Drs Ma’ruf MPd
Kasamea.com
Universitas Muhammadiyah Buton (UM Buton) sampai saat ini belum menggelar vaksinasi di lingkungan kampus UM Buton. Kepala Biro UM Buton, Ma’ruf, membenarkan hal itu.
Maruf mengatakan, vaksinasi di lingkungan kampus UM Buton sudah diwacanakan, namun belum ada penetapan jadwal pelaksanaan. Juga belum diputuskan dalam rapat resmi Rektorat.
Terkait pelaksanaan vaksinasi di lingkungan kampus UM Buton, Ma’ruf mengaku telah disampaikan oleh Rektor UM Buton. Bahwa akan dilaksanakan vaksinasi di lingkungan kampus UM Buton. Rektor UM Buton akan bermohon untuk pelaksanaan vaksinasi di kampus UM Buton.
Ma’ruf menegaskan, bila telah diterbitkan surat keputusan Rektor tentang pelaksanaan vaksinasi di lingkungan kampus UM Buton, maka seluruh dosen dan karyawan wajib untuk mengikuti.
“Semua diwajibkan untuk vaksin ketika turun surat itu. Baru-baru ini hanya himbauan agar mengikuti vaksinasi massal. Tetapi nanti ini adalah sudah menjadi keharusan untuk disuntik vaksin bagi yang memenuhi syarat,” jelasnya.
Meskipun belum melaksanakan vaksinasi di lingkungan kampus UM Buton, namun Ma’ruf memastikan, banyak dosen juga karyawan yang telah disuntik vaksin. Khususnya mengikuti vaksinasi di Polres Baubau.
Belum lama ini, lanjut Ma’ruf, Polres Buton juga melayangkan surat terkait kerjasama dalam melaksanakan vaksinasi, Sabtu 26 Juni 2021. Namun, para dosen UM Buton banyak yang mengikuti vaksinasi di Polres Baubau.
Ma’ruf sempat menyinggung tentang penyebab seseorang tidak dapat disuntik vaksin karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan.
“Karena itu juga harus diperiksa kondisi kesehatan masing-masing. Kan saya dengar disini banyak yang kolesterol, asam urat. Saya sendiri ini mana tekanan darah sering naik, asam urat tinggi, jadi saya sendiri belum juga vaksinasi,” ungkapnya.
Ma’ruf menambahkan, dirinya siap divaksin bila kondisi kesehatan memungkinkan, dan bila dinyatakan tidak apa-apa. Ia pun menunggu pelaksanaan vaksinasi dilingkungan kampus UM Buton.
“Kalau sudah ada ya saya siap untuk vaksinasi, kalau mengatakan tidak apa-apa, saya siap vaksinasi. Karena saya kan asam uratku tinggi, terkadang tekanan darah naik, jadi percuma kita pergi kalau tidak mau divaksin. Yang juga saya tanyakan adalah riwayat lambung, apakah bisa atau tidak,” kata Ma’ruf.
Ma’ruf kembali memastikan, bahwa UM Buton sudah pernah menggelar rapat tentang himbauan untuk mengikuti vaksinasi massal. Untuk pelaksanaan vaksinasi di lingkungan kampus UM Buton baru diwacanakan, belum ada penetapan jadwal.
Di kampus UM Buton sendiri, lanjut Ma’ruf, juga ada Satgas Covid-19, nantinya, Satgas Covid-19 UM Buton yang akan mengkoordinasikan bila akan diaksanakan vaksinasi di lingkungan kampus UM Buton.
Ma’ruf menyatakan vaksinasi belum bisa dikatakan diwajibkan di internal kampus UM Buton, hanya saja di internal UM Buton sudah dihimbau oleh pimpinan, kepada seluruh dosen dan karyawan, melalui rapat dan pengumuman melalui surat resmi, tentang pentingnya vaksinasi.
Ma’ruf mengungkapkan adanya pernyataan resmi dari Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof KH Haedar Nashir tentang kewajiban mengikuti vaksinasi.
Pihak UM Buton sendiri kata Ma’ruf, banyak yang sudah megikuti vaksinasi. Sedangkan yang belum mengikuti vaksinasi, hanya yang memiliki riwayat penyakit, yang masih ragu.
“Anak saya vaksin di Polres Baubau, walaupun saya belum vaksin karena asam urat. Katanya asam urat berbahaya, nanti dia hantam otot-otot. Ada yang pergi kolesterolnya tinggi tidak divaksin,” jelas Ma’ruf.
Ma’ruf menyebutkan, jumlah dosen dan karyawan di UM Buton kurang lebih 300 orang. Mahasiswa berjumlah kurang lebih 6000 orang.
Jauh sebelumnya, Rabu (3/3/21), Ketua Umum PP Muhammadiyah KH Haedar Nashir bersama sang Istri yang juga Ketua Umum PP Aisyiyah Siti Noordjanah Djohantini telah menjalani vaksinasi.
Haedar Nashir mengajak seluruh keluarga besar Muhammadiyah dan warga bangsa untuk mengikuti program vaksinasi covid-19.
Dilansir dari Bisnis.com, vaksinasi menurut Haedar Nashir, merupakan bagian dari ikhtiar sebagai manusia yang berdasarkan ilmu pengetahuan dijamin sebagai usaha untuk mengatasi wabah covid-19.
Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) bahkan telah mengundang para ahli untuk mengkaji vaksin covid-19 produksi sinovac dari sisi keilmuan, kesehatan, maupun agama. Didukung dengan izin Badan Pengawas Obat dan Makanan tentang keamanan vaksin dan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menjamin halalnya vaksin, maka PP Muhammadiyah mengajak segenap warga persyarikatan untuk mengikuti program vaksinasi.
Haedar Nashir juga sangat prihatin dengan adanya pihak-pihak yang anti covid-19 dan anti vaksin. Yang justru memperburuk penyebaran dan penanganan covid-19. Menurutnya, ini adalah perilaku yang tidak bertanggungjawab (dilansir dari TRIBUNNEWS.COM).
[Red]









Komentar