Baubau
Mewujudkan Baubau sebagai Kota Budaya yang Ramah, Cerdas, dan Sejahtera, adalah sebuah Visi besar yang digagas Walikota Baubau, H Yusran Fahim dan Wakil Walikota Baubau, Wa Ode Hamsinah Bolu. Mimpi besar ini tentu juga menjadi harapan seluruh masyarakat Kota Baubau, yang sekian lama mendambakan perubahan akan Kota Baubau yang lebih baik.
Visi tersebut harus bisa diterjemahkan oleh seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kota Baubau. Khususnya para pejabat yang menduduki posisi-posisi strategis. Seperti diketahui bersama, sejak awal memimpin, Yusran-Hamsinah, telah menanamkan spirit “Kerja Bersama” kepada seluruh aparatur-nya, dan tanpa terkecuali kepada seluruh stakeholder pembangunan, serta seluruh masyarakat Kota Baubau.

Lantas bagaimana para Kepala OPD mengkoordinasikan jajarannya, agar dapat menerjemahkan Visi HYF-WHB tersebut?.

Berikut potongan wawancara Pemimpin Redaksi (Pemred) Kasamea.com dengan salah satu Kepala OPD, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Baubau, Eko Prasetya.
Pemred Kasamea.com:
“Bagaimana Disdikbud menerjemahkan visi besar pak Wali-ibu Wawali, terutama kedalam ruang-ruang kelas satuan pendidikan yang dinaungi Disdikbud ?”
Kepala Disdikbud:
“Terima kasih. Betul sekali, visi Bapak Walikota dan Ibu Wakil Walikota, meletakkan Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pondasi utama pembangunan,” bukanya.
Disdikbud menerjemahkannya dalam tiga strategi besar:
Pertama, Akses dan Kualitas yang Merata (Aspek Cerdas & Sejahtera).
“Kami memastikan tidak boleh ada ketimpangan kualitas antara sekolah ditengah kota dengan yang di wilayah pinggiran. Kebijakan kami fokus pada pemerataan infrastruktur digital dan peningkatan kompetensi guru secara menyeluruh,” ulasnya.
Kesejahteraan guru diperhatikan, dan beban biaya pendidikan bagi masyarakat diringankan, agar ‘Sejahtera’ itu benar-benar dirasakan oleh warga sekolah.
Kedua, Penguatan Identitas (Aspek Budaya & Bermartabat).
Baubau punya modal sosial luar biasa yaitu falsafah Buton. Tugas kami adalah mewariskan nilai ini agar tidak hilang. Strateginya adalah adaptasi zaman.
“Kami tidak ingin budaya hanya jadi tontonan, tapi tuntunan. Kami dukung inovasi—sebagai contoh kecil, kami punya inisiatif seperti Galangi Reborn untuk membangkitkan semangat gotong royong, atau pendekatan visual sejarah lewat film Bola Pinoama,” ulasnya.
“Tapi payung besarnya adalah Kurikulum Berbasis Kearifan Lokal yang terintegrasi,” tambahnya.
Ketiga, Lingkungan Belajar yang Positif (Aspek Ramah).
Sekolah di Baubau harus menjadi tempat paling aman dan nyaman. Sesuai arahan Pimpinan, kami tegas menolak segala bentuk perundungan (bullying) dan intoleransi.
“Kami membangun sistem pencegahan yang melibatkan siswa secara aktif, contoh sederhananya lewat aktivitas positif seperti Gerakan Pebula di sekolah-sekolah. Tujuannya satu: menciptakan lulusan yang tidak hanya cerdas otaknya, tapi juga santun perilakunya,” jelasnya.
Pemred Kasamea.com:
“Jadi pendekatannya sangat holistik ya Pak Kadis?!, dari kesejahteraan, kurikulum, sampai lingkungan sosialnya”.
Kepala Disdikbud:
“Benar. Karena target Bapak Walikota dan Ibu Wakil Walikota bukan sekadar angka kelulusan, tapi Pembangunan Manusia. Kami ingin anak-anak Baubau tahun 2025 ini siap bersaing di level global, tanpa pernah lupa ‘jalan pulang’ ke akar budayanya yang bermartabat,” pungkas Eko Prasetya, tetap penuh semangat, yang menjadi karakternya.
(Redaksi)









Komentar