatu perbuatan dirasa menyakitkan bagi diri sendiri. Sehingga dengan demikian suatu tindakan, perbuatan atau perilaku menjadi prasarat dalam merawat kebersamaan.

PO-5 adalah satu kesatuan yang utuh, tidak dapat diurai secara terpisah dalam pembahasannya, atau dalam memahaminya, serta dalam mengimplementasikannya.

PO-5 menjadi movitasi tersendiri bagi seluruh masyarakat Baubau, spirit yang sangat bernilai dalam melalui masa pandemi yang belum berujung ini.

Dengan PO-5 melawan covid 19 secara bersama-sama, dengan mengedepankan rasa, akhlak yang baik antar sesama.

PO-5 adalah buah pemikiran yang telah tertuang dalam disertasi gelar Doktoral Wali Kota Baubau Dr H AS Tamrin MH, yang selama dua periode Kepemimpinannya terus digaungkan, disosialisasikan.

AS Tamrin membangun kebersamaan, suasana kekeluargaan, kekompakan dengan PO-5. Terkhusus dimasa pandemi, masyarakat tak hanya diajak melindungi diri, melainkan juga orang lain di sekitarnya, dengan penerapan protokol kesehatan pencegahan sebaran covid 19.

Komentar

News Feed