Yuhandri Tlah Pergi, Sang Suluh Wartawan

“Saat-saat ini semua rasa yang terdalam akan ditumpahkan mengiring kepergianmu”.

“Saat-saat ini walau dirimu tiada namun semangatmu kan tetap terus terjaga”.

“Cukup sudah kehilangan yang dirasa satu lagi permata hati telah kembali ke sangkar yang abadi”.

Tiga baris kalimat tersebut adalah penggalan lirik lagu yang dinyanyikan Hengky Supit era 90an, yang berjudul “Kembali ke sangkar abadi”. Lirik tersebut secara spontan melintas dalam benak dan menggerakan jemari untuk me-maktub-kannya dalam tulisan singkat ini. Menumpahkan rasa sesak dalam dada.

Lagu tersebut masih melekat dalam memory karena sering kali saya/kami nyanyikan saat kehilangan teman karib pada medio ’99. Yang kemudian lagu tersebut acapkali terngiang saat kehilangan sosok karib terjadi dan terjadi kembali.

Terkiaskan oleh Al Farabi bahwa satu hal baik tentang musik, ketika musik menyentuhmu, kamu tidak akan merasakan sakit. Alphonse de Lamartine mengungkapkan bahwa musik adalah sastra hati, ia dimulai ditempat ucapan berakhir.

Selamat jalan saudaraku

 

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dia tlah pergi, Yuhandri Hardiman, satu teman karib, guru, inspirator, lelaki yang sering berbagi manfaat terbaiknya kepada sesama. Bahkan hingga dengan hal terkecil melalui ungkapan kata-katanya yang lembut, yang terkadang terselip sastrawi.

Wahai sang suluh, perhatianmu pada teman sejawat kini tersisa kenangan.

Seakan waktu terhenti seketika, ada keterkejutan, serasa tidak percaya, hampa, menetes air dimata, luapan kesedihan yang tak terperih. Berbagai ekspresi terkuak saat mendengar/membaca kabar dia telah berpulang ke sisi Ilahi. Semoga Allah SWT menempatkan Almarhum di jannah-Nya.

Insan Pers berbelasungkawa mendalam, Yuhandri Hardiman, Wartawan senior yang sejak belasan tahun lalu saya kenal sebagai figur teladan, khususnya bagi banyak generasi pewarta di Kota Baubau – wilayah Kepulauan Buton. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan personal, tetapi juga kehilangan intelektual dan tokoh bagi komunitas media, yang selama ini menjadikan integritas sebagai kompas dalam menjalankan profesi.

Almarhum akrab disapa Dandi, Sekretaris Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Baubau. Ia jugalah yang diawal-awal mengenalkan dunia Pers kepada saya, bersama beberapa guru lainnya, sejak pertama kali saya menulis berita untuk tayang di media Surat Kabar Harian Baubau Post, belasan tahun lalu. Kemudian dalam menjalankan profesi yang terus bergulir dengan dinamikanya, kami pun bersama-sama mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Muda, Madya, hingga Utama.

Meskipun telah terpisah media Pers, Dandi dengan tribunbuton.com dan saya mendirikan Kasamea.com, namun naluri jurnalisme terus menggeliat dalam bingkai kebersahajaan, tanpa terhenti terus belajar memaknai makna.

Dalam lintasan panjang dedikasinya, Dandi dikenal konsisten menjaga nilai-nilai dasar jurnalistik: independensi, akurasi, keberimbangan, serta keberanian menyampaikan kebenaran ditengah tekanan kepentingan. Di tengah perubahan lanskap media yang semakin kompleks, Ia tetap berdiri tegak, mempertahankan kehormatan profesi dengan sikap elegan, berwibawa, dan berakar pada etika.

Wahai sang suluh, mengenalmu banyak pelajaran berharga yang saya petik dalam rentang waktu yang terlewati.

Bagi banyak Jurnalis, Dandi bukan hanya rekan kerja, melainkan mentor yang membimbing dengan keteladanan, bukan sekadar nasihat. Konsistensi sikapnya menjadi bukti bahwa integritas bukan retorika, melainkan pilihan hidup yang dijaga dengan disiplin moral. Ketika sebagian pihak tergoda kompromi pragmatis, ia justru menegaskan bahwa profesionalisme sejati hanya dapat tumbuh dari keberanian menjaga etika di atas kepentingan sesaat.

Konsep the Fourth Estate menempatkan Pers sebagai pilar keempat demokrasi, yang menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan terhadap kekuasaan negara. Gagasan yang berakar dari pemikiran Edmund Burke ini, memposisikan media sejajar dengan tiga cabang kekuasaan dalam prinsip Trias Politica; eksekutif, legislatif, dan yudikatif, sebagai mekanisme checks and balances dalam sistem politik modern.

Menurut Denis McQuail, Pers berperan sebagai watchdog demokrasi, yang memastikan informasi publik tersaji akurat, berimbang, dan independen, sekaligus membuka ruang partisipasi warga. Dalam fungsi ini, Pers menjadi instrumen strategis untuk menjaga akuntabilitas kekuasaan, agar tetap berpihak pada kepentingan masyarakat.

Dimata rekan dan kolega, Dandi dikenal ramah, baik hati, namun tajam dalam analisis. Ia mampu memetakan persoalan secara komprehensif, menghadirkan perspektif yang jernih, serta membuka ruang dialog konstruktif. Terkhusus dalam bidang kewirausahaan, beberapa bisnis yang belakangan Ia geluti hingga mengecap capaian yang menginspirasi banyak orang, termasuk rekan Wartawan/Jurnalis sendiri.

Ketajaman berpikirnya selalu berpadu dengan kebijaksanaan sikap. Kehadirannya dalam forum diskusi selalu membawa kesejukan intelektual, sesekali dalam suasana canda ceria. Perjalanan profesional beberapa rekan sejawat juga tidak lepas dari pengaruh pemikiran dan sikap tindakan Almarhum.

Dalam relasi kemitraan strategis dengan berbagai lembaga, Dandi menunjukkan bahwa profesionalitas tidak harus mengorbankan independensi. Ia menempatkan transparansi dan akuntabilitas sebagai fondasi utama kerja sama media, sehingga kepercayaan publik tetap terjaga sebagai modal utama keberlangsungan Pers.

Bagi ekosistem industri media di negeri Sara Patanguna, sosoknya merupakan bagian dari generasi yang merintis tradisi jurnalisme berkualitas, ditengah dinamika bisnis yang terus berubah.

Ratusan sobat dan kerabat menghantarkanmu ke peristirahatan terakhir. Doa dan penghormatan mengalir dari berbagai kalangan. Mereka yang mengenalmu sebagai pribadi terbuka, namun tetap teguh menjaga independensi sebagai prinsip yang tidak dapat ditawar.

Semangat perjuangan engkau wariskan, untuk menjaga integritas, merawat profesionalisme, serta memastikan Pers tetap berdiri sebagai pilar demokrasi yang berkeadaban.

Wahai sang suluh, kepergianmu menjadi pengingat bahwa profesi mulia seorang Wartawan adalah amanah etik yang besar.

Selamat jalan saudaraku. Kesan dan pesan bijak yang pernah engkau hadirkan, akan menjadi suluh kehidupan, hingga kaki menapak kembali keharibaan-Nya. Jejak karyamu tetap membekas, menyuap makna Pers yang tak akan pernah mati.

 

Catatan LM. Irfan Mihzan

(Redaksi)

Komentar