Kol CZI (Purn) H Saidoe
Catatan LM Irfan Mihzan
Kasamea.com
Berkharisma, penuh wibawa, dengan senyum khas. Kesan ramah terpancar dari Tokoh Pemekaran Kabupaten Buton, melahirkan Kota Baubau ini. Kol CZI (Purn) TNI H Saidoe, mantan Bupati Buton, yang menjabat 1991 – 1996, 1996 – 2001.
Sekitar tiga tahun lalu saya pernah berkunjung di kediamannya di Kelurahan Wajo Kecamatan Murhum Kota Baubau. Saat itu tujuan saya sama dengan kunjungan saat ini. Apalagi kalau bukan melakukan wawancara. Mendengarkan kilas pandangan, pendapat Tokoh Senjor Buton ini tentang kondisi terkini Negeri Khalifatul Khamis. Terkhusus tentang Pemekaran Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), pembentukan daerah otonomi baru, Provinsi Kepuluan Buton (Kepton).
Pak Saidoe, begitu Ia akrab disapa, mengaku sudah kurang bepergian, berkunjung ke pelosok Negeri eks Kesultanan Buton, yang dahulu dimasa Kepemimpinannya sebagai Bupati Buton, masih sangat luas wilayah cakupannya. Namun begitu, Ia masih aktif memantau perkembangan informasi, baik dari media massa, maupun media sosial.
Rupanya Pak Saidoe sangat mengapresiasi adanya inisiasi gerakan Pemuda enam wilayah cakupan (Baubau, Buton, Buton Utara, Wakatobi, Buton Selatan, Buton Tengah), yang melebur satu dalam Gerakan Masyarakat Kepulauan Buton Nusantara (GERAM KEPTON). Tanpa tendensi politik kepentingan elit, figur atau kelompok tertentu, Generasi muda yang hendak ikut berkontribusi, mendedikasikan diri dalam upaya mendorong percepatan terbentuknya Provinsi Kepton.
Menurutnya kehadiran pergerakan Pemuda (GERAM KEPTON) sangat diharapkan, dinantikan. Sebagai wadah bersatunya seluruh elemen masyarakat Kepton, terlebih dalam pergerakan yang dilandasi niat tulus untuk kebaikan dan kemajuan Negeri.
Pak Saidoe dikenal tegas namun bijak dalam Kepemimpinannya. Memperjuangkan Provinsi Kepton, Ia menitip pesan kepada GERAM KEPTON agar mengedepankan persatuan dan kesatuan, musyawarah mufakat, tanpa perdebatan yang saling menjatuhkan. Apalagi merasa benar dan ingin menang sendiri. Lepaskan ego individu, kelompok, demi kepentingan bersama seluruh masyarakat Kepton.
“Bersatulah untuk mewujudkan Provinsi Kepton. Kedepankan falsafah kita Buton, junjung tinggi Sara Pataanguna,” pesannya.
Menyinggung Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) di wilayah cakupan Provinsi Kepton, Pak Saidoe menilai terjadi perkembangan, kemajuan yang signifikan dalam pembangunan, perekonomian. Sehingga Ia meyakini sangat memadai untuk lahirnya satu daerah otonom, Provinsi Kepton.
Pak Saidoe juga mengungkapkan, wilayah cakupan Provinsi Kepton adalah eks Kesultanan Buton yang dalam peradabannya pernah tercatat masa kejayaan, serta berjalannya sistem Pemerintahan. Banyak bukti otentik, peninggalan eksistensi Kesultanan Buton sebagai pusat Pemerintahan.
Ada Masjid, yang menandai bahwa di Negeri ini pernah berjalan kehidupan Keagamaan. Peninggalan tiang bendera (Kasulana Tombi) menandai simbol eksistensi Pemerintahan, Batu Popaua tempat sakral pelantikan Sultan. Peninggalan Istana, tak luput Benteng luas yang masih berdiri kokoh hingga saat ini. Serta banyak aspek pendukung lainnya, yang cukup untuk menjadi alasan serta landasan lahirnya Provinsi Kepton.
“Kita berikhtiar sambil terus berdoa kepada Allah Subhanahwataala. Allah sudah ada skenarionya, bahwa ini akan menjadi ini. Saya kira begitu juga dengan Kepton,” ucapnya.
Seperti diketahui bersama, faktanya usulan pembentukan Provinsi Kepton sudah berlangsung lama. Pak Saidoe menganggap, bahwa dalam setiap perjuangan terdapat pula kendala-kendala yang harus dihadapi dengan kebesaran jiwa, keteguhan pendirian, konsistensi. Seperti yang dilakukan GERAM KEPTON saat ini, melahirkan solusi untuk menghadapi kendala-kendala yang ada, dalam upaya mendorong percepatan tebentuknya Provinsi Kepton.
Sejak 2001 Ia pensiun, hingga saat ini Saidoe lebih banyak mengabiskan waktu bersama keluarga. Selama aktif ber- Dinas, sebagian besar waktu tenaga dan pikirannya tercurah sepenuhnya untuk pengabdian kepada Bangsa dan Negara. (***)















Komentar